Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto (Ist)

JAKARTA, Warta Nasional – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto menyampaikan, hingga Rabu (24/6), total kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 49.009 orang, setelah mengalami penambahan sebanyak 1.113 orang. Sedangkan total kasus sembuh 19.658 orang.

Penambahan tertinggi kasus positif harian teridentifikasi di Provinsi Jawa Timur dengan 183 kasus, disusul DKI Jakarta 157 kasus, Sulawesi Selatan 132, Maluku Utara 95, dan Kalimantan Selatan 90 kasus.

Sementara itu, total pemeriksaan spesimen mencapai 689.492, sedangkan per Rabu sejumlah 21.233 spesimen. Dari hasil pemeriksaan, penularan virus SARS-CoV-2 masih terjadi di Indonesia.

Yurianto mengatakan, 18 provinsi per Rabu melaporkan kasus baru di bawah 10, dan 5 provinsi melaporkan tidak ada kasus sama sekali.

Beberapa provinsi yang kasus sembuh lebih banyak dari kasus yang konfirmasi positif adalah Kalimantan Timur 9 kasus baru dan 10 sembuh, Gorontalo 7 kasus baru dan 31 sembuh, Sumatera Barat 3 kasus baru dengan 14 sembuh, Lampung 2 kasus baru dan 4 sembuh, Yogyakarta 1 kasus baru dan 4 sembuh, Papua Barat 1 kasus baru dan 16 sembuh.

“Kemudian Bangka Belitung tidak ada kasus baru dilaporkan, 9 sembuh. Bengkulu, tidak ada kasus baru, satu sembuh. Kalimantan Barat, tidak ada kasus baru, 5 sembuh,” sebut Yurianto saat konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Rabu siang.

Ia mengatakan bahwa total kasus sembuh hari ini sebanyak 417 orang. Kasus meninggal 38 orang, sehingga total menjadi 2.573 orang. Kabupaten dan kota terdampak sebanyak 443 wilayah yang tersebar di 34 provinsi.

“Kami masih melakukan pemantauan terhadap ODP (orang dalam pemantauan) sebanyak 36.648 orang dan pengawasan terhadap PDP (pasien dalam pengawasan) sebanyak 13.069 orang,” ujarnya, seperti diinformasikan melalui laman resmi BNPB.

Sementara itu, ia berpesan bahwa bahwa proses penularan yang terjadi hari ke hari di beberapa provinsi ini menggambarkan masih ada sumber penularan di tengah masyarakat. Kasus yang positif, dan kemudian tidak memiliki gejala yang signifikan, membuat merasa lebih aman atau merasa sehat, ini yang tidak disadari.

Yurianto juga mengingatkan bahwa masih adanya kelompok rentan yang tidak mematuhi protokol kesehatan, tidak menjaga jarak, tidak menggunakan masker, dan kemudian tidak rajin mencuci tangan.

“Inilah yang kemudian menjadi kelompok rentan untuk tertular, dan ini memberikan gambaran kasus baru yang muncul,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, ia menekankan potensi bahaya tinggi pada seseorang yang membawa virus tidak menggunakan masker dan melakukan kontak dekat dengan orang lain yang rentan tidak menggunakan masker.

“Kemungkinan terjadi penularan 100%. Namun, apabila orang yang sakit membawa virus tidak menggunakan masker, sementara orang lain yang rentan pada kontak dekatnya menggunakan masker, penularan akan turun menjadi sekitar 70%,” tuturnya.

Namun, apabila orang yang membawa virus ini menggunakan masker dan orang lain di sekitarnya tidak menggunakan masker, penularan akan turun menjadi sekitar 5%.

“Namun, apabila dua-duanya menggunakan masker, kemungkinan penularan turun drastis menjadi 1,5%. Inilah yang meyakinkan kita, bahwa menggunakan masker adalah cara yang paling tepat,” tegas Yurianto.

Ia juga mengingatkan untuk penggunaan masker yang benar, seperti menutup hidung dan mulut dengan baik. Di samping itu, perilaku cuci tangan dan jaga jarak juga harus dilakukan.

“Saudara-saudara, mari kita lakukan ini. Mari kita jadikan ini sebagai sebuah kebiasaan baru dalam kehidupan kita sehari-hari. Kebiasaan baru kita, kebiasaan baru keluarga kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, bahkan orang tua kita karena kita bisa menjadi agen perubahan dalam mengimplementasikan kebiasaan baru ini di keluarga,” tutupnya. (Ant)