BERBAGI
Ist

JAKARTA, Warta Nasional – Bertepatan dengan Hari Diabetes Dunia yang diperingati setiap tanggal 14 November, kali ini Federasi Diabetes Internasional (IDF) menyasar keluarga untuk meningkatkan kesadaran manajemen, perawatan, pencegahan dan pendidikan tentang diabetes.

Penelitian yang dilakukan oleh IDF pada 2018 menemukan bahwa orang tua akan berjuang mati-matian untuk mengetahui penyakit serius yang mungkin seumur hidup dapat diderita anak-anak mereka.

Meskipun sebagian besar orang tua yang disurvei IDF memiliki anggota keluarga yang sebenarnya menderita diabetes, empat dari lima orang tua mengalami kesulitan mengenali tanda-tanda diabetes, sedangkan satu dari tiga dari mereka bahkan tidak akan menemukan tanda-tanda tersebut.

Temuan ini menggarisbawahi perlunya pendidikan dan kesadaran untuk membantu orang menemukan tanda-tanda diabetes sejak dini.

Mari melihat seperti apa yang terjadi di Indonesia. Kota Bekasi, yang kerap diolok sebagai planet lain oleh penduduk Ibu Kota, ternyata memiliki catatan mengejutkan terkait warganya yang menderita penyakit diabetes.

Menurut Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati, sepanjang 2018 penderita diabetes mencapai 47.018 orang.

Yang lebih parah, penderitanya didominasi oleh mereka yang ada di usia produktif. Makanan mengandung gula dan karbohidrat berlebih yang dikonsumsi menjadi penyebab gula darah mereka meningkat.

Lalu bagaimana dengan anak-anak?

Baru-baru ini Sekretaris Endokrinologi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Nanis Sacharina Marzuki, Sp.A (K) mengatakan berdasarkan sebuah penelitian di luar negeri angka diabetes anak mencapai 5-10 persen diabetes melitus keseluruhan.

‚ÄĚJadi kalau tadi dikatakan di Indonesia ada sekitar 10 juta pasien diabetes mungkin sekitar 10 persen dari situ adalah anak-anak,” ujar dia.

Naning juga mengatakan dari angka tersebut 90 persen di antara anak-anak dan remaja mengidap diabetes melitus tipe 1 dan 90 persen anak dan remaja yang menjadi penderita diabetes melitus tipe 1 yang membutuhkan terapi insulin seumur hidup.

Diabetes tipe 1 adalah kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar gula atau glukosa dalam darah. Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh kurang atau sama sekali tidak memproduksi insulin sehingga berakibat penderita penyakit ini memerlukan tambahan insulin dari luar.

Sedangkan diabetes tipe 2 adalah kondisi di mana kadar gula dalam darah melebihi nilai normal disebabkan tubuh tidak menggunakan hormon insulin yang dihasilkan pankreas secara normal. Penyebab terganggunya sel tubuh yang tidak menunggu hormon insulin tersebut belum diketahui secara pasti, namun selain diduga berkaitan dengan gen ada pula faktor pemicu lainnya, seperti kurang olahraga, merokok, sering stres, kurang istirahat.

Sementara sejumlah kondisi yang diduga berisiko menimbulkan diabetes tipe 2 adalah yakni prediabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah, Hipertensi, Tingkat kolesterol baik (HDL), Trigliserida tinggi, Obesitas, Diabetes gestational yaitu diabetes yang terjadi selama kehamilan, Agantosis nigrikans.

Kenali diabetes

Menteri Kesehatan pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, Nila Moeloek mengatakan masyarakat di Indonesia cenderung masih menyepelekan diabetes, atau bahkan tidak tahu tanda-tanda penyakit ini.

Masyarakat perlu mengetahui tanda-tanda penyakit diabetes di antaranya sering haus, cepat lapar dan sering buang air kecil di malam hari. Sebagai contoh, ia mengatakan saat sering haus masyarakat terkadang berpikir bahwa hal itu disebabkan suhu udara yang panas.

Selanjutnya jika sering lapar dianggap karena kurang konsumsi makanan. Begitu pula masyarakat yang sering buang air kecil di malam hari malah menganggap hal itu disebabkan banyaknya konsumsi air atau cairan pada siang hari.

“Padahal ini merupakan tanda-tanda diabetes sehingga seharusnya kita menjadi lebih peka,” katanya.

Nila Moeloek juga mengatakan pemerintah saat ini sudah menyediakan pos binaan terpadu (posbindu) untuk menangani masyarakat yang mengidap diabetes.

“Posbindu ini merupakan fasilitas dari pemerintah untuk penanganan diabetes di Indonesia. Jadi, masyarakat perhatikan pola makan dan pemerintah sediakan fasilitasnya,” kata dia.

Secara umum, posbindu merupakan kegiatan monitoring dan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) terintegrasi, salah satunya diabetes. Selain itu, pemerintah juga memiliki sekitar 10.000 pukesmas, 22.000 klinik mandiri dan pos pelayanan terpadu (posyandu) yang disarankan tidak hanya melayani anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Sementara Konsultan Metabolik Endokrin Dr. dr. Fatimah Eliana mengatakan beberapa gejala diabetes yang terkadang tidak disadari yakni sering muncul rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil terutama pada malam hari, sering merasa ngantuk, sering merasa lapar dan lemas.

Apabila seseorang menemukan salah satu dari gejala tersebut, maka orang tersebut diimbau untuk segera memeriksa gula darahnya untuk melihat apakah orang itu memiliki tingkat gula darah tinggi atau tidak.

Seseorang berisiko terkena diabetes apabila tingkat gula darahnya mencapai di atas 300 mg/dL. (Ant/WN)