BERBAGI
Hamidulloh Ibda, Ketua Program Studi PGMI STAINU Temanggung, Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah (Foto : WN)

Oleh: Hamidulloh Ibda *

Era Revolusi Industri 4.0 membawa dampak positif dan negatif, peluang sekaligus tantangan besar. Tantangan dan negatifnya ketika anak-anak muda mulai tercerabut dari budaya, seni, dan kearifan lokal. Peluang dan positifnya ketika mereka mengomparasikan teknologi informasi untuk memajukan kebudayaan Nusantara. Sebab, kemajuan pendidikan saat ini ditentukan kompetensi, karakter, dan literasi. Di dalam sebuah kesenian, terdapat tiga hal tersebut.

Ketoprak sebagai salah satu produk budaya menjadi kekayaan yang harus dijaga dan dimajukan di era Revolusi Industri 4.0. Mengapa? Karena indikator bangsa maju adalah yang maju budayanya. Negara bisa maju secara teknologi, namun ketika tidak memiliki kebudayaan dan kesenian, mereka akan kering spiritualnya dan tidak memiliki identitas. Indonesia sebagai negara kaya raya budayanya harus lebih unggul dan memajukan kebudayaan di era siber saat ini.

Selain ondel-ondel, barong, ludruk, debus, kesenian ketoprak di Nusantara selama ini hanya dinilai kesenian “jadul” dan hanya orangtua yang wajib menjaganya. Padahal, kesenian rakyat ini harusnya digeluti anak-anak muda sebagai “emas budaya” karena banyak nilai-nilai terkandung di dalamnya sebagai wahana pembangun karakter bangsa.

Boleh saja anak muda berpedoman think globally, act locally (berpikir global, bertindak lokal). Sebaliknya, prinsip think locally, act globally (berpikir lokal, bertindak global) juga perlu dilakukan. Untuk itu, ketoprak sebagai khazanah budaya lokal perlu dibangun paradigma pemahaman lokal yang lahir dari cara berpikir masyarakat untuk diglobalkan. Mengglobalkan kebudayaan lokal menjadi kunci memajukan kebudayaan Nusantara di kancah global, baik secara pemikiran dan tindakan.

Ketoprak sebagai Budaya Nusantara

Budaya lokal khas Nusantara sangat melimpah. Ketoprak merupakan salah satu produk budaya tersebut. Koentjaraningrat (2000) berpendapat budaya lokal terkait dengan istilah suku bangsa. Suku bangsa sendiri merupakan golongan manusia yang terikat kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan.

Ketoprak dalam seni pertunjukan tidak ada bedanya dengan teater atau drama tradisional. Semi (1993: 156) mendefinisikan drama sebagai cerita atau tiruan perilaku manusia yang dipentaskan. Drama tradisional merupakan contoh menggambarkan tidak adanya naskah dalam drama. Kegiatan pemanggungan atau cerita yang dibawakan di atas panggung merupakan improvisasi pemain dengan gambaran alur yang sudah disepakati bersama. Hal ini misalnya terjadi pada ketoprak, wayang orang, ludruk, dan sebagainya.

Soemanto (2001: 9) menjelaskan, teater berasal dari bahasa Yunani “theatron” yang mengacu sebuah tempat, di mana aktor mementaskan lakon, dan orang-orang menontonnya. Inti teater merupakan pertunjukan melibatkan unsur pelaku dan penonton. Baik teater atau drama tradisional, di berbagai negara telah memilikinya, sedangkan Indonesia sendiri memiliki ketoprak yang tidak kalah adiluhung dengan drama atau teater.

Hasil penelitian Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI, menyatakan ketoprak lahir di Surakarta pada 1908 yang diciptakan RMT Wreksodiningrat. Pada awal 1908, RMT Wreksodiningrat mengadakan latihan kethoprak. Dalam latihannya, ia menggunakan alat tetabuhan, seperti lesung, sebuah terbang (rebana), dan sebuah seruling. Pemainnya terdiri dari Mbok Gendro alias Nyi Badur dan Ki Wisangkoro (Sudyarsana, 1984: 65).

Hatley (2008: 19-20) menjelaskan, ketoprak muncul pada pertengahan akhir abad 19 di daerah pedalaman Surakarta dan Yogyakarta. Sekitar 1977, ketoprak dikembangkan sebagai hiburan musikal di beberapa daerah di Jawa, yang dipentaskan pascapanen atau perayaan masyarakat. Musik kothekan digunakan mengiringi pertunjukannya, yaitu menggunakan lesung dan alu. Pertunjukan tersebut dilangsungkan pada malam hari. Satu atau dua orang memukul lesung, beberapa orang memanggil penduduk desa yang lain, beberapa orang yang datang ikut memukul lesung, dan ada pula yang menari.

Pada akhir abad 19 diberi cerita sederhana. Alat musik pun diperbanyak dengan menambahkan kendang, seruling, dan tamburin. Ketoprak berkembang pesat yang merupakan sandiwara tradisional Jawa dan memainkan cerita lama dengan iringan musik gamelan, disertai tari-tarian dan tembang.

Dalam risetnya, Ulya (2011:xix) menjelaskan lahirnya ketoprak dilatarbelakangi tujuan mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajah. Ketoprak memiliki sifat terbuka, relatif, fleksibel, dan responsif sehingga mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Dari penjelasan itu, ketoprak sangat adiluhung dan memiliki akar sejarah sangat nasionalis, indigen, karena ditujukan untuk mengusir penjajah. Membumikan dan menggerakkan ketoprak sangat urgen untuk memajukan kebudayaan. Sebab, selama ini yang melestarikan hanya seniman, pemilik sanggar, dan hanya di beberapa daerah tertentu, baik di Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Jawa Barat.

Desain Sekolah Ketoprak

Sekolah ketoprak urgen diterapkan sebagai usaha memajukan kebudayaan. Munculnya sanggar, grup, kelompok seni, atau sejenisnya harus direspon positif kementerian, dinas, dan lembaga pendidikan. Jika hanya dimasukkan dalam pembelajaran yang orientasinya hanya pengetahuan tanpa kompetensi sikap dan keterampilan, maka akan susah memajukan kebudayaan melalui ketoprak.

Ada beberapa desain sekolah ketoprak dalam menguatkan pendidikan seni dan memajukan kebudayaan. Pertama, integrasi Kurikulum 2013 yang menyasar kompetensi inti pada capain sikap dan keterampilan, tidak sekadar pengetahuan. Dalam pembelajaran, aspeknya tidak sekadar kognitif (pengetahuan), namun harus menguatkan afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) pada kesenian ketoprak.

Kedua, penguatan pendidikan seni, budaya, dan sastra dengan menekankan materi dengan muatan drama, teater, dan ketoprak dengan porsi lebih. Ketiga, membentuk sekolah ketoprak berupa grup, sanggar, atau kelompok seni di jenjang SD/MI, SMP/MTs, sampai SMA/SMK/MA. Hal itu urgen dan mendukung substansi Kurikulum 2013 yang mengamanatkan ekstrakurikuler dan sudah sesuai Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan.

Dalam sekolah ketoprak itu, guru membagi para siswa untuk menempati posisi dalam ketoprak. Mulai sutradara, pemain, teknisi (pekerja panggung), dan penonton, serta mengusahakan sarana pendukung, yang terdiri dari pentas dan komposisinya, kostum (busana), tata rias, pencahayaan, serta tata suara dan ilustrasi musik yang diciptakan siswa sendiri.

Ketiga, pembelajaran seni dan budaya kontekstual. Materi dan pembelajaran harus menghasilkan produk, baik berupa tari, gerakan, drama, atau lagu-lagu Jawa yang dapat diterapkan langsung saat pentas ketoprak. Keempat, mendatangkan tamu seniman tiap seminggu atau sebulan sekali yang memiliki kapasitas dan pengalaman dalam kesenian ketoprak. Baik dalam naskahnya, lagu atau tariannya, atau busana, tata rias, dan ilustrasi musik ketoprak.

Kelima, membuat parade atau festival ketoprak di masing-masing provinsi yang dapat dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayan atau Dewan Kesenian Daerah yang pesertanya adalah siswa-siswi. Keenam, sinergi antara Kemdikud, dinas, seniman, grup, sanggar, atau kelompok ketoprak, orangtua / keluarga dan masyarakat. Ketujuh, promosi ketoprak anak/siswa melalui media massa (siber/cetak/radio/televisi), dan Youtube. Dengan demikian, ketoprak anak yang lahir dari sekolah ketoprak dapat dikenal publik di mana saja berada.

Memajukan Kebudayaan

Dalam sejarahnya, ketoprak mencapai puncak perkembangannya pada tahun 1950-an sampai 1970-an. Saat ini, masa emas itu sudah terlewati dan ketoprak mendapatkan tantangan berat karena harus berhadapan berbagai bentuk dan jenis hiburan lebih murah, mudah, dan praktis. Seperti musik dangdut, organ tunggal, dan hiburan murah yang dapat diakses melalui gawai.

Keseriusan memajukan kebudayaan dapat dilakukan dengan menguatkan sekolah ketoprak. Harus ada pembinaan non-materi berupa pembinaan pada generasi-generasi muda yang dilakukan seniman-seniman ketoprak senior, dan bantuan dana, penyediaan sarana dan prasarana, serta penyelenggaraan festival ketoprak.

Subanar (2006: 1-6) berpendapat, ketoprak sekarang harus lebih modern, canggih, dan eksploratif. Perlu ada unsur-unsur teknologi dalam pertunjukan ketoprak, misalnya penggunaan multimedia. Cerita-cerita yang disajikan pun tidak hanya berasal dari cerita-cerita rakyat, tetapi sudah mulai mengadopsi cerita-cerita barat, seperti Oidipus Rex yang diadopsi menjadi Oidipus Sang Nata, dan lainnya.

Indikator kemajuan kebudayaan melalui sekolah ketoprak ketika banyak anak-anak mulai menyukai kesenian tersebut. Ketoprak anak tidak sekadar menjadi tontonan, namun menjadi tuntunan. Ketoprak juga dapat menjadi wahana pemersatu antara rakyat dengan pemimpin.

Shepherd (1977) berpendapat, selain sebagai tontonan, kesenian seperti ketoprak berfungsi sebagai komunikasi simbolik, tuntunan hidup, sarana negoisasi sosial dan usaha pemulihan ketertiban sosial. Lewat simbol-simbol yang dipresentasikan dalam pertunjukan ketoprak, penonton akan belajar tentang makna dari nilai-nilai hidup yang dianut bersama dalam kehidupan sosial.

Sekolah ketoprak jika berjalan maksimal menjadi peranti untuk memajukan kebudayaan. Sebab, ketoprak menjadi “harta karun” terpendam di negara ini yang dapat dimajukan melalui penguatan sekolah ketoprak. Rumusnya, ketoprak bukan segalanya, namun segalanya dapat berasal dari ketoprak!

Penulis: Hamidulloh Ibda

Ketua Program Studi PGMI STAINU Temanggung, yang Juga Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah