BERBAGI
ilustrasi kebun durian
ilustrasi kebun durian

MADIUN, Warta Nasional – Upaya Pemerintah Kabupaten Madiun untuk mengembangkan potensi lokalnya menjadi sesuatu yang khas dan unik hingga disukai dan didatangi wisatawan, terus digenjot.

Sadar minim akan potensi wisata keindahan alam, Pemkab Madiun mulai melirik potensi agrarisnya untuk dikembangkan sebagai agrowisata guna mendongkrak sektor pariwisata setempat.

Pariwisata berbasis pertanian diharapkan mampu memberikan angin segar bagi Pemkab Madiun, para petani, dan masyarakat setempat untuk dapat memperluas sektor pertanian yang selama ini mereka geluti menjadi objek pariwisata bagi para wisatawan yang memiliki minat khusus.

Selain itu, agrowisata sebagai perluasan peran dari sektor pertanian diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya serta para petani pada khususnya.

Potensi budi daya pertanian yang dapat dijadikan agrowisata di antaranya adalah lahan perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, serta perikanan.

Adapun, kawasan di Kabupaten Madiun yang siap digarap untuk mewujudkan konsep agrowisata adalah Desa Segulung, Kecamatan Dagangan, yang memiliki potensi sebagai sentra perkebunan durian.

Baru-baru ini, tepatnya pada Sabtu tanggal 26 Januari 2019, Pemkab Madiun melalui Pemerintah Kecamatan Dagangan menggelar kegiatan festival durian yang diselenggarakan di kebun durian Bukit Setepong, Desa Segulung.

Pada ajang tersebut para pecinta buah durian dimanjakan untuk menikmati durian kulitas super dengan harga sangat terjangkau.

“Kegiatan festival durian ini merupakan yang kedua kalinya kami gelar. Yang pertama tahun lalu kami laksanakan di Kantor Kecamatan Dagangan. Untuk kedua ini kami selenggarakan di Bukit Setepong,” ujar Camat Dagangan.

Ia mengaku tidak menyangka animo masyarakat untuk mengikuti festival tersebut sangat tinggi. Dalam festival itu, panitia telah menyiapkan lebih dari 6.000 butir durian untuk dijual kepada pengunjung.

Rowi, panggilan akrabnya, sengaja menggelar festival di Bukit Setepong yang merupakan sentra kebun durian di wilayah Dagangan. Hal itu supaya pecinta durian bisa datang langsung ke lokasi untuk menikmati durian secara langsung di kebunnya.

Dengan banyaknya pengunjung yang datang tentu akan berpengaruh pada perputaran ekonomi di Desa Segulung. Petani durian juga meningkat kesejahteraannya.

Bupati Madiun Ahmad Dawami menyatakan hal yang sama. Festival durian yang digelar oleh pihak Kecamatan Dagangan di kawasan kebun durian Bukit Setepong, Desa Segulung tersebut ditargetkan dapat mendongkrak potensi agrowisata buah tropis tersebut di wilayah setempat.

“Kita itu punya potensi produk durian. Di Kecamatan Dagangan, prioritasnya dan titik wisatanya. Kegiatan ini untuk mengenalkan masyarakat luar bahwa Kabupaten Madiun juga memiliki potensi yang tak kalah dengan daerah lainnya,” kata Ahmad Dawami.

Festival tersebut tergolong sukses. Hal itu terlihat dari banyaknya warga yang datang ke acara festival untuk menikmati durian.

Bukan hanya warga Kabupaten Madiun yang datang, namun juga daerah lain di sekitarnya seperti Kota Madiun, Ngawi, dan Ponorogo.

Selain mengenalkan potensi agrowisata Kabupaten Madiun, festival tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan nilai jual durian sehingga menguntungkan para petaninya.

Di ajang tersebut, durian tidak hanya dijual buahnya saja, namun juga produk olahannya. Jadi durian bisa diolah menjadi produk makanan lain, seperti kue, piza, dan sebagainya.

“Harapannya, saat panen raya, harga durian yang biasanya jatuh karena stok banyak, bisa bertahan,” kata bupati yang akrab disapa “Kaji Mbing” ini.

Dalam acara festival tersebut juga ada lomba untuk membuat produk olahan dari durian. Nantinya produk olahan itu akan dijadikan jajanan oleh-oleh khas Kabupaten Madiun.

“Kaji Mbing” menyebut di Kabupaten Madiun ada empat kecamatan yang menjadi sentra penghasil durian. Yakni Kecamatan Dagangan, Dolopo, Kare, dan Gemarang. Namun, saat ini yang menjadi titik konsentrasi pengembangan agrowisata baru di Desa Segulung, Kecamatan Dagangan.

Pemkab berkomitmen, kegiatan festival tersebut akan menjadi agenda tahunan pariwisata Kabupaten Madiun, sehingga dapat mendongkrak perekonomian warga desa setempat dan Kabupaten Madiun secara keseluruhan.

Meski lokasi Bukit Setepong yang berada di lereng Gunung Wilis sulit dijangkau, tak menyurutkan antusias para pecinta durian untuk datang ke festival tersebut. Warga dari berbagai daerah di sekitar Kabupaten Madiun datang memenuhi area perkebunan durian yang sudah masak pohon tersebut.

Ribuan orang yang berusaha mendatangi tempat tersebut membuat Jalan Raya Segulung-Dagangan yang menjadi akses utama menuju Bukit Setepong dipenuhi antrean kendaraan cukup panjang.

Untuk masuk ke Bukit Setepong, hanya pengunjung dengan kendaraan roda dua yang diperbolehkan masuk. Adapun pengunjung dengan kendaraan roda empat harus turun dan berjalan kaki karena jalan ke bukit yang sempit dan curam.

Seorang pengunjung Festival Durian, Kartiko mengatakan sengaja datang ke festival durian itu untuk menikmati buah durian langsung dari kebunnya. Ia mengaku sangat suka durian Segulung karena rasanya manis, lembut, dan ada pahitnya.

“Saya sangat senang dengan durian Segulung. Orang sini menyebutnya durian kawuk. Saat duriannya dibuka, dagingnya berwarna kuning, rasanya manis, lembut, dan ada pahitnya sedikit,” kata pria asal Ngawi ini.

Seorang penjual durian di festival itu, Mustofa, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia mengaku durian dagangannya ludes diborong pembeli. Dalam kegiatan tersebut, ia membawa hampir 200 buah durian dengan berbagai ukuran.

“Harganya di sini memang lebih murah. Biasanya ukuran sedang ini dijual dengan harga Rp70.000, di ajang ini bisa Rp40.000 hingga Rp50.000 per butir,” kata petani durian tersebut.

Para petani durian setempat mengaku sangat mendukung kegiatan tahunan tersebut. Selain mendapatkan keuntungan, para petani yakin ajang tersebut juga sebagai media promosi. (Ant)