BERBAGI
Dr. H. Aji Sofanudin, M.Si Pengurus Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Tengah periode 2017-2022.

 

Oleh Dr. H. Aji Sofanudin

Dalam 5-10 tahun terakhir im, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menghadapi ancaman serius berupa Hoax. Ancaman ini bukan suatu ilusi tetapi betul-betul mewujud terutama ketika menjelang pelaksanaan Pemilu; baik Pemilihan Presiden, Pemilihan Kepala Daerah maupun pemilihan legislatif: DPD, DPR, dan DPRD.

Setidaknya sejak 2012, terutama dalam moment Pilkada DKI gelombang hoax menyerbu negara kita. Tahun 2014 marak beredar obor rakyat yang begitu mendeskreditkan Pasangan Jokowi-JK. Tahun 2018 ini beredar kasus menghebohkan yakni Hoax yang dibuat oleh Ratna Sarumpaet.

Hoax dijadikan senjata ampuh untuk mendeskreditkan lawan. Kampanye hitam marak dilakukan untuk menggerus suara lawan.

Kampanye Program

Dalam masa kampanye, idealnya yang ditonjolkan adalah kelebihan masing-masing pasangan. Ironisnya, belakangan ini yang muncul di publik ada diskusi kekurangan masing-masing calon.

Sebagai contoh, wacana yang mengemuka dalam pencalonan legislatif adalah apakah mantan napi koruptor bisa dicalonkan lagi atau tidak. Tidak muncul diskusi intens soal kualifikasi dan kompetensi calon anggota dewan.

Demikian juga wacana Pilpres semestinya menonjolkan visi, misi dan program masing-masing pasangan calon. Apa yang membedakan Pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi ketika keduanya memimpin negeri ini.

Diskusi seperti ini belum banyak dilakukan di akar rumput; warung kopi, warteg, dan obrolan kongkow-kongkow. Diskusi yang muncul justru masalah aksen “al-patekah” ataupun “soal duda”

Oleh karena itulah, KPU, para calon, tim kampanye dan para pemangku kepentingan lainnya untuk tidak lupa terhadap tugas utamanya; memaparkan visi, misi, dan program kerja sebagai janji lima tahun mendatang.

Tentu tidak lupa, apapun aktivitasnya harus juga dilakukan dengan damai. Bahwa pilpres dan pileg merupakan pesta demokrasi yang menggembirakan.

Sebagai pemilih pun kita perlu bersikap sama dewasa; say no to hoax, money politic, and peace. Katakan tidak pada penyebaran berita bohong, tolak politik uang dan bersama-sama mencipakan pemilu yang damai.

Rekam jejak, visi, misi, dan program kerja hendaknya menjadi pertimbangan utama dalam memilih calon pemimpin kita.

Sungguh elok sekiranya pertimbangan utama memilih pasangan capres dan cawapres karena mengenal kelebihan visi-misi masing-masing pasangan.

Berikut ini adalah visi dan misi pasangan capres dan cawapres 2019 sebagaimana yang diunggah di laman KPU RI.

Pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin menegaskan visinya sebagai berikut: Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong royong.

Sementara misinya yaitu sebagai berikut: (1) peningkatan kualitas manusia Indonesia, (2) struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing, (3) pembangunan yang merata dan berkeadilan, (4) Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan, (5) kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa, (6) penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya, (7) perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga, (8) pengelolaan pemerintah yang bersih, efektif dan terpercaya, (9) sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara kesatuan.

Pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno menegaskan visinya yaitu sebagai berikut: Terwujudnya bangsa dan Negara Republik Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, religius, berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkpribadian nasional yang kuat di bidang budaya serta menjamin kehidupan yang rukun antar warga negara tanpa memandang suku, agama, latar belakang sosial dan rasnya berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Sementara misinya adalah sebagai berikut: (1) Membangun perekonomian nasional yang adil, makmur, berkualitas, dan berwawasan lingkungan dengan mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia melalui jalan politik-ekonomi sesuai Pasal 33 dan 34 UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, (2) Membangun masyarakat Indonesia yang cerdas, sehat, berkualitas, produktif, dan berdaya saing dalam kehidupan yang aman, rukun, damai, dan bermartabat serta terlindungi oleh jaminan sosial yang bekeadilan tanpa diskriminasi, (3) membangun keadilan di bidang hukum yang tidak tebang pilih dan transparan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia melalui jalan demokrasi yang berkualitas sesuai dengan Pancasila dan UUD Negara Republin Indonesia tahun 1945, (4) Membangun kembali nilai-nlai luhur kepribadian bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, dan bersahabat yang diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa, (5) Membangun sistem pertahanan dan keamanan nasional secara mandiri yang mampu menjaga keutuhan dan integritas wilayah Indonesia.

Pasangan nomor urut 01 mengidealkan Indonesia Maju, sementara pasangan nomor urut 02 mengidealkan Indonesia Adil Makmur.

Secara kuantitatif jumlah words dan characters visi misi masing-masing pasangan adalah sebagai berikut: Jokowi-Ma’ruf: visi 11 words, 88 characters dan misi 71 words, 473 characters; dan Prabowo-Sandi: visi 58 words, 364 characters dan misi 133 words, 883 character. Pasangan 01 lebih simpel, sementara pasangan 02 lebih komplit.

Dilihat dari tema yang diangkat adalah pertarungan antara: “Indonesia Maju, berdaulat, mandiri, berkepribadian, gotong royong” versus “Indonesia adil, makmur, bermartabat, religius, berdaulat, berdikari, berkpribadian, rukun, berdasarkan Pancasila, dan UUD 1945”.

Pilpres 5 April 2018 juga merupakan pertarungan wacana: “kualitas manusia, ekonomi, pembangunan, lingkungan hidup, budaya, sistem hukum, rasa aman warga, pemerintah bersih, dan sinergi pemerintah daerah” versus “ekonomi nasional, masyarakat Indonesia, keadilan di bidang hukum, nilai-nilai luhur kepribadian bangsa, serta sistem pertahanan dan keamanan nasional”.

Kabar bahwa Pasangan 01 didukung Partai Komunis Indonesia (PKI) dan di belakang Pasangan 02 adalah kelompoik radikal, intoleran HTI merupakan hoax terbaik sepanjang sejarah bangsa. Wallahu’alam.

Tegal, 12 Oktober 2018
Dr. H. Aji Sofanudin, M.Si
Pengurus Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Tengah periode 2017-2022.