BERBAGI
ilustrasi nasi buwuhan daun jati khas bojonegoro
ilustrasi nasi buwuhan daun jati khas bojonegoro

BOJONEGORO, Warta Nasional – Nasi Buwuhan bukanlah menu masakan baru di Bojonegoro, Jawa Timur, karena sudah zaman dulu menjadi menu wajib berbagai hajatan atau kondangan yang biasanya di bawa pulang dalam bentuk paket berkat.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, menu nasi buwuhan meroket menjadi menu yang bisa diperoleh siapa saja di berbagai warung kali lima, bahkan juga warung rumahan, salah satunya di warung Ny Nurul Huda di Desa Kauman, Kecamatan Kota Bojonegoro.

“Saya menjual nasi buwuhan sudah tiga tahun terakhir. Peminatnya mulai siswa SD, sampai masyarakat umum,” kata Ny. Nurul Huda, Sabtu (26/1).

Ia mengaku bisa membuat menu nasi buwuhan belajar sendiri, karena bagi siapa saja menu itu tidak asing, yaitu nasi dilengkapi dengan momok tempe, mie, sayur tewel bisa sayur blonceng, juga sate daging sapi atau telur dilengkapi rempeyek teri maupun kacang.

Namun, pembeli bisa memilih lauk yang diminati. Misalnya, memilih tambahan lauk daging sapi, daging ayam, telur bali, atau hanya dengan menu rempeyek saja.

Dengan berbagai macam aneka lauk itulah yang mempengaruhi harga nasi buwuhan, sehingga peminat kuliner ini tidak hanya masyarakat kalangan bawah, tapi juga menengah ke atas.

“Biasanya siswa SD membeli nasi buwuhan Rp3.000 per porsi, menunya hanya dengan tempe atau rempeyek,” ucapnya.

Namun, kalau pembeli memilih menambah telur, selain tempe, harganya Rp10.000 per porsi dan kalau memilih lauk daging sapi bisa Rp15.000 per porsi sudah termasuk minuman teh.

Meskipun lokasi warung Ny Nurul Huda yang bernama Warung Hijau lokasinya di depan halaman rumah, menurut Huda, suami Ny. Nurul Huda, bisa menjual nasi buwuhan rata-rata 10 kilogram per hari.

Sekretaris Dinas Kominfo Bojonegoro Djoko Suhermanto mengaku sangat suka menyantap nasi buwuhan dengan lauk daging sapi di warung Ny. Nurul Huda.

“Nasi buwuhan tidak hanya cocok disantap untuk sarapan pagi hari, tapi siang atau malam hari, sebab menunya bergantung selera yang menyantap dalam memilih lauk,” ucapnya.

Bojonegoro, lanjut dia, mengangkat menu nasi buwuhan mampu keluar sebagai juara pertama dalam lomba makanan khas daerah tingkat Bakorwil Bojonegoro di Lamongan pada 2018.

Pada kesempatan itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Jatim Ny. Gardjati Heru Tjahjono menjelaskan bahwa saat ini banyak makanan yang kurang berimbang, sehingga saat mengonsumsi banyak penyakit yang ditimbulkan oleh makanan.

Seorang warga asal Bojonegoro Bojonegoro yang sudah lama menetap di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Susi, Hendri dan Yoyok, mengaku selalu menyantap nasi buwuhan setiap pulang kampung ke Bojonegoro.

“Sekarang memperoleh nasi buwuhan mudah di Bojonegoro. Sambil mengundang teman-teman semasa kecil saya bersama-sama menyantap nasi buwuhan di alun-alun,” ucapnya. (Ant)