BERBAGI
Dokumentasi : Anggota Ikhwanul Muslimin melambaikan empat jari melambangkan Rabaa sebagai dukungan bagi anggota Ikhwanul Muslimin lain yang berada di pengadilan di pinggiran kota Kairo, Mesir, Selasa (2/6/2015). Pengadilan Mesir menunda mengeluarkan putusan akhir hukuman mati bagi mantan presiden Mohamed Mursi dan sejumlah pemimpin tinggi Ikhwanul Muslimin dalam kasus yang terkait dengan pembobolan penjara massal pada 2011. (Istimewa)

WASHINGTON, Warta Nasional – Amerika Serikat (AS) pada Senin membenarkan kematian Moustafa Kassem keturunan Mesir-Amerika di penjara Mesir, tempatnya ditahan sejak 2013.

AS berjanji akan terus meningkatkan keprihatinan Washington atas catatan HAM yang buruk di Kairo.

“Hari ini saya begitu sedih untuk mengetahui kematian warga negara AS Moustafa Kassem, yang mendekam di penjara Mesir,” kata Asisten Sekretaris Urusan Timur Dekat, David Schenker kepada Departemen Luar Negeri.

“Kematiannya di penjara sia-sia, tragis dan dapat dihindari,” katanya. “Saya akan terus meningkatkan keprihatinan serius kami atas hak asasi manusia dan warga Amerika yang ditahan di Mesir di setiap kesempatan,” kata Schenker.

Kassem divonis penjara pada September 2018, bersama dengan puluhan lainnya terkait aksi duduk 2013 yang berujung pada tewasnya ratusan pengunjuk rasa di tangan pasukan keamanan.

Vonis, yang mencakup hukuman penjara lebih dari 600 orang lainnya, mengakhiri persidangan massal orang-orang yang dituduh membunuh dan menghasut kekerasan selama aksi protes Ikhwanul Muslimin di alun-alun Rabaa Adawiya di Kairo.

Washington merupakan sekutu Barat terdekat Kairo sekaligus salah satu pendonor bantuan utama mereka.

Pegiat HAM menyebutkan Presiden Abdel Fattah al-Sisi mengawasi penindakan keras terhadap kebebasan di Mesir sejak dilantik pada 2014. Sisi dan para pendukungnya mengatakan langkah itu diperlukan untuk menjaga kondisi stabil Mesir dan untuk melawan ancaman dari kelompok gerilyawan. (Ant/WN)