BERBAGI
Smart Farming/ilustrasi/istimewa

LONDON, Warta Nasional – Institut Pertanian Bogor (IPB) menjalin kerja sama dengan Universitas Zurich (UZH) di Swiss dalam pemanfaatan teknologi drone dan pengembangan smart farming, pertanian yang dijalankan menggunakan dukungan teknologi informasi untuk memetakan dan mengolah berbagai data berkenaan dengan proses pertanian mulai dari pembibitan, budidaya, penanggulangan hama, panen hingga pascapanen.

Menindaklanjuti penandatanganan nota kesepahaman kerja sama yang dilakukan oleh Rektor IPB Arif Satria dan Prorektor UZH Prof Michael Schaepman, Wakil Rektor IPB Prof Erika Laconi dan Direktur Bisnis dan Manajemen Aset Komersial IPB Dr Jaenal Effendi didampingi Duta Besar RI untuk Swiss Prof Muliaman Hadad bertemu dengan Prof Schaepmann dan Dr Yasmine Inauen selaku Direktur Hubungan Internasional UZH pada 4 Desember untuk membahas kerja sama tersebut.

Siaran pers bagian Penerangan Sosial Budaya KBRI Bern pada Kamis menyebutkan dalam pertemuan yang dilakukan di sela kunjungan kerja Wakil Rektor IPB untuk menjajaki kerja sama dengan mitra stategis di beberapa negara Eropa itu Prof Schaepman menyatakan kesiapan UZH sebagai universitas dengan inovasi maju memperluas kerja sama dengan IPB.

Prof Erika Laconi mengatakan keunggulan UZH di bidang inovasi akan sangat bermanfaat bagi pengembangan IPB dan berharap selanjutnya bisa mengembangkan kerja sama di bidang smart farming dengan memanfaatkan teknologi drone UZH.

Sementara Dr Jaenal Effendi mengatakan IPB dan UZH juga bisa bekerja sama dalam mengembangan bidang peternakan maupun bidang ilmu alam lainnya.

Dalam waktu dekat kedua universitas berencana mengadakan lokakarya peneliti dan profesor di bidang pertanian dan peternakan, dan mewacanakan pertukaran pelajar antara kedua universitas guna saling berbagi ilmu pengetahuan dan keahlian.

Sementara Dubes RI Muliaman Hadad berharap kerja sama di bidang penelitian pengelolaan habitat berbasis sains bagi orang utan di Sumatera dan Kalimantan antara IPB dan UZH yang telah dibina sejak 2010 dapat ditingkatkan ke bidang strategis lain yang menjadi minat bersama kedua universitas, seperti melalui pendirian Indonesia-Swiss Research Center for Agricultural SMEs Development.

Muliaman berharap pusat penelitian pertanian Indonesia-Swiss bisa terbangun dalam waktu dekat sejalan dengan kesepakatan kerja sama di bidang pendidikan yang telah ditandatangani oleh perwakilan kedua negara.

Universitas Zurich yang berdiri sejak 1855 merupakan universitas terbesar di Swiss yang memiliki 90.000 tenaga pengajar dan pegawai serta 26.000 mahasiswa, 4.000 di antaranya mahasiswa asing termasuk dari Indonesia. (Ant)