BERBAGI
Film "Bumi Manusia" (ist)

JAKARTA, Warta Nasional – Saat pertama kali diumumkan bahwa “Bumi Manusia” akan menjadi film layar lebar, muncul pro dan kontra di antara penggemar Pramoedya Ananta Toer lantaran khawatir karya sang penulis legendaris itu akan “ternodai”, namun Hanung Bramantyo ternyata mampu menepis keraguan itu.

“Bumi Manusia” akan tayang hari ini di seluruh bioskop Indonesia, perlu diketahui bahwa film tersebut memiliki durasi yang cukup panjang yakni 2 jam 52 menit.

Meski demikian, Hanung menyajikannya dengan sangat menarik sehingga durasi hampir tiga jam menjadi tidak terasa.

“Bumi Manusia” secara garis besar berkisah tentang percintaan antara Minke (Iqbaal Ramadhan) seorang pribumi dan Annalies Mellema (Mawar de Jongh) seorang blasteran Indonesia-Belanda dari ayah bernama Herman Mellema dan ibu bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).

Minke yang awalnya mengagungkan budaya Eropa, menjadi terbuka pandangannya terhadap bangsa pribumi setelah mengenal Nyai Ontosoroh yang selalu melakukan perlawanan pada penindasan, terlebih saat memperjuangkan status Annalies sebagai anaknya di pengadilan.

Meski berlatar belakang tahun 1800an, warna dalam film ini tidak lantas menjadi sephia, seperti ciri khas Hanung pada film lainnya, di sini dia juga menggunakan warna yang cerah dan menarik mata, khususnya pada bagian awal film.

Menariknya, “Bumi Manusia” juga dibuat dengan proses penceritaan yang santai, tutur bahasa yang digunakan tidak terlalu sastra sehingga mudah dicerna oleh penonton meski tetap menggunakan bahasa Jawa dan Belanda.

Para pemainnya terlihat sangat fasih dalam berbahasa Jawa dan Belanda, khususnya Iqbaal dan Jerome Kurniawan sebagai Robert Suurhoff yang menjadi rekan Minke.

Yang terpenting, Hanung mampu menjadikan film ini tidak membosankan walau berdurasi panjang. Sutradara “Habibie & Ainun” itu membuat penonton tetap menikmati adegan per adegan tanpa perlu merasa kapan filmnya akan berakhir.

Semua berjalan dengan sangat halus dan mulus, ditambah permainan emosi yang naik-turun dari bahagia, sedih hingga pedih membuat penonton enggan beranjak meninggalkan kursi untuk sekadar ke toilet.

Salman Aristo sebagai penulis skenario dengan piawai menciptakan dialog yang bisa menyentuh penonton dan mampu menerjemahkan sastra novel ke dalam visual yang sarat dengan hal menghibur dan tidak membingungkan. (Ant/WN-002)