BERBAGI
Dr. Aji Sofanudin,Pengurus Majelis Wilayah KAHMI Jawa Tengah, Foto: Istimewa

SOLO, Warta Nasional — Pepatah Jawa mengatakan “urip iku urup” bermakna “hidup adalah hidup”. Urip artinya hidup, sementara urup bisa mengandung arti: hidup, menyala, bergerak, atau berubah. Jika tdk “urup” (perubahan) maka sesungguhnya kita tidak hidup.

Bagi saya hidup adalah soal cita-cita. Kalau tidak punya cita-cita maka kita tidak hidup. Cita-diri masing-masing orang tentu berbeda. Inilah yang menyebabkan hidup menjadi dinamis, bikin hidup jadi lebih hidup atau urip iku urup.

Bagi yang mencita-citakan ramainya sholat jamaah, maka hidupnya mengajak orang selalu berjamaah. Contohnya sudah ada, konon di Masjid Jogokariyan Jogja, jamaah sholat shubuhnya mirip sholat jumat, membludak.

Bagi yang bercita-cita hafidz Qur’an, maka seluruh hidupnya ditujukan untuk Qur’an. Mengajak keluarga, tetangga dan teman-temannya untuk selalu dekat dengan Quran. Hafal Quran menjadi barometer kesuksesan hidupnya.

Demikian pula yang bercita-cita dan mengidolakan sedekah. Ia akan menjadi obat segala penyakit. Dengan sedekah rumus matematika berubah 10 kurang 1 bukan lagi 9, tetapi menjadi 19. Karena dengan  sedekah ia akan bertambah, tambah, dan tambah minimal 10 kali lipat. Itu sudah ada contohnya, misal Ustadz YM.

Bagi yang mencita-citakan persatuan Indonesia. Ia akan mengorbankan seluruh hidupnya demi terwujudnya cita-cita itu. Contohnya sudah ada, sang Proklamator, Ir Soekarno.

Bagi yang mencita-citakan mainstreaming musik dangdut. Maka, ia sukses menjadi Raja Dangdut, tapi belum tentu sukses menjadi ketua partai. Contohnya Bang Haji Rhoma Irama.

Bagi yang bercita-cita menghubungkan Indonesia dengan pesawat udara. Maka itu ada N-250, ada Prof BJ Habibie yang selalu setia dengan istrinya Ibu Ainun.

Dan masih bnyk contoh-contoh yangg lain. Sesama anak bangsa dengan cita-cita tak sama, akan bagus saling kolaborasi. Bukan saling menjegal, saling tendang disebut. Mengedepankan persamaan bukan perbedaan.

Konon, 19 Partai politik (15 nasional dan 4 lokal) memiliki perbedaan cita2. Antara satu partai dengan yang lain, memiliki cita2 yang tidak sama. Demikian juga soal Pilkada dan Pilpres, calon satu dengan yang lain juga tak sama. Cita-cita untuk membangun bangsa dan negara dengan strategi yang berbeda.

Kalau ada anak bangsa yang mencita-citakan khilafah, mengganti ideologi negara tersebut tentu ini sangat berbahaya. Sama berbahayanya dengan yang mencita-citakan Revolusi Mental, yang entah kemana arah revolusi itu. Wallahu’alam.

Oleh : Dr. Aji Sofanudin, (Pengurus Majelis Wilayah KAHMI Jawa Tengah)