BERBAGI
Foto: Ilustrasi

AMBON, Warta Nasional – Harga bawang merah maupun bawang putih yang dijual pedagang di Piru, ibu kota kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), pada pertengahan hingga pekan terakhir Agustus 2019 mengalami penurunan sehingga diapresiasi ibu rumah tangga.

Seorang ibu rumah tangga di Piru, Riny, yang dihubungi dari Ambon, Rabu, mengatakan, harga bawang merah saat ini dijual pedagang dengan harga Rp30.000 per kg, turun dibandingkan pekan lalu yang bervariasi yakni Rp35.000 – Rp40.000 per kg. Sedangkan, bawang putih juga mengalami turun dari Rp40.000 per kg menjadi Rp37.500 per Kg.

“Jadi kesempatan bisa membeli dalam jumlah banyak untuk disimpan mengantisipasi kemungkinan harga bawang melonjak kembali karena komoditas ini sering kali berfluktuasi,” ujar Riny.

Pemilik rumah makan ini mengaku memanfaatkan turunnya harga bawang dengan membeli dalam jumlah banyak, selanjutnya disimpan di freezer (lemari pendingin/pembeku).

“Komoditas bumbu masak ini dipasok dari sentra produksi Surabaya, Jawa Timur sehingga sering kali harganya berfluktuasi karena terlambat pemasokan atau produksi kurang akibat terendam banjir maupun kekeringan,” katanya.

Dia menginginkan, harga bawang merah tetap bertahan, sedangkan bawang putih perlu diturunkan sehingga mendekati harga normal.

“Harga normal bawang, baik merah maupun putih masing – masing bervariasi Rp30.000 – Rp35.000 per Kg sehingga tidak meresahkan masyarakat, terutama ibu rumah tangga, termasuk pengelola rumah makan,” ujar Riny.

Disinggung harga telur ayam ras, dia menjelaskan, mengalami penurunan dari Rp310.000 per ikat (180 butir) menjadi Rp305.000 per ikat. Sedangkan, rak harganya bervariasi Rp55.000 – Rp56.000.

Salah seorang pedagang di Piru, Win membenarkan, memasok telur ayam ras produksi peternak desa Hatusua, kabupaten SBB yang ternyata kualitasnya lebih baik, tidak busuk maupun pecah dibandingkan dipasok dari Ambon.

“Telur ayam ras yang dibeli di Ambon itu dipasok dari Surabaya yang kemungkinan karena lama pelayaran kapal mempengaruhi kualitasnya, bahkan sering busuk atau pecah di masing – masing ikat,” ujarnya.

Hanya saja, dia mengakui, produksi peternak desa Hatusua masih terbatas dibandingkan kebutuhan masyarakat, terutama menjelang perayaan hari – hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

“Saya hanya bisa pengadaan 100 ikat telur ayam ras dari Hatusua setiap dua pekan sekali sehingga Pemkab SBB perlu memfasilitasi peternak setempat sehingga bisa meningkatkan produksi agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya. (Ant/WN-001)