BERBAGI
- Dr. Aji Sofanudin, Senior Researcher Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Oleh : Aji Sofanudin

Kebijakan New Normal yang diambil pemerintah sejatinya mengandung dilema. Dilema merupakan situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan. Maju kena mundur juga kena, new normal ambyar; ora new normal byar-byar. Kira-kira demikian gambarannya.
Apa itu New Normal atau kelaziman baru ? Belum ada definisi resmi.

Secara mudah New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal; belajar, bekerja dan beribadah. Doni Monardo, Ketua Pelaksana Gugus Tugas Covid 19 mengenalkan konsep empat sehat lima sempurna: (1) menggunakan masker, (2) menjaga jarak fisik dan sosial, (3) rajin mencuci tangan dan olah raga, (4) tidur teratur dan cukup, (5) makanan bernutrisi.
M Qodari mengenalkan istilah Tatanan Hidup dengan Covid-19 atau THC (Kompas, 14 Mei 2020). Ada beberapa alasan perlu diterapkannya THC yaitu (1) kemampuan ekonomi Indonesia sangat terbatas. Menkeu tidak memberi jawaban pasti, hanya menyebut tiga, enam atau sembilan bulan (Desember 2020). (2) belum ada kepastian Covid 19 berakhir. Organisasi Kesehatan dunia (WHO) menyebut perkiraan akhir 2021. Realitasnya mungkin perlu waktu lama untuk memvaksinkan seluruh penduduk dunia 7,8 miliar jiwa.

THC adalah kondisi kehidupan di mana wabah Covid 19 belum hilang, tetapi manusia kembali beraktivitas yaitu bekerja, sekolah dan berwisata dengan protokol kesehatan. Kita harus bekerja karena tidak mungkin pemerintah seterusnya memberi “makan” seluruh rakyat. Jika diteruskan negara bisa bangkrut, orang mati kelaparan dan terjadi kerusuhan sosial di mana-mana. Indonesia harus move on dengan covid 19 ini.

Dalam SE Menpan RB Nomor: 57 Tahun 2020 tentang Perubahan keempat penyesuain Sistem Kerja ASN dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah ada istilah “Tatanan Kehidupan Baru”. Pada SE Menpan RB Nomor: 58 Tahun 2020 ttg Sistem Kerja Pegawai ASN dalam Tatanan Normal Baru. Secara lebih jelas ada pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 440- 830 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 bagi ASN di Lingkungan Kemendagri dan Pemda.

Kritik New Normal
Dasar pertimbangan New Normal tidak jelas. Sekilas New Normal adalah dibukanya kembali pusat-pusat aktivitas ekonomi dan perbelanjaan. Mall-mall besar dibuka kembali meksipun wabah Covid-19 belum 100 % dapat dikontrol. Ada dugaan karena desakan para pemilik modal (kapitalis), pengusaha besar, para produsen yang saat pandemi ini hampir sekarat. Mereka tidak peduli dengan nyawa masyarakat, namun hanya peduli dengan harta dan kekayaan sendiri. Jika ini yang terjadi maka kebijakan PSBB akan “ambyar”, tidak berguna dan kembali ke titik nol.

New Normal seakan menyerahkan sepenuhnya urusan ketahanan kesehatan pada masyarakat, pada seleksi alam. Yang punya imunitas kuat selamat. Nyawa manusia dianggap sangat murah dan pemerintah berlepas tangan dalam persoalan ini. Sepenuhnya urusan keselamatan dipasrahkan pada rakyat tanpa kehadiran dan tanggung jawab pemerintah. Mirip teori evolusi Darwin, Survival of The Fittest, bahwa jerapah yang bertahan hidup adalah yang memiliki leher panjang. Sementara banyak jerapah yang mati karena tak bisa beradaptasi.

Mudah-mudahan prediksi ini tidak benar. Kebijakan new normal atau apapun namanya adalah dalam kerangka kemaslahatan bersama. Perubahan perilaku dibutuhkan saat terjadi perubahan besar; Adam dan Hawa saat diusir ke bumi, Yunus ditelan ikan, Nuh dilanda tsunami, Luth dalam penyimpangan seksual umatnya, Ibrahim saat diperintahkan untuk menyembelih Ismail, Yusuf diperdaya Zulaikha, Musa melawan Fir’aun hingga membelah laut, Dawud dalam perang Thalut dan Jalut, Nabi Muhammad saw saat merancang Piagam Madinah, dsb. Semoga pemerintah tetap hadir di tengah wabah Covid-19 yang abnormal.

New Normal pada Dunia Pendidikan
Hemat penulis, hingga tulisan ini dibuat belum ada peraturan tentang New Normal dalam dunia pendidikan. Di tingkat pemerintah daerah ada adalah Keputusan Mendagri Nomor 440-830 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 bagi ASN. Dalam regulasi tersebut ada 6 syarat (1) penularan Covid-19 di wilayah bisa dikendalikan, (2) kapasitas sistem kesehatan tersedia: RS, peralatan medis, isolasi, karantina (3) mampu menekan resiko, (4) penerapan protokol penccegahan Covid-19, (5) mampu mengendalikan resiko kasus, (6) memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan, berpendapat dan dilibatkan dalam proses masa transisis menuju Masyrakat Produktif dan Aman Covid-19.

Covid -19 telah memunculkan kreativitas. Di antara isu-isu di bidang Pendidikan. (1) tentang pembelajaran jarak jauh. Riset Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagaamaan (Murtadlo, dkk). Guru belum siap dibuktiikan dengan “metode yang sering digunakan” sebagian besar bersifat penugasan (86,8 %). Riset BLAS (Iswanto, Umi, Ana, dkk) menyebutkan banyak kendala pembelajaran online: sinyal lemah, kuota terbatas, tidak punya hp atau laptop. (2) kebosanan siswa, (3) pembiayaan pendidikan (swasta), terutama kesulitan menggaji guru (4) respon integritas guru yang berkunjung (mengajar) ke rumah siswa, (5) kurikulum darurat (Direktorat KSKK; Kep Dirjen Pendis Nomor 2791 Tahun 2020).

Di kemendikbud belum keluar kebijakan terkait kapan pembelajaran new normal dimulai. Ada tiga skenario: (1) Tahun ajaran baru diundur, Januari 2021 (2) Tahun ajaran baru tetap (juli 2020), new normal Juli (3) Tahun ajaran baru tetap, new normal tahun depan atau setidaknya ketika PTS (September 2020). Meskipun belum ada kebijakan, nampaknya alternatif ketiga yang akan diambil.

Di dunia pesantren terkait masuk tahun ajaran baru (Syawal). Secara faktual ada tiga model (1) Thn ajaran baru Syawal dilaksanakan Juni (2) pertengahan Juni (3) Hati2 atau wait and see dari RMI (Dr Abdul Jalal, MA). Perlu juga ada protokol kesehatan Santri. Di PP Asssalam bahkan mengenalkan empat pos bagi santri yang akan kembali ke pondok (1) mobil/motor (2) pengantar, (3) barang dan (4) santri (Dr Kadarusman) (Webinar Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 29 Mei 2020).

New normal di sekolah yaitu mempersiapkan protokol kesehatan di sekolah (1) tempat cuci tangan, hand sanitizer, (2) periksa suhu tubuh (3) penataan kelas, (4) penyemprotan desinfektan, (5) pengaturan jadwal kegiatan belajar mengajar (6) surat keterangan isolasi mandiri dari orang tua / ketua RT setempat.
Protokol kesehatan meliputi : (1) berangkat sekolah, (2) selama di sekolah untuk guru dan tenaga kependidikan (3) selama di sekolah untuk siswa, (4) pulang dari sekolah.

Kebijakan kegiatan pesantren dan revitalisasi rumah ibadah dalam menghadapi new normal. Protokol Kesehatan bagi santri meliputi yaitu (a) persiapan dari rumah yaitu (1) fisik dalam kondisi sehat, (2) membawa peralatan makan/minum sendiri, (3) membawa vitamin C, madu, nutrisi untuk ketahanan tubuh, masker, hand sanitizer, (4) membawa sajadah sendiri, (5) sarana transportasi diusahakan bawa mobil sendiri, (6) pengantar tidak masuk asrama dan (b) sampai di pondok menjalani (1) mengikuti test rapid/PCR (2) tidak bersalaman, (3) menjaga jarak saat berinteraksi (belajar, beribadah, tidur), (4) menggunakan masker, sering cuci tangan (5) Konsumsi vitamin C, E, madu, makanan bernutrisi, (6) tidak makan/minum di satu wadah sama, (7) menggunakan pakaian, handuk, peralatan mandi dan Kasur sendiri, (8) tidak keluar pondok, (9) walisantri/keluarga tidak diperkenankan menjenguk, (10) santri yang sakit segera diisolasi (power point Menteri Agama, 27 Mei 2020).

Secara sederhana, negara perlu “lebih hadir” dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Jika Kementerian Agama mengharuskan santri yang kembali ke pesantren dilakukan test (rapid, pcr, atau swab) seyogyanya pemerintah memfasilitasi. Demikian juga ketua Gugus Tugas sampai level kecamatan lebih pro aktif menginformasikan kaitan R naught dan Rt di wilayahnya sebagai indikator berada di wilayah aman dari Covid-19.

Pemerintah (kemendibud/kemenag) perlu melakukan: sosialisasi, edukasi dan jika perlu simulasi tentang penyiapan new normal di semua lembaga pendidikan. Wallahu’alam.

Semarang, 03 Juni 2020

– Dr. Aji Sofanudin, Senior Researcher Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang