BERBAGI

Oleh : Dr. Aji Sofanudin

Salah satu implikasi UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, adalah dibentuknya lembaga baru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selain implementasi UU, eksistensi BRIN sejatinya merupakan salah satu pemenuhan janji kampaye Jokowi-Amin untuk mewujudkan Indonesia Maju.

Menurut Kepala LIPI (2010-2014), Indonesia maju dan berdaya saing tinggi tak akan pernah terwujud tanpa penguatan peran iptek dan inovasi. Tantangan terbesar Menristek/Kepala BRIN bukanlah melebur atau menggabungkan berbagai lembaga riset yang sudah ada, melainkan menyinergikan segenap potensi daya iptek itu agar memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia yang lebih baik (Lukman Hakim, Kompas, 12/11).

Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi landasan dalam perencanaan pembangunan nasional. BRIN menjadi semacam holding yang mengkoordinasikan seluruh SDM ristek agar tujuan pembangunan tercapai.

Dalam konteks Jawa Tengah, salah satu wujudnya adalah mengubah nomenklatur Bappeda dari semula “Badan Perencanaan Pembangunan Daerah” menjadi “Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan” Jawa Tengah.

Artinya, Bappeda Jateng memiliki tusi utama penelitian dan pengembangan selain perencanaan pembangunan. Meskipun, disadari bahwa SDM peneliti di Bappeda Jateng jauh dari ideal, yakni hanya 8 peneliti. Jumlah SDM peneliti di Jawa Tengah sendiri belum terdata akurat.

Guna membantu koordinasi kelitbangan, di Jawa Tengah telah terbentuk pengurus Himpenindo. Himpenindo merupakan organisasi profesi para peneliti dari berbagai unsur, kepanjangan dari Himpunan Peneliti Indonesia.

Sinergi Kelitbangan sebagai Kunci

Mafhum, bahwa Bappeda Jateng telah memfasilitasi Musyawarah Provinsi (Musprov) Pembentukan Himpenindo Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah diwakili Asisten I, bidang Pemerintahan membuka acara, diawali pengukuhkan Pengurus Himpenindo Jawa Tengah periode 2019 s.d 2024 di Solo, oleh Sekjend Himpenindo Pusat (28/11/2019).

Acara ini dilaksanakan bersamaan dengan agenda Semiloka Nasional Penguatan Inovasi Menuju Daya Saing dan Kemandirian Bangsa. Acara ini menghadirkan Narsum dari Kemenristek, Dewan Riset Nasional, Peneliti serta mengundang kepala daerah: bupati/walikota inovatif di Jateng.

Pada Musprov Himpenindo Jateng, (6/11/19) telah terpilih Prof (R) Agus Hermawan (AH) sebagai ketua. Beliau adalah Peneliti Ahli Utama dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Kementerian Pertanian RI.

Keterpilihan Prof AH memberikan angin segar geliat sinergi kelitbangan di Jawa Tengah. Mafhum bahwa agenda utama atau Prioritas Riset Nasional (PRN) 2017-2045 meliputi: (1) pangan, (2) energi, (3) kesehatan, (4) transportasi, (5) produk rekayasa keteknikan, (6) hankam, (7) kemaritiman, (8) soshum, senibud, pendidikan, (9) lainnya.

Tema pertanian, utamanya pangan menjadi isu utama agenda riset nasional. Tentu, Prof AH amat menguasai bidang ini.

Meskipun, perlu kesadaran bersama bahwa menyelesaikan masalah tentu membutuhkan kerja sama. Sudah bukan zamannya lagi ego sektoral. Era sekarang menutut adanya sinergi.

Tuntutan riset sekarang ini adalah kerja sama dan kolaborasi. Menyelesaikan masalah pangan bukan semata urusan Kementerian Pertanian.

Sebagai contoh, penelitian Disertasi Musyafak di UGM (2015) yang mengambil lokus di Brebes menghasilkan temuan berupa antitesis terhadap peran penyuluh pertanian.

Selama ini, pada umumnya para penyuluh pertanian dipandang memiliki pengaruh terhadap sikap sasaran penyuluhan. Hasil riset menunjukkan bahwa penyuluh pertanian tidak mempengaruhi secara signifikan atas sikap masyarakat terhadap inovasi pertanian.

Sikap masyarakat lebih patuh terhadap Kyai daripada penyuluh pertanian. Riset Musyafak dilakukan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Brebes. Materi pertanian menjadi salah satu materi pengembangan keterampilan ekstra kurikuler bagi para santri selain bidang perikanan, peternakan, perkebunan, tata busana, dan bengkel las listrik (Musyafak, 2015: 15).

Temuan Musyafak ini, bukan mustakhil berulang pada kasus lain. Pemanfaatan Taman Teknologi Pertanian (TTP) di Lebaksiu Kabupaten Tegal, dikabarkan belum optimal.

Setidaknya itu yang mencuat pada moment Pekan Daerah VII KTNA di Taman Teknologi Pertanian Lebaksiu Tegal, 12-14 November 2019 lalu.

KTNA atau Kontak Tani Nelayan Andalan se-Jawa Tengah melakukan pameran produk pertanian dan perikanan. Seluruh peserta menginap di rumah penduduk, mirip konsep homestay.

Meskipun menyandang nama “taman teknologi” namun minim alat teknologi pertanian. Demikian pula alat inovasi pertanian yang tidak kompatibel dengan kebutuhan petani.

Gagasan besar inovasi pertanian tentu perlu “disengkuyung” bersama. Keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat penting.

Sinergi adalah kata kunci. Tanpa itu, banyak usaha yang sia-sia. Kritik Presiden Jokowi bahwa banyak riset yang tumpah tindih dan tidak menghasilkan apa-apa selain laporan penelitian. Hal ini, karena minimnya ikhtiar sinergi diantara SDM ristek. Itulah filosofi lahirnya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Mampukah Pemerintah Daerah cq Bappeda Jateng memfasilitasi sinergi penelitian untuk Pembangunan Jawa Tengah. Himpenindo Jawa Tengah tentu diharapkan bisa berkontribusi salah satunya di bidang ini, menyinergikan segenap potensi riset Jawa Tengah.

Pengurus Himpenindo perlu menyadari bahwa peneliti tidak hanya ASN, termasuk pula yang swasta. Justru pihak swasta terkadang lebih inovatif. Wallahu’alam.

*Dr. Aji Sofanudin
Salah satu Inisiator Himpenindo Jawa Tengah; Senior Researcher pada Balitbang Agama Samarang