BERBAGI
Ketua Pansus RTBL, Suharsono (Foto : Istimewa)

SEMARANG, Warta Nasional – Kota Semarang dinilai perlu mengembangkan hutan mangrove, selain pencegah abrasi, hutan mangrove juga berperan sebagai penyedia oksigen, dan objek wisata.

“Kami berharap pemerintah kota memiliki lahan konservasi di garis pantai. Panjang pantai Kota Semarang diketahui 36,6 kilometer,” kata Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono di Semarang, Jum’at (11/10).

Suharsono mengungkapkan, Kota Semarang mencakup empat kecamatan di wilayah pesisir, yakni Kecamatan Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara dan Kecamatan Genuk.

’’Harus mulai dikembangkan sekarang untuk hutan mangrove, karena Semarang kota pantai. Tujuannya selain menanggulangi abrasi juga berpotensi menjadi destinasi wisata,’’ kata Politisi PKS itu.

Pohon mangrove yang memiliki akar kokoh dianggap mampu melindungi dataran dari gelombang air laut. Sehingga fenomena abrasi dapat ditekan dan dampak yang ditimbulkan tidak makin meluas. Sejak satu dekade terakhir, luasan abrasi di Kota Semarang mengalami peningkatan. Kini luasnya mencapai 1.406 hektare.

Angka itu meningkat dibanding 2014 (1.281 hektare). Pada 2010 lalu, luas abrasi hanya 591 hektare dan dua tahun sebelumnya atau pada 2018 seluas 601 hektare. Kelurahan Mangunharjo di Kecamatan Tugu tercatat sebagai kelurahan terluas yang mengalami abrasi yakni seluas 248 hektare.

Sementara itu data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jateng, menunjukkan luas hutan mangrove di Kota Semarang sekitar 96,4 hektare. Kecamatan pesisir yang mempunyai ekosistem mangrove paling luas yakni Kecamatan Tugu dengan 48,2 hektare. Setelah Tugu, diikuti Kecamatan Semarang Barat, Genuk dan Kecamatan Semarang Utara.
(WN -008)

Editor : Tri Wahyu