BERBAGI
Luthfiana Kanza Febriyanti (Ist)

Perkukuh Kerjasama Berantas Hoaks

Oleh : Luthfiana Kanza Febriyanti

Kemajuan dalam bidang teknologi secara otomatis mendorong pergerakan informasi menjadi lebih cepat dan akurat. Seiring pula dengan hal tersebut, manusia memiliki kebutuhan akan kabar atau berita, agar timbul rasa tentram karena tahu dan mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.

Nah, dengan semakin mudahnya kebutuhan tersebut didapat, maka yang sering kali terjadi adalah masyarakat menelan informasi apa saja tanpa memilah mana yang benar dan baik bagi orang lain, serta mana yang salah dan merugikan khalayak.

Tapi sayangnya, berbalikan dengan hakikat berita yang menyajikan fakta, dewasa ini, kata hoaks malah semakin akrab di telinga kita.

Bahkan mungkin banyak yang sudah menjumpai berita dan informasi bohong yang melimpah di media massa. Entah melalui media cetak, media elektronik, terlebih media online. Mudahnya memberikan informasi ke orang lain membuat manusia saling berlomba-lomba untuk mendapatkan dan membagikannya. Akibatnya sekarang sudah tidak jelas lagi kebenaran di media massa terutama media sosial.

Menurut penelitian, setidaknya kini 130 juta masyarakat Indonesia merupakan pengguna media sosial, sebagian besarnya masih dibawah umur. Siapa saja bisa menjadi penyebar berita dan siapa saja bisa menerimanya. Hoaks dan fakta kian dicampuradukkan. Pelakunya pun sulit diketahui akibat kedok di media sosial yang dipakai.

Menelusuri sumber berita pertama tidak akan mudah dilakukan, karena pasti sudah tidak terhitung berapa kali berita tersebut dibagikan kembali oleh orang lain.

Itulah yang membuat kelompok berkepentingan leluasa dan tidak ragu menghasut melalui hoaks di media sosial.

Seperti yang sedang kita alami, media sosial dengan mudah mengelabui dan mengubah pemikiran publik terhadap suatu hal. Sampai pada puncaknya, dapat menghabisi nyawa. Seperti yang pernah terjadi di India dan Meksiko tahun lalu. Berawal dari pesan berantai yang tersebar melalui salah satu aplikasi chatting yaitu WhatsApp, dua orang pria dituduh sebagai pelaku penculikan anak di sebuah kota negara bagian Meksiko Tengah.

Akibatnya kedua pria tersebut dipukuli dan dibakar hidup-hidup oleh massa yang mengamuk. Bahkan video kekerasan tersebut disebarkan di media sosial tanpa rasa bersalah, sangat kejam. Atau kasus puluhan orang yang tewas di India akibat di fitnah oleh hoaks juga sangat memprihatinkan.

Tentunya kita tidak mau insiden tersebut sampai terjadi di negeri kita. Namun, justru pokok persoalannyalah yang belum teratasi. Yakni tingkat literasi di Indonesia yang masih sangat rendah. Menurut data statistik UNESCO, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia untuk minat literasi. Sungguh miris, bukan?

Oleh karena itulah, yang perlu kita lakukan dalam menyikapi peristiwa-peristiwa ini ialah membenahi karakter masing-masing individu khususnya generasi muda. Meningkatkan minat baca harus menjadi agenda utama yang pertama-tama dilakukan. Masyarakat tidak akan terprovokasi dengan suatu judul berita yang isinya tidak sesuai, maupun berita yang terlalu mengada-ada apabila tingkat literasinya tinggi.

Sebab dengan banyak membaca maka wawasan akan bertambah luas, dengan begitu secara spontan otak akan berpikir lebih kritis. Kritis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bersifat tidak lekas percaya dan selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan. Sifat kritis inilah yang perlu dimiliki untuk menangkal hoaks.

Tidak hanya kewajiban pembaca sebagai penerima berita yang berperan dalam memberantas hoaks, tetapi orang-orang dibalik media massa yaitu wartawan atau jurnalis memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi. Memberikan berita yang teraktual dan serinci mungkin bagi publik bukanlah perkara gampang.

Serangkaian tantangan yang dihadapi demi menyajikan suatu peristiwa menjadi sebaris berita saja sungguh berat. Dari mulai menghadapi narasumber yang menjawab terbelit-belit, enggan ditanyai, maupun ketika menanyakan hal negatif yang perlu diketahui kebenarannya oleh masyarakat. Belum lagi saat harus bertugas di daerah konflik yang tidak aman, nyawa taruhannya.

Dengan diperingatinya Hari Pers Nasional (HPN) setiap tanggal 9 Februari diharapkan kewajiban pers yang mulia tersebut dapat terus di junjung tinggi pada setiap media. Bila kerjasama kedua belah pihak dalam hal ini masyarakat dan media sudah bulat dan satu tujuan, tinggal pemerintah mendukungnya dengan memperketat undang-undang mengenai hoaks, memblokir situs-situs yang kerap menyebarkannya, dan memburu para pelaku didalamnya.

 

Penulis :
Luthfiana Kanza Febriyanti, Siswa SMP Negeri 01 Semarang