BERBAGI
Ferry Firmawan, Anggota Komisi B di DPRD Provinsi Jateng. (Foto WN)

SEMARANG, Warta Nasional — Kebijakan impor beras yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat di awal tahun 2018 menuai banyak kritik, salah satu kritik disampaikan oleh Ferry Firmawan, Anggota Komisi B di DPRD Provinsi Jateng.

“Kebijakan impor beras akan merugikan petani,” kata Ferry Firmawan kepada wartanasional.com di Semarang, Rabu (17/01/2018)

Ferry mengemukakan, Kritik impor beras ini berawal dari pernyataan menteri perdagangan, Enggartiasto Lukita yang mengumumkan rencana impor beras tahun ini, dengan alasan untuk mengatasi kelangkaan stok beras.

“Padahal sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, mengatakan bahwa stok beras dalam negeri cukup,” ungkap anggota Politisi Partai Demokrat Jateng itu.

Lanjut Ferry menjelaskan, petani Jawa Tengah telah melakukan penanaman padi pada bulan November hingga Desember 2017, sehingga perkiraan musim panen di Jawa Tengah terjadi pada Februari hingga Maret.

“Jika impor beras dilaksanakan pada bulan Februari maka dipastikan harga padi akan turun drastis, dan akan menyebabkan petani merugi,” jelas Ketua HIPMI Jateng itu.

Ferry menambahkan, Pernyataan Mentan yang mengatakan stok beras cukup, menandakan bahwa keadaan stok beras nasional memang cukup. Selain itu, jenis impor beras premium menandakan bahwa kebijakan yang dilakukan oleh kementerian perdagangan adalah untuk berpihak pada kelompok ekonomi terntentu dan mengabaikan kepentingan petani.

Sementara itu, fakta dilalapangan menunjukan stok beras di jawa tengah mencukupi seperti yang diuangkapkan oleh Kepala Sub Divisi Bulog Banyumas Setio Wastono bahwa Stok beras di wilayah eks karsidenan banyumas cukup sampai dengan 4 bulan kedepan.

Berdasarkan kondisi tersebut Ferry, meminta agar impor beras dibatalkan karena akan merugikan petani, sebab ketika Pemerintah melakukan impor beras akan membuat harga padi jatuh.

“Saya tidak sepakat dengan kebijakan impor beras 500 ribu ton karna akan membuat petani semakin miskin, padahal penduduk jawa tengah paling banyak berprofesi sebagai petani, pungkasnya. (WN-015)

Editor : Annisa