BERBAGI
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim Hadi Sulistyo (Istimewa)

KEDIRI, Warta Nasional – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur menyebutkan kekeringan yang melanda wilayah Jatim dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir tidak memengaruhi secara signifikan produksi gabah petani.

“Saya kira imbas kekeringan dengan luas lahan 1,9 juta hektare, yang kena hanya 1,3 persen dan puso 0,05 persen, jadi pengaruhnya kecil,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim Hadi Sulistyo saat acara gelar inovasi teknologi tanaman pangan dan hortikultura di Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Kamis.

Dalam acara yang juga dihadiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa itu, Hadi mengatakan beberapa daerah yang dilanda kekeringan misalnya Pacitan, Tuban, Bojonegoro, Lamongan dan sejumlah daerah lainnya. Namun, diprediksi produksi padi justru bisa surplus.

Lebih lanjut, ia mengatakan produksi beras dari Jatim bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok di Jatim melainkan juga dikirim ke berbagai daerah di luar Jatim.

“Produksi padi akhir tahun surplus 3,6 juta ton beras. Produksi bukan hanya untuk Jatim, tapi juga luar Jatim, tapi tidak ekspor beras,” kata dia.

Sementara itu, terkait dengan tanaman jagung, ia mengatakan pemerintah berusaha untuk memperluas tanaman ini. Daerah yang berpotensi untuk dikembangkan adalah Madura.

“Jagung saat ini luasannya tambah sekitar 2 persen. Jagung juga potensi untuk dikembangkan di Madura, masih 300 ribu hektare,” kata dia.

Ia mengatakan warga di Pulau Madura saat ini lebih menyukai jagung lokal ketimbang jagung hibrida. Padahal, secara produksi lebih menguntungkan jagung hibrida. Untuk harga juga berbeda, dimana jagung lokal harganya hanya sekitar Rp2 ribu per kilogram.

“Jagung hibrida nilai lebih besar ketimbang jagung lokal. Bagaimana Madura beralih ke jagung hibrida, karena di sana masih sekitar 40 persen jagung lokal. Budaya masyarakat kalau tidak jagung lokal kurang puas, padahal harga selisih. Yang lokal Rp2.000 per kilogram, yang hibrida bisa Rp4.000 per kilogram,” kata dia. (Ant/WN-001)