BERBAGI
Penampilan salah satu peserta lomba baca puisi serangkaian Festival Seni Bali Jani 2019(Istimewa)

DENPASAR, Warta Nasional – Sebanyak 37 siswa SMA dari berbagai kabupaten/kota di Bali ikut ambil bagian dalam ajang lomba membaca puisi tingkat SMA serangkaian Festival Seni Bali Jani (FSJB) 2019 di Taman Budaya, Denpasar, Kamis.

“Semua peserta yang ikut lomba ini sudah tampil dengan maksimal. Akan tetapi, masih ada kekurangjelian peserta dalam memilih puisi yang dibacakan,” kata IBW Widiasa Keniten, salah seorang juri baca puisi usai perlombaan tersebut.

Mereka tampil dengan membawakan satu puisi yang disediakan oleh panitia yakni puisi Amir Hamzah, Umbu Landu Paranggi, Putu Vivi Lestari, Made Adnyana Ole, maupun Subagaio Sastrowardoyo. Dari hasil penjurian juara satu diraih oleh peserta dari SMAN 3 Denpasar.

Menurut Widiasa, kekurangtelitian peserta memilih puisi diantaranya terlihat ada beberapa peserta yang memilih puisi tak sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, seseorang yang berbakat pada puisi yang agak kalem, memilih puisi yang garang sehingga tidak bisa memperoleh rasa puisi yang dibacakan.

“Saya tahu untuk memilih seorang pembaca puisi dari sekian banyak siswa di sekolah memang sulit, akan tetapi yang perlu diperhatikan yakni pemilihan puisi yang dibacakan agar sesuai dengan kemampuan siswa,” ucapnya.

Sementara itu juri lain, Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati mengamini perkataan Keniten yang menganggap pembaca puisi yang tampil sebagian besar sudah tampil dengan maksimal.

“Menurut saya hampir 90 persen peserta yang tampil sudah sangat bagus dan bisa menguasai puisi yang dibacakannya,” katanya. Namun, Wulan menyoroti terkait penggunaan gerak tubuh yang digunakan oleh beberapa peserta yang dianggapnya terlalu berlebihan.

Menurut dia tidak semua kata yang ada dalam puisi harus digerakkan. Selain itu, ia juga meminta kepada pembina agar tak membentuk 100 persen siswa yang ditunjuk membaca puisi.

“Jangan terlalu dibentuk, sehingga mereka akan kehilangan jati dirinya. Seolah-olah yang membaca puisi di panggung adalah pembinanya bukan siswa. Jadinya siswa hanya mewakili pembinanya dan mereka kehilangan jati diri,” katanya. (Ant/WN)