Warga berkumpul di depan rumah mereka yang atap rumahnya roboh akibat angin puting beliung. (Istimewa)

KUPANG, Warta Nasional – Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, melaporkan sebanyak 48 rumah penduduk di daerah otonom baru itu rusak akibat diterjang angin puting beliung yang menghantam kawasan yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste itu, Senin (10/2).

“Kami sudah data semua kerusakan yang diakibatkan oleh bencana puting beliung di Malaka, dan jumlah rumah yang rusak mencapai 48 unit,” kata Kepala BPBD Kabupaten Malaka Gabriel Seran saat dihubungi dari Kupang, Selasa (11/2).

Hal ini disampaikannya ketika ditanyai terkait perkembangan dari bencana angin puting beliung yang menhantam sejumlah rumah warga di dua desa di kabupaten itu, yakni Desa Railor Tahak, dan Desa Fahiluka.

Dari 48 rumah yang rusak itu, terdiri dari 21 rumah yang mengalami kerusakan berat dan 14 unit lainnya rusak ringan terdapat di Desa Railor Tahak.

“Sementara sisanya di Desa Fahiluka yang mana 11 unit rumah terdata rusak berat dan dua unit rumah didata mengalami kerusakan ringan,” ujar dia.

Selain rumah mengantam puluhan rumah, salah satu gedung sekolah juga dilaporkan mengalami kerusakan. Kerusakan itu lebih pada terangkatnya atap rumah dan gedung.

Satgas BPBD Kabupaten Malaka sendiri juga, kata dia, sudah mendistribusikan terpal, tikar dan bantuan makanan kepada korban bencana alam angin puting beliung itu.

Kemudian juga tenda juga sudah dibangun di lokasi bencana agar masyarakat bisa untuk sementara waktu tdiru dan beristirahat di dalam tenda yang dibangun.

Selain itu juga saat kejadian angin puting beliung disertai hujan dan petir, dua sapi milik warga setempat juga mati akibat tersambar petir.

Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang menyatakan bahwa angin puting beliung yang menerjang belasan rumah penduduk di dua desa di Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (10/2) dipicu fenomena skala global maupun lokal meteorologi.

“Berdasarkan hasil analisa, kejadian di Malaka disebabkan oleh pengaruh skala global maupun juga skala lokal meteorologi, dimana nilai suhu muka laut (SST) sekitar Pulau Timor berkisar 30 – 32 derajat celcius,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari, Agung Sudiono Abadi. (Ant/WN)