Aji Sofanudin, Peneliti bidang agama; Pengurus Himpenindo Jawa Tengah 2019-2024

Oleh : Aji Sofanudin

 

Penggunakan term “melawan” dan “berdamai” dengan Covid-19 hemat kami tidak tepat. Istilah tersebut mengesankan kita sedang perang atau kondisi chaos. Padahal tidak demikian. Mungkin lebih tepat istilah “menghadapi” dan “beradaptasi” dengan pandemi Covid-19. Kita tidak sedang “diserang” ataupun “menyerang” tetapi kita sedang bersama-sama menghadapi pandemi. Sebisa mungkin kita beradaptasi: sering cuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak dan stay at home.

Kebijakan belajar, bekerja dan beribadah di rumah perlu didekati dengan suasana gembira. Lebih penting juga menghadapinya dengan pikiran jernih, penuh kreativitas dan inovasi. Terkadang, kesuksesan tak jarang bermula dari kondisi “keterpaksaan”. Terpaksa bekerja, belajar, dan beribadah di rumah bisa memunculkan kreativitas. The power of kepepet potensial memunculkan ide-ide, cara-cara, dan metode baru.

Inovasi di Segala Lini

Pak Slamet, penjual bakso keliling di Lebaksiu Tegal terpaksa berhenti jualan. Sekolah tempatnya biasa mangkal libur. Demikian juga banyak jalan/portal ditutup sehingga memaksanya berhenti berjualan bakso.

Meski demikian, dia tidak putus asa, berhenti jualan bakso tapi “banting setir” jualan Pizza. Iya Pizza…agak aneh memang, di kampung jualan makanan kota. Tapi itu justru peluang, tak ada kompetitor, harga terjangkau, dan cara jualannya pun online via WA dan fb. Setelah ada pesenan, dia antar pakai motor bututnya. Jika Anda tertarik dan berdomisili di daerah Durensawit Lebaksiu bisa menghubungi no Hp 0852 9006 5408.

Itulah inovasi..!? cara baru menghadapi perubahan. Corona telah memaksa kita melakukan cara-cara baru, inovasi. Bekerja, belajar dan beribadah dengan cara baru. Rogers mendefinisikan inovasi sebagai suatu ide, gagasan, praktik atau objek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi.

Rogers (1983: 11) menyebutkan: Innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption. It matters little, so far as human behavior is concerned, whether or not an idea is “objectively” new as measured by the lapse of time since its firt use or discovery. The perceived newness of the idea for the individual determines his or her reaction to it. If the idea seems new to the individual, it is an innovation.

Dalam menghadapi Pandemi Covid-19 setidaknya ada tiga macam inovasi. Pertama, inovasi dalam belajar. Hasil penelitian Iswanto, dkk (2020) tentang Pembelajaran Online pada Masa Pandemik Covid-19 di Jawa Tengah menunjukkan temuan bahwa kendala guru PAI dalam melaksankaan pembelajaran online, di antaranya: sinyal lemah, kuota terbatas, tidak punya hp atau laptop.

Temuan ini harus menjadi catatan kita bersama. Inovasi bukan tanpa kendala. Cara “mudah” dalam belajar di masa pandemi bisa dilakukan misalnya bukan siswa yang datang ke sekolah/madrasah, tetapi guru yang dijadwal untuk berkunjung ke rumah siswa.

Kedua, inovasi dalam bekerja. Maraknya penggunaan aplikasi “Zoom Meeting” dalam bekerja telah mendisrupsi cara bekerja manusia. Kita “dipaksa” untuk beradaptasi, jika tidak akan tersingkir. Corona telah mendisrupsi cara bekerja dari “proses oriented” menjadi “produk oriented”. Tempat, waktu, transportasi bukan lagi menjadi kendala melakukan pekerjaan, tetapi justru kedisiplinan mencapai target menjadi utama. Semua “dunia” terhubung dengan jaringan sehingga kolaborasi dan sinergi menjadi keharusan.

Ketiga, inovasi dalam beribadah. Adakah inovasi dalam beribadah…? Barangkali itu yang ada di benak kita. Lihatlah di rumah ibadah, di masjid misalnya sekarang tidak sedikit yang melakukan sholat dengan shaf social distancing, pengajian dilakukan tidak dengan cara manual tetapi dikemas dengan media sosial: fb, WA, IG, zoom, google, dll. Demikian juga peringatan Nuzulul Quran dan hari besar lain dikemas dengan cara daring. Inilah bentuk inovasi yang nyata ada.

Inovasi dalam beribadah bukan sesuatu yang baru. Bahkan sholat tarawih berjamaah yang kita lakukan sesungguhnya adalah hasil inovasi dari Khalifah Umar bin Khattab. Dalam sejarah, Nabi hanya sholat tarawih tiga kali dan dilakukan secara munfarid (sendiri). Umar lah yang mengemasnya menjadi sholat berjamaah.

Dalam beragama ada unsur “syar’i” yang bersifat pokok dan dasar. Ada pula yang bersifat “syiar” yang bersifat tradisi. Syar’i tidak bisa diubah karena itu adalah inti ajaran agama, tetapi sesuatu yang bersifat syiar haruslah menyesuaikan kondisi. Di musim pandemi, perlu ada inovasi dalam syiar beragama. Dakwah konvensional perlu digeser dan dikemas menjadi dakwah daring. Wallahu’alam.

*Penulis : Peneliti bidang agama; Pengurus Himpenindo Jawa Tengah 2019-2024