BERBAGI
Foto WN : Bakal Calon Gubernur Jateng Sudirman Said memberikan pembekalan organisasi kepada para koordinator relawan dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah, Minggu (22/10) di Prambanan, Klaten.

KLATEN, Warta Nasional – Seiring perkembangan kemajuan dinamika Politik di tanah air, tidak bisa politik itu dibiarkan kotor selamanya. Harus ada orang-orang baik yang membersihkannya agar politik memberi manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan kemajuan dan kesejahteraan bersama.

“Politik harus dikembalikan kepada hakikat dan makna politik itu sendiri. Yakni setiap usaha manusia untuk memperbaiki keadaan guna mencapai keselamatan dunia dan akhirat,” kata Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said pada acara Pembekalan Organisasi untuk para relawan Sudirman Said, di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (22/10/2017)

Sudirman mengungkapkan, Politik yang koruptif diisi orang bermasalah dan mengorbankan rakyat banyak.  Yang dirugikan rakyat paling bawah yang jumlahnya banyak.

“Itulah yang dilakukan para pendiri bangsa. Mereka terjun ke dunia politik untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan,” kata Sudirman, yang juga bakal calon gubernur Jateng.

Lanjut Sudirman, Setelah merdeka, mereka berjuang memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Untuk itu masyarakat kita terutama di Jateng agar tetap mendapatkan keadilan sosial yang tepat,” ujarnya.

Ditambahkan Sudirman, persoalan keadilan sosial kini menjadi tantangan besar bagi upaya memajukan kehidupan bangsa. Makin hari terasa banyak ketimpangan di sana-sini.

“Karena itu perlu solusi permanen guna mewujudkan keadilan sosial, yang sejatinya merupakan tujuan akhir bernegara,” imbuh Mantan Menteri ESDM itu.

Sudirman menyampaikan, solusi permanen untuk persoalan keadilan sosial adalah, pertama,  kepemimpinan yang bersih dan kompeten. Memiliki keberpihakan pada rakyat, tidak mudah dibeli oleh kekuatan modal, baik asing maupun dalam negeri. Serta mampu melindungi kelompok paling tidak berdaya dan menjaga jalannya elit untuk tidak destruktif (merusak).

“Selain itu juga harus memiliki kompetensi yang diperlukan untuk mengatasi beragam persoalan yang muncul, mampu menggerakan perubahan untuk kebaikan bersama,” imbuh Sudirman.

Solusi kedua adalah penegakkan hukum tanpa pandang bulu. Hukum tidak boleh tajam ke bawah tumpul ke atas. Kalau rakyat atau orang kecil melanggar hukum terasa begitu perkasa. Tetapi jika elit  yang melanggar hukum terasa lemah tidak berdaya.

“Di hadapan elit hukum seolah menjadi seperti barang mainan. Mereka yang sudah ditetapkan sebagai tersangka bisa berakrobat supaya lepas dari jerat hukum,” kata dia lagi.

Ketiga, pemberantasan korupsi. Korupsi membuat pembangunan terhambat. Membuat rakyat kecil sengsara. Karena itu penguatan lembaga pemberantasan korupsi menjadi keniscayaan. Bukan sebaliknya malah dilemahkan, dan aparatnya diteror dengan tindakan-tindakan keji tidak berperikemanusiaan.

Sudriman menandaskan, Indonesia umumnya dan Jateng khususnya, harus dibangun menggunakan tangan-tangan bersih, agar slogan ora korupsi, ora ngapusi  benar-benar terlaksana, tidak berhenti sebagai kata-kata semata.

Dan solusi keempat adalah membangun kehidupan politik yang berkeadaban. Politik dengan tujuan melayani, bukan menghalalkan segala cara untuk tujuan pribadi dan kelompok.

“Politik berharkat mulainya bukan dari logistik, tetapi dari idealisme, gagasan yang dipadu dengan semangat juang untuk mewujudkannya,” pungkaanya. (WN-001/IH)

Editor : Annisa