BERBAGI

TERNATE, Warta Nasional — Warga Ternate, Maluku Utara (Malut) masih mempertahankan sejumlah tradisi saat melakukan pendakian Gunung Gamalama, sebagai bentuk komitmen dalam upaya melestarikan kearifan lokal warisan leluhur, salah satunya prosesi membaca doa kere fere.

“Warga dari luar Ternate, termasuk wisatawan mancanegara yang melakukan pendakian di Gunung Gamalama juga selalu berusaha mematuhi tradisi itu,”kata salah seorang tokoh masyarakat Ternate, Jafar Noho di Ternate, Kamis (2/8/2018)

Jafar Noho mengatakan, jumlah orang dalam satu kelompok yang akan melakukan pendakian harus genap, misalnya empat orang atau enam orang, karena kalau jumlahnya ganjil sesuai ketentuan yang diwariskan para leluhur dikhawatirkan salah seorang di antaranya akan mendapat celaka.

“Saat melakukan pendakian di gunung api yang masih aktif itu adalah tidak boleh membawa minuman keras dan dilarang mengucapkan kata-kata kotor,” ujarnya.

Menurut dia, saat berada di puncak Gunung Gamalama juga tidak boleh kencing sembarang tempat, terutama didekat kompleks kuburan tua yang selama ini diyakini sebagai kuburan para wali yang menyebarkan Islam di wilayah Malut.

“Perjalanan atau terjatuh diduga karena mereka melanggar tradisi tersebut, bahkan kalau Gunung Gamalama tiba-tiba erupsi juga sering dikaitkan dengan adanya perilaku para pendaki yang tidak sesuai dengan tuntunan yang diwariskan para leluhur,” jelasnya.

Selain itu, Jafar Noho menambahkan, di puncak Gunung Gamalama juga ada mata air di celah batu yang dikenal dengan nama mata air abdas yang airnya dipercaya warga setempat sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit dalam.

“Gunung Gamalama merupakan salah satu objek wisata yang terus dipromosikan Pemkot Ternate, karena gunung ini menawarkan pemandangan indah berupah hamparan perkebunan cengkih dan pala serta keindahan Pulau Tidore dan Halmahera saat berada dipuncaknya,” pungkasnya.(WN-02)

Editor: Anisah