BERBAGI
Nanang Qosim, Guru, Dosen dan Peneliti

Oleh : Nanang Qosim*

Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang di dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Kalimat ini tertuang di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Di dalam pasal 1 dijelaskan yang dimaksud dengan perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Dilihat dari pengertian tersebut diatas, jelas bahwa dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah merupakan suatu upaya yang luhur dari pemerintah dan negara untuk menjamin pengakuan hak azazi manusia yang pelaksanaannya sejak usia anak. Pelindungan yang diberikan terhadap anak ini meliputi dari seluruh aspek kehidupan dengan tujuan tidak ada lagi perlakuan yang salah terhadap ada meliputi perlakuan diskriminasi, eksploitasi (baik ekonomi maupun seksual), penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya.

Sering kali kita mendengar keluhan-keluhan baik dari orang tua maupun lembaga-lembaga yang aktivitasnya berhubungan dengan anak-anak merasa tidak nyaman dengan adanya undang-undang tentang perlindungan anak ini, dimana mereka merasa serba salah dan takut disalahkan apabila melakukan tindakan-tindakan terhadap anak. Anggapan ini tidaklah benar karena undang-undang perlindungan anak ini pada prinsipnya tidak menghambat maupun melarang dilakukan penegakan disiplin terhadap anak, tetapi sepanjang tidak dilakukan secara kekerasan sampai menimbulkan cacat baik fisik maupun mental tidak dipermasalahkan.

Kenyataan yang terjadi sering kali kita saksikan baik di lingkungan kita sendiri maupun pemberitaan di media tentang kejadian-kejadian yang mengatas namakan pembinaan maupun penegakan disiplin tetapi dilakukan secara brutal di luar kemanusiaan bahkan dengan kejam yang luar biasa bahkan dengan mengunakan benda-benda yang keras untuk memukul. Apakah ini dinamakan pembinaan? Atau penegakan disiplin? Kalau hal ini yang terjadi pastilah kekerasan namanya, dan akan berhadapan dengan undang-undang perlindungan anak melalui sanksi-sanksi hukum.

Di dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengatur bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali ataupun pihak lain berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan:

Diskriminasi

Diskriminasi atau yang dalam pengertian kata yang artinya perbedaan perlakuan adalah sebuah kata yang sudah tidak asing lagi bagi kita bahkan mungkin kita pernah mengalami bahkan juga pernah melakukannya. Perlakuan diskriminasi ini sangat tidak dibenarkan karena merupakan upaya menghambat kesempatan seseorang. Perlakuan diskriminasi dapat terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat bahkan dilingkungan pemerintahan.

Seperti contoh, di lingkungan keluarga masih ada perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan. Di lingkungan masyarakat masih ada perbedaan perlakuan antara masyarakat biasa dan masyarakat berkelas serta di lingkungan pemerintah.

Seperti di sekolah masih ada perbedaan perlakuan antara anak orang miskin dan anak orang kaya atau anak pejabat. Undang-undang perlindungan anak sangat melarang perlakuan ini bahkan apabila dapat dibuktikan perlakuan tersebut akan dikenakan sanksi hukum.

Eksploitasi (baik ekonomi maupun seksual)

Perlakuan eksploitasi terhadap anak atau pemanfaatan anak untuk kepentingan/ keuntungan sendiri sering terjadi di mana-mana. Hal ini mungkin disebabkan faktor kemiskinan akan tetapi perlakuan ini sangat tidak dibenarkan karena merampas hak-hak anak untuk mendapatkan perlakuan yang baik. Perlakuan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi misalnya anak usia sekolah diharuskan bekerja baik untuk kebutuhan diri anak sendiri maupun untuk membantu ekonomi orang tuanya.

Kejadian ini banyak terjadi baik di kota-kota maupun di desa-desa. Perlakuan eksploitasi secara seksual banyak terjadi di kota-kota di mana banyak pekerja-pekerja seks atau pekerja di tempat-tempat hiburan masih berusia anak-anak (di bawah 18 tahun) bahkan ada sampai diperjual belikan oleh sindikat-sindikat tertentu. Perlakuan ini bertentangan dengan undang-undang perlindungan anak bahkan diancam sanksi hukum apabila dapat dibuktikan.

Penelantaran

Perlakuan penelantaran sering terjadi di mana orang tua dan masyarakat tidak peduli keadaan dan nasib anak. Hal ini bertentangan dengan undang-undang perlindungan anak dimana anak mendapat perlakuan yang layak agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan harkat dan martabat selaku manusia.

Kekejaman, Kekerasan, dan Penganiayaan

Perlakuan kekejaman, kekerasan dan penganiayaan sering terjadi di mana-mana bahkan mungkin dilingkungan kita sendiri. Perlakuan ini menunjukkan bahwa masih banyak orang tua dan masyarakat belum memiliki sifat manusiawi dan sukan melampiaskan kekesalan serta kemarahan dengan anak yang merupakan makhluk lemah.

Ketidakadilan

Perlakuan ketidakadilan sering kita jumpai baik di lingkungan kita sendiri maupun melalui pemberitaan di media.  Perlakuan ketidakadilan bisa terjadi antara orang tua, guru, masyarakat bahkan pengadilan terhadap anak. Perlakuan ini bertentangan dengan undang-undang perlindungan anak bahkan diancam dengan sanksi hukum.

Dari perlakuan-perlakuan yang salah terhadap anak tersebut mungkin masih ada perlakuan-perlakuan yang salah lainnya. Undang-undang perlindungan anak mengatur serta memberikan sanksi hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran seperti tersebut di atas. Dengan adanya Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak diharapkan para orang dan masyarakat khususnya lembaga-lembaga yang aktivitasnya berhubungan dengan anak dapat memahami serta melaksanakan upaya perlindungan anak, agar anak sebagai penerus bangsa dapat terwujud.

Kalau ada anggapan-anggapan bahwa anak adalah hak orang tua sepenuhnya dan orang lain tak boleh ikut campur itu adalah salah. Selagi tidak melakukan kekerasan baik fisik maupun mental itu adalah hak orang tua sepenuhnya. Termasuk lembaga yang berkaitan dengan anak seperti sekolah dan lain-lain.

Upaya-upaya pembentukan disiplin silakukan dilakukan baik dengan memberikan hukuman-hukuman jera tetapi tidak dengan melakukan kekerasan atau kekejaman dengan menimbulkan luka atau cacat dbaik fisik maupun mental.  Karena hal ini bertentangan dengan undang-undang perlindungan anak serta diancam dengan sanksi hukum. Dalam upaya memberi kan pelayanan yang baik dan benar dilakukan upaya-upaya pelayanan ramah anak. Mudah-mudah dengan dilakukan upaya perlindungan anak dengan baik dan benar, cita-cita masyarakat madani serta terhindar dari kekerasan akan terwujud yang pada akhirnya terwujudkan bangsa Indonesia yang kuat.

Penulis: Nanang Qosim (Dosen UIN Walisongo Semarang, Pengurus LTN NU Kota Semarang)