BERBAGI
Pelaksanaan sosialisasi yang dilakukan BPJS Kesehatan Cabang Semarang dan Puskesmas Mranggen 2, kepada masyarakat tentang Program Rujuk Balik dan Program Pelayanan Penyakit Kronis. Berlokasi di aula Kecamatan Mranggen, Demak, Selasa (9/7/2019).

SEMARANG, Warta Nasional – Pada era program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), masyarakat khususnya peserta JKN-KIS cenderung ingin memanfaatkan pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat lanjutan (FKRTL).

Namun sebaiknya, sebagai peserta juga perlu mengetahui alur dan prosedur pelayanan kesehatan, yang mengharuskan peserta untuk kontak terlebih dahulu dengan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), seperti Puskesmas, Klinik, maupun Dokter Praktek Mandiri, kecuali dalam keadaan gawat darurat.

Kepala Puskesmas Mranggen, dr. Haerudin menjelaskan, berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia tahun 2012, dari 736 daftar penyakit terdapat 144 penyakit yang harus dikuasai penuh oleh para lulusan.

Diharapkan dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dapat mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas.
Sejalan dengan adanya ketentuan tersebut, BPJS Kesehatan Cabang Semarang dan Puskesmas Mranggen 2, bersama-sama memberikan edukasi kepada masyarakat di Kecamatan Mranggen Demak, tentang Program Rujuk Balik dan Program Pelayanan Penyakit Kronis.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan promotif preventif Puskesmas Mranggen 2. Jadi kami tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan bagi yang sakit atau pelayanan kuratif saja, namun juga pelayanan promotif dan preventif, sebagai upaya mencegah dan meningkatkan status kesehatan masyarakat,” jelas Haerudin, pada wartanasional.com, Selasa (9/7/2019).

Ada tiga hal penting yang disampaikan dalam acara sosialisasi tersebut, Pertama, Skrinning Kesehatan.
Sebagai peserta JKN-KIS harapannya tidak sakit, sehingga sebagai upaya mendeteksi faktor risiko penyakit Diabetes Mellitus akan dilakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan dan lingkar perut bagi peserta yang berkunjung ke FKTP.

Kedua, Prolanis, dari hasil skrinning peserta apabila hasilnya kurang baik dan mengindikasikan gejala Diabetes melitus dan Hipertensi, maka peserta harus mulai mengevaluasi atau merubah pola makan, pola hidup (life style), konsultasi dokter, dan dihimbau menjadi peserta Prolanis.
Halaman selanjutnya

Ketiga, mengenai Program Rujuk Balik (PRB). Peserta yang memperoleh pelayanan kesehatan di rumah sakit apabila tidak ada komplikasi, tidak ada penyulit, dan dalam keadaan stabil, maka bisa dikembalikan atau dirujuk balik oleh dokter spesialis RS ke FKTP.

“Bagi peserta JKN-KIS apabila dari fasilitas kesehatan memberikan pengantar skrinning lanjutan mohon untuk dipatuhi, karena banyak dari peserta yang mengabaikan merasa sehat dan baik-baik saja,” ungkap Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Asri Wulandari.

Dijelaskan, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang diselenggarakan oleh Puskesmas bagi peserta JKN-KIS dengan penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus sangat bisa ditangani di Puskesmas, karena dokter di Puskesmas bisa memberikan obat yang sama dengan yang diresepkan oleh dokter spesialis di Rumah Sakit.

Sehingga tidak perlu masyarakat yang menderita penyakit Diabetes Melitus dan Hipertensi “minta” dirujuk ke Rumah Sakit hanya untuk berobat, karena tentunya membutuhkan waktu dan biaya bagi yang tempat tinggalnya jauh.

Perlu diketahui, ada sembilan penyakit yang bisa dirujuk balik antara lain, Diabetes Mellitus, Hipertensi, PPOK, Epilepsi, Asma, Jantung, Penyakit Jiwa, SLE, dan Stroke.

Pengobatan dan pemantauan pasien PRB selanjutnya akan diteruskan oleh dokter di FKTP, sama persis yang diberikan oleh dokter spesialis di RS. Untuk Obatnya disediakan dan dilayani oleh Apotek PRB yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

“Ini yang kami harapkan, bahwa Puskesmas sebagai FKTP menjadi garda pertama dalam memberikan pelayanan dengan peserta JKN-KIS dan dekat dengan masyarakat.

Sehingga edukasi-edukasi yang dilakukan oleh Puskesmas bisa merubah paradigma masyarakat, dari sakit menjadi sehat dan juga merubah mindset masyarakat bahwa berobat tidak harus selalu ke Rumah Sakit, Karena di FKTP juga bisa,” pungkasnya. (WN)