BERBAGI
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang mengadakan pembekalan sekaligus pelepasan Kuliah Kerja Nyata Mandiri Misi Terpogram (KKN MIT) ke-9 (Karimunjawa), KKN Mandiri Misi Khusus Lombok Timur NTB dan KKN Nusantara 3T UIN Walisongo Tahun 2020 (Foto: Dok UIN/WN)

SEMARANG, Warta Nasional – Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara di daerah Terdepan, Tertinggal, Terluar (3T) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M UIN Walisongo Semarang, Mukhamad Rikza Chamami, MSi mengatakan, melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ia mengirimkan dua orang mahasiswa UIN Walisongo.

“Kami mengirim dua mahasiswa yaitu Presiden BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Arafat Ikhza Mahmud dan Sekretaris BEM Fakultas Dakwah Komunikasi (FDK) Ainun Na’imah,’’ katanya kepada wartanasional.com, Rabu, (08/01) kemarin.

Menurutnya, KKN tersebut difokuskan di dua lokasi, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Ambon.
Kegiatan itu dibuka Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Arskal Salim, di Asrama Haji Kupang, Nusa Tenggara Timur, belum lama ini.

Hadir dalam upacara pembukaan, Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Suwendi, Kepala Bidang Pendis Kanwil Kemenag Provinsi NTT, Puo Muntu Umbu Nay, Kepala LP2M UIN Surabaya, Ahmad Syahid, Kepala Seksi Pengabdian kepada Masyarakat, Abdul Basir, seluruh Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat PTKIN, dan mahasiswa peserta KKN.

KKN Nusantara diikuti 75 mahasiswa dari 28 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia.

Kuliah Kerja Nyata bertema “Peace Building Mewujudkan Moderasi Beragama dalam Membangun Indonesia dengan Metode Asset Based Community Development (ABCD)” dikoordinasi oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya.

Sedang KKN di Ambon diikuti 52 mahasiswa dari 13 PTKIN dengan tema “Trauma Healing, Merajut Persaudaraan Bangsa dalam Membangun Kemandirian Sejati” yang dikoordinasikan oleh IAIN Ambon.

Moderasi Beragama

Direktur PTKI, Arskal Salim, menyambut baik dan memberikan apresiasi atas penyelenggaraan KKN itu. Sebab, menurutnya, RPJMN tahun 2020-2024 telah menjadikan moderasi beragama sebagai pilar penting yang sekaligus menjadi modal sosial dalam membangun bangsa ini. Oleh karenanya, keluarga besar PTKI harus mampu memberikan kontribusi konkret dalam membangun  dan mendiseminasi moderasi beragama di masyarakat luas.

“Lebih-lebih, KKN kali ini mengkombinasikan antara moderasi beragama dengan Metode Asset Based Community Development (ABCD). Ini merupakan terobosan baru yang perlu diapresiasi,” kata Arskal.

Berdasarkan hasil survey Balitbang Kementerian Agama RI, Indek Kerukunan Umat Beragama Provinsi NTT meraih 81,1 dan menempati skor tertinggi kedua setelah Papua Barat yang meraih skor 82,1. Menurut guru besar UIN Jakarta itu, peraihan skor ini menjadi asset penting bagi NTT yang perlu untuk diungkap, dikaji, dan dipelajari termasuk oleh kalangan PTKI.

Dalam kesempatan itu, Direktur PTKI juga mendorong untuk melakukan terobosan baru dalam penyelenggaraan KKN, baik kolaborasi secara nasional maupun dengan berbagai pihak secara internasional. Bahkan, menurut Arskal, perlu juga difikirkan bagaimana KKN berbasis media sosial secara online.

“Perkembangan informasi yang demikian cepat, kita memasukan era post-truth sehingga yang menjadi acuan seringkali adalah bukan pada otoritas kebenaran, tetapi ketenaran. Mahasiswa PTKI diminta secara proaktif untuk menebarkan pesan-pesan damai dan moderat melalui media sosial dan itu dijadikan sebagai bagian dari penyelenggaraan KKN”, katanya.

Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Suwendi, menjelaskan, KKN 3T merupakan ikhtiar Kementerian Agama untuk membangun sinergi, kolaborasi dan wujud konkret partisipasi PTKI terhadap pernyelesaian atas persoalan-persoalan kebangsaan.

“Sebelum menjadi sarjana, para mahasiswa harus turun ke masyarakat secara nyata sebagai bagian dari pengalaman dan proses pendidikan untuk melihat persoalan dan mencari pemecahan masalah atas dasar kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat”, pungkasnya. (WN-008)

Editor : Hidayatullah