BERBAGI
Sejumlah siswa-siswi SD Kalamkudus Ambon diungsikan oleh guru dan orang tuanya di halaman kantor wilayah Ditjen Pajak Karang Panjang Ambon akibat gempa bumi yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya. (Istimewa)

AMBON, Warta Nasional – Ratusan siswa kelas satu hingga kelas enam Sekolah Dasar (SD) Kalam Kudus Ambon diwajibkan para guru dan yayasan selalu membawa helm pelindung kepala untuk setiap saat digunakan ketika terjadi guncangan gempa bumi tektonik.

“Anak saya yang baru duduk di kelas satu diwajibkan membawa helm pelindung kepala dan selalu diletakkan di samping meja belajar,” kata salah satu orang tua murid, John Tupan di Ambon, Minggu.

Selain itu, para guru dan pihak yayasan yang bekerja sama dengan BPBD provinsi Maluku juga telah melakukan simulasi bagi para siswa dari seluruh kelas untuk menyelamatkan diri ketika terjadi guncangan gempa.

Penerapan simulasi gempa di SD Kalam Kudus Ambon ini mendapat respon yang positif dari seluruh orang tua murid.

“Ketika terjadi guncangan gempa bumi pada saat jam belajar, guru di kelas langsung memberikan aba-aba kepada siswa menggunakan peluit,” katanya.

Bunyi peluit pertama menandakan para murid langsung memasang helm di kepala dan duduk di bawah meja sambil menunggu guncangan berakhir.

Kemudian saat peluit kedua dibunyikan menandakan para murid keluar dari bawah meja dan berjalan mengikuti belakang gurunya meninggalkan ruang kelas menuju tempat terbuka dan langsung keluar bangunan sekolah melalui pintu-pintu gerbang atau pun pintu darurat.

“Praktek seperti ini bertujuan melatih para murid dan guru untuk tidak lari berhamburan secara serempak tetapi mengikuti prosedur penyelamatan diri yang telah diajarkan,” ujarnya.

Setelah berada di halaman terbuka, para guru kemudian menggiring seluruh muridnya untuk berjalan menuju titik kumpul di daerah ketinggian yang dirasakan lebih aman.

Ketika terjadi gempa bumi susulan bermagnitudo 5,2 pada 10 Oktober 2019, para siswa SD Kalam Kudus dievakuasi para gurunya di halaman kantor Perbendaharaan Negara Karangpanjang Ambon, selanjutnya para orang tua murid dihubungi dan menjelaskan posisi mereka untuk dijemput.

John juga mengharapkan program seperti ini dimasukkan secara resmi ke dalam kurikulum pendidikan untuk semua siswa dari berbagai tingkatan agar anak-anak bisa terlatih sejak dini menghindarkan diri dari ancaman bencana alam gempa bumi. (Ant/WN)