BERBAGI
Ilustrasi

JAKARTA, Warta Nasional — Ratusan warga Kampung Pemulung, Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat, terdiagnosa mengalami penyakit gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berdasarkan laporan kegiatan pengobatan gratis yang digelar organisasi sosial Rotary Club Jakarta Metropolitan, Sabtu (25/11) pagi.

“Jenis penyakit yang paling dominan diderita masyarakat Kampung Pemulung ini adalah gangguan saluran pernafasan seperti asma, TBC, batuk dan pilek,” kata Ketua Panitia Medical Fair,  Inne Ongkodjoyo.

Kegiatan bertajuk Social Medical Fair ke-5 itu digelar di lingkungan `Sekolah Kami` yang berdomisili di Jalan Bintarajaya Dalam RT03/RW09, Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat, dalam rangkaian peringatan Hari AIDS Sedunia 2017.

“Sesuai dengan misi dan visi kami dalam kegiatan Medical Fair, kami berharap melalui kegiatan ini kami dapat membantu terciptanya lingkungan yang sehat dan kondusif bagi masyarakat sekitar,? katanya.

Presiden Rotary Club Jakarta Metropolitan, Shanti Poesposoetjipto mengatakan Medical Fair kali ini merupakan kelanjutan dari seri Medical Fair yang telah dilakukan oleh Rotary Club Jakarta Metropolitan sejak 2015 di Pertukangan Kampung Joglo, Jakarta Selatan.

“Di Kampung Pemulung Bintara Bekasi ini ada sekitar 300-400 pasien potensial yang bisa diajak berperilaku sehat,” katanya.

Selain mengajak masyarakat untuk berperilaku sehat, kata dia, tujuan dari Medical Fair kali ini adalah untuk mengedukasi warga sekitar akan bahayanya HIV dan AIDS.

District Governor D3410 Sumantoro Radjiman mengatakan Rotary terbuka kegiatan untuk siapa pun masyarakat tanpa memandang ras, agama, ataupun jenis kelamin.

“Rotary Club Jakarta Metropolitan sesuai dengan komitmen dan kepeduliannya terhadap komunitas lokal, selain aktif mengadakan workshop dan pelatihan untuk kepentingan masyarakat, juga banyak menggelar kegiatan sosial di bidang kesehatan, kebersihan lingkungan, serta pemberian beasiswa, dan pelatihan character building, dan lain-lain,” katanya.

Kegiatan ini juga turut didukung oleh Yayasan Kasih Suwitno, Dinas Kesehatan Pemkot Bekasi, RS Hermina, dan ibu-ibu Lingkungan Agustinus.

Kepala Sekolah dan Penggalang Program Sekolah nonprofit, Sekolah Kami, Irina Amongpradja, mengatakan sekolah tersebut selain menyediakan pendidikan gratis untuk anak pemulung, juga membantu proses warga yang tidak memiliki identitas kependudukan.

“Persoalan utama masyarakat di sini adalah ketiadaan akses kesehatan dan pendidikan melalui program pemerintah karena mereka kaum marjinal yang menempati lahan sengketa sehingga sulit memproses dokumen kependudukan seperti kartu keluarga, Kartu Tanda Penduduk dan dan akta kelahiran,” katanya.

Menurut dia, akses kesehatan merupakan barang mewah di tengah keterbatasan ekonomi warga setempat.

“Dengan adanya kegiatan ini, setidaknya mereka mendapatkan pemeriksaan dan juga informasi kesehatan yang relevan,” katanya.

Peserta Medical Fair kali ini menyasar pemeriksaan kesehatan umum, tes rontgen, tes darah, tes gula darah, USG, juga diberikan penyuluhan interaktif perihal HIV dan AIDS, serta penyuluhan mengenai kebersihan.

“Diharapkan penyuluhan ini dapat memperluas wawasan warga mengenai bahayanya penularan penyakit kritis, terutama penyakit kelamin,” katanya. (Ant)