BERBAGI
Hendra Wiguna

Oleh: Hendra Wiguna *)

Dalam catatan sejarah, Hari Ibu di Indonesia pertamakali dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Presiden Soekarno ketika itu meresmikannya dengan sebuah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Hal ini menandakan bahwa perhatian Bung Karno terhadap perempuan Indonesia sangat besar, terbukti selaian menetapkan Hari Ibu beliau juga menetapkan Hari Kartini.

Hari Ibu ketika itu diperingati untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Seiring perkembangannya, kini arti Hari Ibu telah banyak berubah, saat ini diperingati sebagai moment menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Perayaanya di isi dengan saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya. Hal ini bermanfaat untuk merawat kebersamaan dan kebudayaan Bangsa, Terlebih ibu adalah pendidik pertama dalam keluarga sehingga penanaman nilai-nilai kebhinekaan dan kebangsaan kepada seorang anak dimulai dari seorang ibu.

Dalam keluarga nelayan, peranan seoarang Ibu sangat luar biasa selain mengurusi urusan rumah tangga sebagaian besar juga ikut menopang ekonomi keluarga. Kegiatan seoarang ibu dikeluarga nelayan dimulai sebelum suami (nelayan) melaut, dimana ia mempersiapkan perbekalan untuk suaminya melaut dan ketika suaminya melauat ia mengurusi urusan rumah. Setelah suaminya pulang melaut, tugas selanjutnya membersihkan hasil tangkapan suami. Hal ini sebagian besar dilakukan didalam keluarga nelayan tradisional sekala kecil, yang biasanya one day fishing.

Selaian mengurusi perbekalan, kebanyakan seorang Ibu dikeluarga nelayan juga memiliki tugas menjual hasil tangkapan suaminya. Dan yang perlu dikembangkan adalah kegiatan usaha pengolahan ikan dikalangan ibu-ibu pesisir, mengingat hal ini akan menambah nilai jual ikan yang kemudian akan berdampak positif terhadap kesejahteraan keluarga nelayan.

Peluang untuk menggerakan sumberdaya perempuan pesisir untuk konsen disektor pengolahan ikan sangat besar, apalagi soal kemampuan mengolah ikan secara turun temurun yang diwariskan sangat mempuni. Tinggal ditambah inovasi serta hadirnya pemerintah untuk menjamin pemasaran produk, bukan tidak mungkin dari kegiatan produksi pengolahan ikan ini keluarga nelayan terutama nelayan kecil tingkat kesejahteraanya akan meningkat.

Selain persoalan Ekonomi, sama halnya dengan peranan Ibu lainnya seorang ibu dikeluarga nelayan-pun sangat berperan terhadap pendidikan generasi penerusnya. Karnanya perlu adanya pendampingan khusus bagi ibu-ibu keluarga nelayan terkait dengan pengetahuan yang berkenanaan dengan wawasan kebaharian dan kebangsaan, seiring dengan perkembangan peradaban. Terutama berkaitan dengan pengolahan lingkungan, yang akhir-akhir ini secara umum mengalami menurunan tingkat kepedulian terhadap lingkungan.

Pendidikan anak-anak nelayan selain didapatkan dibangku sekolah, juga sangat penting pemerintah menularkan pemahaman tentang semangat kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak generasi penerus masyarakat pesisir melalui ibu-ibu keluarga nelayan.

Semoga dengan adanya peringatan Hari Ibu ini dapat meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan serta kepedulian pemerintah terhadap ibu-ibu keluarga nelayan. Sehingga bisa melahirkan generasi hebat selanjutnya, seperti halnya pada abad ke-19 Bangsa Indonesia memiliki perempuan-perempuan hebat seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Hal ini sangat penting mengingat perempuan adalah tiang negara, Annisa ‘imadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad.

*) Penulis adalah Humas Kesatuna Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang