BERBAGI
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kutim, Roma Malau(Istimewa)

SANGATTA, Warta Nasional – Kabupaten Kutai Timur berpeluang mendapatkan penghargaan “Kita Harus Belajar” (Kihajar) 2019 dari Kementerian Penddikan dan Kebudayaan setelah dinyatakan lolos tahap 18 besar oleh Tim Penilai Anugerah Kihajar 2019.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Timur Roma Malau, di Sangatta,Senin menjelaskan ada 34 nominasi atau daerah yang berhasil ke tahap presentasi dan saat ini sudah terpilih 21 daerah untuk masuk ke tahap penilaian uji petik.

Dia mengatakan Kabupaten Kutim menjadi salah satu yang kemungkinan besar meraih penghargaan ini dan akan mewakili 10 kabupaten se-Indonesia.

“Kami telah melaksanakan persentasi di hadapan dewan juri dari Pustekkom, hasilnya Kutim masuk 18 besar. Untuk melenggang ke tahap selanjutnya yakni 10 besar, maka pihak Pustekkom melakukan uji petik langsung ke lapangan untuk melihat apa yang disampaikan dalam presentasi,” katanya.

Roma menjelaskan bahwa tim penilai Kihajar 2019 dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), telah mengunjungi Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Tujuan kedatangan tim penilai yakni untuk melihat langsung penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) salah satunya Digital Learning yang sudah mulai diterapkan didua Sekolah di Kutim yaitu di SMP Negeri 1 Sangatta Utara dan SMA Negeri 2 Sangatta Utara.

Selain sistem digital learning diungkapkan Roma Malau, Sistem Informasi Kinerja Guru atau Simaksiru dan Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) untuk pengelolaan Dana BOS juga ditonjolkan dalam penilaian penghargaan Kihajar ini.

“Seperti SIMDA Bos pelaksanaanya sudah terarah, ada sekitar 50 orang dari berbagai kecamatan langsung di interview tim Pustekkom. Mulai penginputan, perencanaan sampai apa yang keluar dari SIMDA, para operator bisa menjelaskan dengan baik,” katanya.

Roma berharap dengan jaman serba teknologi saat ini, seluruh kalangan baik kepala sekolah, guru, orang tua, bahkan jajaran Disdik Kutim tidak ada yang Gaptek.

Sementara itu, Perwakilan Petugas Pustekkom Veri Saputra menjelaskan, maksud kedatangan pihaknya ingin melihat secara langsung bagaimana implementasi TIK untuk membantu dunia pembelajaran di Kutim seperti sistem belajar hingga sistem administrasi sekolah.

“Kita sudah melihat sekolah ini (SMPN 1 Sangatta Utara) sudah menerapkan digital learning. Kita harapkan kedepan TIK di Kutim dapat lebih meningkat lagi. Begitu juga apa yang dilihat kondisi nyata disini sebagai bahan kami dalam melihat kondisi pendidikan di luar jawa terkait TIK untuk dunia pendidikan, kendalanya apa dan solusi yang diharapkan. Jadi kami dapat merangkum dan melaporkan,” kata Veri.

Veri berharap, sistem TIK ini dapat dimanfaatkan tidak hanya di disekolah yang ada diwilayah kota Sangatta saja, melainkan diseluruh kecamatan di Kutim.

“Tentunya harus dengan didukung infrastruktur, internet, listrik di yang memadai. Sehingga implementasi TIK di dunia pendidikan di Kutim dapat lebih baik lagi,” ujarnya. (Ant/WN)