BERBAGI
Foto WN - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Hj. Megawati Soekarno Putri Bersama Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Semarang H. Supriyadi, S.Sos.

SEMARANG, Warta Nasional – Supriyadi, seorang pria kelahiran 5 mei 1971 dari keluarga sederhana, merupakan politisi sukses asal Semarang yang sudah malang melintang di dunia politik. Siapa yang tak kenal ketua DPRD Kota Semarang, seorang politisi yang piawai dalam berorganisasi kemasyarakatan di Kota Atlas itu.

Siapa sangka, Supriyadi sang Ketua DPRD Kota Semarang pernah menjadi Mandor bis PO. Jawa indah di Terminal Terboyo Semarang. Hanya sempat mengenyam pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) lalu bekerja, tak membuat Supriyadi muda menyerah mengejar ilmu.

Ia mengakui, keluarganya tidak mampu membiayainya kuliah. Namun, bukan berarti ia menyerah dengan keadaan.

“Saya lulus SMA 1988, lalu kerja di terminal Terboyo jadi tekyan dan merasakan kerasnya kehidupan jalanan,” kata pria yang kini jadi maju kembali sebagai Caleg DPRD Kota Semarang itu.

Bergelut mencari nafkah di terminal dan sopir angkot sempat membuat Supriyadi melupakan cita-citanya.

Semangat belajarnya kembali membara ketika memasukki dunia politik dan jadi kader PDI Perjuangan.

Awal kariernya di dunia politik sebagai Ketua Anak Ranting PDI Perjuangan Kelurahan Bulu Lor, kecamatan Semarang Utara mulai 1997-2000.

Ingin mendalami pendidikan tentang politik, pada 2000, suami dari Iin Indriawati Dewi Mayasari itu mantap melanjutkan pendidikan strata 1 ilmu sosial di FISIP Universitas 17 Agustus.

Supriyadi ‘memaksakan diri’ di tengah keterbatasannya saat itu. Baginya tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan termasuk dalam hal pendidikan.

“Waktu itu perjuangan betul, kerja untuk membiayai kuliah dan makan sehari-hari. Karena kendala itulah, kuliah saya baru selesai 8 tahun kemudian. Saya juga sempat ingin menyerah juga,” kenangnya.

Banyak hal yang menurutnya membuatnya sempat menyerah antara lain bertemu dosen yang ‘saklek.

Lalu ia harus berkali-kali merevisi skripsi, bahkan sempat ganti judul dan mengulang dari awal.

Sempat patah semangat, ia bangkit kembali karena yakin pendidikan bisa turut mengubah nasib.

“Berapa tahun tuh, lulusnya umur 37 kalau tidak salah,” jelasnya.

Setelah itu, ayah itu mengikuti Pemilu 2009 dan berhasil duduk di kursi dewan.

Sudah nyaman duduk jadi wakil rakyat tidak membuat semangat belajarnya padam. Apalagi sejak menjadi anggota DPRD Kota Semarang ia bersentuhan dengan pemeritahan.

Perjuangan Menunut Ilmu

Pada 2015, ketika menjabat sebagai ketua DPRD, Supriyadi mendaftar kuliah Strata 2 di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang di bidang Administrasi Negara. Berjarak enam tahun setelah lulus S1.

“Saya sengaja pilih jurusan itu karena sesuai dengan posisi saya. Seluruh fungsi dewan baik dari budgeting, pengawasan hingga pembuat peraturan daerah sesuai dengan jurusan kuliah yang saya ambil,” tuturnya.

Perjuangannya untuk meraih gelar Magister tidak mudah. Lagi-lagi semangatnya sempat meredup ketika tesisnya tak kunjung selesai.

Ia ingat harus mengganti judul tiga kali hingga judul tesisnya diterima. Hingga akhirnya dinyatakan lulus saat usianya 47 tahun.

“Banyak dorongan dari teman-teman akhirnya selesai. Mirip waktu garap skripsi, ” kata pria kelahiran 5 mei 1971 itu.

Ayah dari Azalea Anggita Zahra, Syifa Salsabila Zahra, dan Ganapatih Delta Argani itu masih punya semangat. Kali ini, ia ingin kuliah lagi meraih gelar doktor setelah gelaran Pemilu Legislatif 2019.

Caleg DPRD Kota Semarang Dapil Semarang 1 itu, semakin moncer prestasinya sebagai wakil rakyat makin moncer saat menerima penghargaan The Best Legislator untuk ketiga kalinya.

Ia meraihnya pada rangkaian penganugerahan The Best and The Next Legislator 2019, yang digelar Berlian Organizer.

“Mungkin salah satunya penciptaan inovasi aspirasi masyarakat secara daring melalui aplikasi e-Sarapan,” katanya.

Sekilas mengenai e-Sarapan, Supriyadi menjelaskan nama tersebut kependekan dari elektronik saran aspirasi dan harapan.

“Warga Kota Semarang bisa mengusulkan aspirasi di kampungnya, misalnya perbaikan jalan, bantuan, juga laporan terkait kualitas layanan pemerintah kota,” kata politisi PDI Perjuangan itu.

Supriyadi, menjadi Politisi PDI Perjuangan dan menjadi wakil rakyat sejak 2009. Awalnya, ia dipercaya sebagai Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di legislatif, kemudian jadi Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, dan sekarang menjadi ketua DPRD Kota Semarang. (WN-009)

Editor: Hanifah