BERBAGI
Vice President Djarum Foundation FX Supanji bersama Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah (kiri) dalam acaara Djarum Tress for Life di Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (04/12/2018)/Foto: Antara

SIDOARJO, Warta Nasional – Pegiat gerakan penanaman pohon trembesi menyatakan terbuka peluang untuk menjajaki biji trembesi dapat menjadi bahan alternatif pengganti kedelai untuk pembuatan tempe.

“Jika nantinya pohon-pohon trembesi yang sudah kita tanam jumlahnya banyak dan bijinya bisa berbuah massif, tidak mustahil bila menjadi substitusi bahan baku untuk tempe itu,” kata Vice President Djarum Foundation FX Supanji di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (6/12).

Tempe dan tahu, adalah makanan populer di masyarakat Indonesia, yang bahan bakunya berasal dari kedelai. Sebagian besar kedelai selama ini harus diimpor.

Pihak Djarum Foundation “Bakti Pada Negeri” melalui program Djarum Trees for Life (DFTL) atau Pohon Djarum untuk Kehidupan, pada Rabu (5/12) berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Pemkab Sidoarjo, PT Jasa Marga Surabaya-Mojokerto dan PT Transmarga Gempol-Pasuruan mengadakan penanaman 8.400 pohon trembesi di tol Trans-Jawa, yang dihadiri Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur KLHK, Dr Nandang Prihadi, M.Sc.

Ruas tol yang ditanami ribuan pohon trembesi (Albizia saman) atau dikenal juga dengan nama “Samanea saman” itu, meliputi ruas jalan tol Surabaya- Mojokerto, dan ruas Gempol-Pasuruan.

Pada akhir November tahun lalu, musisi dan pegiat lingkungan Agustinus Gusti Nugroho atau biasa dikenal dengan nama Nugie, saat temu wicara pendidikan lingkungan dan konservasi dalam program DFTL di Alun Alun Bangkalan, Madura, sempat melontarkan peluang biji trembesi itu menjadi bahan baku tempe.

Nugie kala itu menyatakan pernah membaca studi menjadi biji trembesi yang bisa diolah menjadi tempe.

Menurut Pak Panji, panggilan karib FX Supanji, pihaknya juga menyambut baik, jika ke depan ada pihak yang akan meneliti kemungkinan biji trembesi dimanfaatkan sebagai bahan alternatif membuat tempe.

“Kami tentu menyambut baik gagasan inovatif mengenai biji trembesi bisa diolah menjadi tempe itu,” katanya.

Terkait potensi biji trembesi dapat diolah menjadi tempe, ternyata seorang pelajar seorang pelajar SMAN 1 Grati, Pasuruan, bernama Faruq Setya Wargi — seperti dilansir http://surabaya.tribunnews.com edisi Sabtu (16 November 2013) — sudah melakukan penelitian tempe berbahan dasar biji trembesi.

Melalui penelitiannya tentang pemanfaatan biji pohon trembesi, yang kemudian tempe tersebut diberi nama “Ki Hujan Tempe”, pelajar kelas XII program bahasa itu terpilih untuk mewakili Jawa Timur dalam ajang ASEAN Youth Environment Forum (AYEF) di Brunei Darusallam 2-4 Desember 2013. (Ant)