BERBAGI
Vihara Thay Hin Bio/Istimewa

Lampung, Warta Nasional – Thay Hin Bio merupakan salah satu vihara tertua di Provinsi Lampung, yang pada tahun 2019 ini telah berusia sekitar 123 tahun.

Vihara Thay Hin Bio terletak di Jalan Ikan Kakap Nomor 35, Telukbetung Selatan, Kota Bandarlampung terlihat sangat kental dengan nuansa kebudayaan Tiongkok klasik.

Bila dilihat dari depan vihara, nampak gerbang berwarna merah dan kuning yang dihiasi ornamen naga dan lukisan-lukisan klasik Tiongkok.

Saat memasuki gerbang, terlihat pula dua pagoda di sisi kanan dan kiri halamannya.

Pada pintu masuk vihara, terlihat dua pilar besar dengan ukiran berbentuk naga.

Dua lampion besar yang tergantung di pintu masuk dan lukisan khas Tiongkok di sekitarnya, juga semakin mempertegas betapa kental budaya Tiongkok di vihara ini, sehingga membuat siapa pun yang memasukinya dapat merasakannya.

Memasuki bangunan utama vihara, terlihat lilin-lilin besar secara mencolok yang belum dinyalakan, lampion-lampion yang bergelantungan, pilar-pilar yang bertuliskan aksara kanji dan ornamen khas Tiongkok lainnya.

Sebagian besar benda di dalam vihara ini merupakan perlengkapan sembahyang para umat yang datang untuk beribadah di vihara ini.

Salah satu pemimpin ibadah di Vihara Thay Hin Bio, Romo Krisna (54) mengatakan arti nama vihara tersebut, yaitu Thay Hin Bio adalah tempat berkumpul orang-orang yang bahagia. Demikian pula dengan warna merah dan kuning yang mendominasi bangunan vihara. Warna merah berarti keberuntungan dan kebahagiaan.

“Nama Thay Hin Bio jika dijabarkan yakni Thay berarti besar, Hin berarti kebahagiaan, dan Bio berarti kelenteng atau tempat ibadah. Jadi kalau disatukan artinya berarti tempat berkumpul orang-orang bahagia. Warna merah juga berarti keberuntungan dan kebahagiaan,” ujarnya.

Vihara Thay Hin Bio merupakan salah satu vihara tertua di Lampung yang telah berdiri sejak 1896. Vihara ini sempat direnovasi pada tahun 1963, dan masih berdiri kokoh hingga saat ini meskipun usianya sudah mencapai 123 tahun.

“Tahun 1896 masyarakat di Kampung China, Lampung mengusulkan agar dibangun wihara. Saat itu namanya Vihara Kwan Im Tong. Baru mendapat izin tanggal 1 Oktober 1898. Karena umat semakin banyak, dilakukan renovasi tahun 1963 dan selesai tahun 1967,” ujar Romo Jhoni, salah satu pemimpin ibadah di vihara ini.

Menurut penjelasannya, sejarah berdiri wihara ini pada awalnya sekitar tahun 1850, seseorang yang berasal dari Tiongkok bernama Po Heng datang ke Lampung membawa rupang (patung) Kwan Im Phu Sha.

Sebelumnya, sudah banyak penduduk Lampung yang memuja Kwan Im Phu Sha, sehingga kedatangan Po Heng saat itu disambut dengan baik. Banyak simpatisan yang datang untuk melihat rupang dan mengusulkan agar dibangun cetya sebagai tempat sembahyang bersama.

Tempat sembahyang itu akhirnya dibangun di daerah Gudang Agen, Telukbetung Selatan (berjarak sekitar 700 meter dari bangunan wihara saat ini) dan dinamakan Cetya Avalokitesvara atau Cetya Kwan Im Thong.

Letusan Gunung Krakatau

Namun, pada Agustus 1883, Cetya Avalokitesvara hancur akibat letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Letusan gunung api di dalam laut yang sangat dahsyat berdampak bagi dunia, dan terus tercatat dalam sejarah hingga sekarang dan nanti.

Po Heng pada saat itu sempat menyelamatkan Rupang Kwan Im Phu Sha dan Siancai Liong Li dan membawanya ke daerah yang lebih tinggi.

Po Heng diduga membangun sebuah cetya di daerah itu, namun hingga saat ini alamatnya tidak diketahui.

Akhirnya, dibangunlah Wihara Thay Hin Bio di Jalan Ikan Kakap (dulu bernama Jalan Kelenteng) untuk menggantikan cetya tersebut.

Vihara ini memiliki dua lantai. Lantai dasar dinamakan Ruang Bhaktisala dan lantai dua dinamakan Ruang Dharmasala. Rupang yang dipuja tidak hanya Kwan Im Phu Sha dan Siancai Liong Li, tetapi juga banyak rupang lainnya di lantai dasar maupun di lantai dua.

Menurut keterangan Romo Jhoni, karena arsitektur dan ornamen klasik Tiongkok melekat pada wihara ini, masyarakat non-Buddha seringkali datang mengunjungi wihara untuk sekadar melihat-lihat.

“Seringkali orang datang berkunjung hanya untuk melihat-lihat. Kebetulan di sekitar sini ada tempat berjualan oleh-oleh khas Lampung, jadi biasanya wisatawan yang tertarik melihat bangunan wihara langsung mampir ke sini,” katanya.

Dari keseluruhan ornamen khas Tiongkok yang terdapat di vihara ini, lilin besar dan pilar bertuliskan aksara mandarin adalah contoh benda yang menarik perhatian para pengunjung.

“Saya paling tertarik sama lilin yang besar-besar ini, karena saya non-Buddha, jadi cukup asing sama lilin sebesar ini. Selain itu, pilar-pilarnya juga cantik dan bikin penasaran,” ujar Vina (22), salah satu pengunjung vihara tersebut.

Menurut keterangan Romo Jhoni, lilin-lilin besar yang terdapat di pintu masuk adalah sumbangan dari masyarakat yang turut merayakan imlek di wihara itu. Makna dari lilin-lilin ini adalah pengabdian tanpa mementingkan diri sendiri.

“Ada pepatah Tionghoa bilang, sebuah lilin tidak akan padam sampai air matanya kering. Nah, itu maksudnya air yang menetes dari lilin saat dinyalakan. Lilin ini melambangkan pengabdian yang tidak mementingkan diri sendiri, karena terus menerangi hingga habis,” kata Romo Jhoni.

Pilar-pilar yang berisikan aksara mandarin juga memiliki makna, yakni sebagai nasihat agar siapa pun yang melihatnya dapat memperoleh pencerahan.

“Di pilar-pilar ini ada syair Buddha Dharma yang berisi nasihat agar orang sadar dan dapat pencerahan dari ajaran Sang Buddha. Contohnya, kita tidak bisa hidup sendiri, tidak boleh melihat orang lain menderita, dan harus saling membantu,” katanya.

Romo Jhoni mengungkapkan, arsitektur dan ornamen yang terdapat di Wihara Thay Hin Bio akan terus dipertahankan sebagai bentuk pelestarian budaya karena sudah sejak awal dibawa oleh para penyebar agama Buddha dari Tiongkok.

“Kalau dipertahankan, ya, karena wihara ini selain merupakan tempat bersembahyang agama Buddha, juga merupakan bentuk kultur atau budaya yang dibawa oleh para pendahulu atau leluhur yang datang ke Indonesia,” katanya.

Romo Jhoni mengungkapkan, kebudayaan Tiongkok klasik yang melekat di wihara ini menjadi alasan tetap bertahan wihara ini dari waktu ke waktu.

“Masyarakat kan senang melihat yang indah-indah. Vihara ini bisa saya katakan satu-satunya di Kota Bandarlampung yang memiliki ornamen khas Tiongkok sebanyak ini. Jadi selalu disenangi, baik itu oleh masyarakat atau pun pemerintah daerah,” kata Romo Jhoni.

Dari waktu ke waktu, teknologi semakin berkembang dan masyarakat Lampung semakin bertambah. Para romo, umat Budha, dan pengunjung wihara tidak melihat perkembangan zaman sebagai tantangan, melainkan sebagai peluang semakin dikenal vihara ini oleh masyarakat.

“Biasanya orang-orang datang kemudian tulis ulasan di internet, jadi orang-orang makin penasaran dan datang ke sini,” ujar Romo Jhoni.

Keberadaan dan eksistensi Wihara Thay Hin Bio ini akan sangat terasa setiap kali perayaan Imlek, karena akan menjadi pusat aktivitas ibadah persembahyangan umat Buddha maupun kemeriahan atraksi barongsai dan tradisi lain terus dipertahankan sampai sekarang.

Lokasi salah satu wihara tertua di Lampung ini yang cukup strategis berada di pinggir jalan utama pusat perdagangan dan bisnis di kawasan Telukbetung dan sekitar Kompleks Pecinan di daerah ini, serta dikelilingi kawasan perdagangan kuliner oleh-oleh khas Lampung, seperti keripik pisang dan kemplang, membuatnya menjadi daya tarik bagi siapa pun yang berkunjung ke daerah ini, selain bagi masyarakat Lampung.

Sudah 123 tahunan Vihara Thay Hin Bio ini berdiri dan tetap kokoh hingga kini, diharapkan tetap terus menyatu dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya yang terus bergerak dinamis pada era dan zamannya masing-masing. (Ant)