BERBAGI
Undiksha

SINGARAJA, Warta Nasional – Undiksha Singaraja menyurati Badan Kepegawaian Daerah (BKD) se-Provinsi Bali untuk meminta penjelasan tentang persyaratan melampirkan sertifikat akreditasi program studi dengan nilai minimal B untuk pelamar CPNS tahun 2018.

Wakil Rektor II Undiksha Prof Dr Wayan Lasmawan MPd di Singaraja, Buleleng, Bali, Rabu, mengatakan surat tertanggal 2 Oktober 2018 itu mengaitkan calon pelamar CPNS dengan prodi terakreditasi dalam Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan/atau Pusdiknakes/LAM-PTKes pada saat kelulusan.

“Kenyataannya, di lapangan terjadi perbedaan pemahaman oleh lembaga atau pun penyelenggara lokal soal akreditasi prodi yang saat masa tenggat. Akreditasi prodi itu pun di sejumlah penyelenggara lokal kabupaten dianggap tidak berlaku, sehingga calon pelamar merasa nasibnya menggantung terkait pemahaman itu,” katanya.

Sesuai dengan surat edaran MenPAN-RB, pejabat pembina kepegawaian pusat dan daerah segera melakukan verifikasi ulang terkait dengan persoalan akreditasi.

Tekait dengan prodi yang sedang mengalami masa tenggat akreditasinya tetap diakui dengan akrediktasi lama atau menggunakan akreditasi instansi. Hal ini sesuai dengan surat edaran Kemendikbud terkait perizinan penyelenggaraan dan akreditasi program studi per tanggal 1 Maret 2013.

“Kami mendapat info, banyak terancam tak lolos karena akreditasi prodi saat masa tenggat tak diakui,” katanya.

Dengan permasalahan itu, kata Lasmawan, Undiksha sebagai penyelenggara pendidikan, langsung mengambil sikap dan bersurat kepada seluruh BKD se-Provinsi Bali terkait surat akreditasi program studi.

“Kami berharap semua komponen masyarakat terutama yang ditugaskan negara melakukan kewajiban sebagai tim pendaftaran dan seleksi CPNS, bersama-sama merujuk pada aturan formal yang ada, sehingga tidak ada tafsir lain soal pengakuan akreditasi prodi dan institusi lembaga penyelenggara pendidikan,” katanya.

Bulan Bahasa
Sementara itu, siswa SMA Negeri I Nusa Penida menyambut Bulan Bahasa dengan berbagai kegiatan dan lomba, diantaranya melukis dengan menggunakan medium ember. Alat seperti ini biasa ditemukan di rumah maupun tempat lainya, sekaligus mengeksplorasi semangat berkesenian siswa.

Ketua Panitia I Wayan Oka mengatakan bulan bahasa sudah agenda reguler yang dilaksanakan, namun lomba-lomba kali ini lebih menonjolkan kegiatan kearifan lokal atau muatan lokal antara lain Dharma Gita, Dharmawacana Bahasa Bali, Nyurat Bahasa Bali, mengayam kelangsah dan membuat sanggah cucuk.

“Khusus siswa perempuan membuat gebogan serta membuat dan metanding peraspejati. Kegiatan sudah dimulai Senin (8/10) hingga Jumat (11/10). Lomba lainnya seperti baca puisi dan story telling dan pengelolaan sampah plastik atau lebih dikenal dengan prakarya,” katanya.

Menurut dia, tujuan kegiatan adalah siswa sebagai pewaris budaya Bali berkewajiban membangkitkan dan mengembangkannya mulai dari lingkungan sekolah. “Kita menyambut bulan bahasa dengan suka cita, apalagi waktunya kebetulan berdekatan dengan perayaan hari Saraswati. Jadi kita gabungan kegiatan tersebut,” katanya. (Ant)