BERBAGI
Objek Wisata Pelestarian Penyu Tanjung Benoa/Istimewa

BADUNG, Warta Nasional – Berselfie ria bersama penyu di objek wisata pelestarian penyu di Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali, selalu menjadi target utama para wisatawan domestik dan mancanegara dari berbagai negara.

Hanya saja penyu yang bisa diangkat untuk berselfie, yaitu penyu yang ukuran sedang dan usianya diperkirakan sekitar tujuh tahun.

“Penyu yang diangkat pengunjung untuk berfoto bersama tadi usianya tujuh tahun, penyu tertua dengan ukuran besar hanya ada satu, usianya sekitar 70 tahun,” kata Ketua Kelompok Nelayan Pelestarian Penyu di Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, I Ketua Suada, Kamis (29/11).

Sebagaimana disampaikan I Ketut Suada, bahwa di objek wisata penangkaran penyu Tanjung Benoa, sekarang ini terdapat sekitar 70 ekor penyu dewasa dengan usia mulai tujuh sampai puluhan tahun, bahkan satu penyu tertua usianya mencapai 70 tahun.

Selain itu, juga masih ada ratusan ekor penyu yang merupakan anak dari hasil pengembangan di objek wisata itu, bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Badung.

Di lokasi setempat juga terdapat sejumlah warung yang menjajakan minuman, antara lain kelapa muda dan makanan ringan lainnya.

“Untuk proses pengembangbiakan penyu, kami bekerja sama dengan BKSDA Badung. Untuk makan penyu rata-rata biayanya mencapai Rp500 ribu per harinya,” ucapnya.

Selama ini, menurut dia, dalam proses pengembangbiakan penyu tidak semua telur bisa menetas. Penangkaran penyu bisa menghasilkan 100 telur setiap tahun, tapi yang bisa hidup hanya sekitar 40 persen.

“Lainnya gagal menetas, faktornya banyak, tetapi selama ini proses penetasan persentase yang bisa jadi hanya sekitar 40 persennya,” ujarnya.

Ia menyebutkan, lokasi penangkaran penyu di objek wisata pelestarian penyu berupa pulau kecil itu luasnya tidak lebih 1 hektare.

Namun, bagi pengunjung untuk mencapai lokasi harus naik perahu bermesin dengan jarak tempuh berkisar 10-15 menit, bahkan bisa 30 menit kalau air laut surut.

Pengunjung yang naik perahu, sebelum mencapai lokasi objek wisata penangkaran penyu terlebih dulu berhenti di tengah laut untuk memberi makan ikan dengan roti yang dibawa sejak dari pantai.

“Penangkaran penyu di Tanjung Benoa ada sejak 1993, karena para nelayan dalam mencari ikan sering memperoleh penyu, kemudian diamankan untuk dikembangkan,” katanya.

Menurut I Ketut Suada, pengunjung yang datang ke objek wisata penangkaran penyu rata-rata 1.000 orang, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, terbanyak asal China, Korea, dan Jepang.

“Kalau sekarang agak sepi, karena sudah masuk musim hujan,” ucapnya.

Seorang pengemudi perahu pengantar pengunjung ke objek wisata penangkaran penyu di Tanjung Benoa, Yoris Dowa, mengatakan, selama dirinya bekerja sebagai pengemudi perahu sejak tujuh bulan hanya mengantarkan pengunjung ke penangkaran penyu satu kali per hari.

“Ya perahunya yang mengantar wisatawan banyak, jadinya hanya sekali mengantarkan wisatawan ke penangkaran penyu,” ucapnya.

Yoris Dowa yang mengantarkan sejumlah wartawan peserta Media Gathering yang digelar Pertamina EP di Kuta, harus berjalan tersendat, karena sesekali kipas mesin perahu tersangkut ganggang laut.

“Kalau air laut pasang, ya biasanya perjalanan perahu dari pantai hanya 10 menit,” ujarnya.

Di sepanjang perjalanan dengan naik perahu, pengunjung bisa melihat jalan tol di atas laut sepanjang 12,7 kilometer yang diresmikan pada 2012 semasa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

“Tol laut itu menghubungkan Denpasar ke bandara udara,” kata Pemandu Wisata I Ketu Sukadana, menambahkan. (Ant)