BERBAGI

JAKARTA, Warta Nasional – Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Sri Nurherwati mengatakan perempuan korban kekerasan masih kesulitan mengakses keadilan karena belum ada peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.

“Substansi peraturan perundang-undangan yang ada belum mengakomodasi kekerasan seksual untuk kepentingan pemulihan korban,” kata Nur dalam Sosialisasi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Kamis (14/3)

Ia mengatakan peraturan perundang-undangan yang ada masih melihat kekerasan seksual dari sudut nilai kesusilaan, sehingga baik korban maupun pelaku diperlakukan sama dalam sistem hukum.

“Karena itu, Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual diarahkan untuk lebih melindungi perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual,” ujarnya.

Nur menuturkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual juga penting segera disahkan karena peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini belum memberikan mandat kepada negara untuk melakukan pencegahan, serta pemulihan korban dan rehabilitasi bagi pelaku.

Hukum acara pidana yang berlaku masih terbatas pada jaminan perlindungan hak asasi tersangka dan terdakwa, belum menyentuh korban.

“Jaminan perlindungan dan akses keadilan terhadap korban, terutama korban kekerasan seksual, belum tersedia terutama bagi perempuan dan anak yang termasuk kelompok rentan,” Pungkasnya.

Calon wakil presiden KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno akan mengikuti debat putaran ketiga dengan tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya pada 17 Februari.

Pemilihan Presiden 2019 diikuti dua pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno. (Ant/WN)