BERBAGI
Sosiolog UIN Walisongo Semarang, Ahwan Fanani.

Oleh: Dr Ahwan Fanani*

Pro dan Kontra
Berita kemenangan Taliban atas Pemerintah dengan dukungan dan bentukan USA menjadi bahan perbincangan ramai beberapa hari ini. Bagusnya harapan sebagian orang agar pembicaraan covid di media dikurangi terpenuhi. Buruknya, adalah netizen jadi ramai pro dan kontra.

Yang pro menanggap bahwa penguasaan Taliban atas pemerintahan Afghanistan adalah berita gembira karena invasi Amerika tidak berhasil menanamkan kukunya di sana.

Sebaliknya, yang kontra khawatir kemenangan Taliban menjadi penyemangat gerakan radikal di dalam negeri. Tidak jarang pro kontra itu jatuh pada polemik para pendukung pilpres 2019.

Refleksi
Sebenarnya, naiknya Taliban ke panggung kekuasaan itu bisa menjadi refleksi bersama.
Pertama , perubahan kekuatan dunia saat ini sangat dinamis. Negara-negara besar sibuk untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan politik masing-masing. Amerika pun pada akhirnya harus tunduk pada hukum tersebut karena intervensinya di Afghanistan tidak banyak membawa keuntungan dan tidak pula bisa dimenangkan.

Mundur adalah jalan realistis meski itu menjadi sinyal ketidakmampuannya untuk membangun Afghanistan. Lagi pula untuk apa pula membangun negara lain saat kepentingan ekonomi sendiri tidak terpenuhi di sana.

Kedua, gerakan Islam punya kekenyalan yang luar biasa dalam menghadapi tekanan besar. Taliban yang digempur oleh tentara sekutu plus faksi Afghanistan sendiri dengan teknologi maju selama 20 tahun tidak kalah, tetapi justru muncul kembali dengan kekuatan lebih besar.

Namun pertanyaan mengenai what next setelah Taliban berkuasa muncul pula. Potret buruk kekuasaan Taliban masa sebelumnya dalam perspektif hak sipil menimbulkan kekhawatiran bahwa kekuatan baru ini kuat dalam perebutan kekuasaan, tetapi apakah mampu membangun peradaban yang mensejahterakan dan memerdekakan manusia dari penindasan atau justru menjadi unsur penindasan itu sendiri.

Atau jangan-jangan banyak yang khawatir juga jika Taliban sukses untuk menyatukan negara dan membangun. Karena juga bisa menjadi motivasi negara muslim lain mencontohnya? ( Just kidding).

Ketiga , posisi Indonesia sebagai negara besar muslim dan dengan politik bebas-aktifnya ternyata dilirik sebagian negara muslim yang sedang mengalami kesulitan dan pertikaian.

Indonesia pernah memediasi konflik Filipina vs Bangsamoro di Mindanau, aktif mengadvokasi Palestina, dan kini turut memediasi Taliban vs Pemerintah Afghanistan dukungan Amerika melalui keterlibatan Wapres Jusuf Kalla. Secara diplomatis, Indonesia juga mengadvokasi Rohingya di Myanmar secara lebih halus berikut bantuan pada pengungsinya pada tahun 2015-2018.

Ketakutan akan pengaruh kemenangan Taliban terhadap kondisi dalam negeri tidak lepas dari perspektif bahwa Indonesia hanya korban dari pengaruh asing dan posisi Indonesia hanya sebagai penerima saja. Belum kuat cara pandang bahwa kita pun bisa mempengaruhi dunia lain.

Pentingnya Contoh
Padahal, bisa juga dibalik bahwa Indonesia punya potensi untuk memberi contoh negara muslim lain bagaimana mengharmonikan hubungan agama dengan negara dan demokrasi serta bagaimana mengembangkan civil society yang kuat dengan dukungan ormas-ormas Islam untuk program-program pembangunan.

Sudah barang tentu semua perlu dilakukan secara proporsional karena potret Indonesia di luar negeri tidak bisa dikatakan sepenuhnya baik. Demikian pula dengan potret keislaman di Indonesia yang terbentuk dari media-media internasional. Namun dalam hal tertentu masih ada contoh nyata dari kehidupan muslim Indonesia bagi negara seperti Afghanistan.

Ada kalanya contoh langsung lebih berkesan. Banyak orang asing ketika datang ke Indonesia mempertanyakan tentang sikap muslim Indonesia terhadap perempuan.

Saat ditunjukkan pasar-pasar yang isinya mayoritas perempuan berjilbab, kampus-kampus dengan mahasiswa mayoritas perempuan yang sebagian berjilbab, dan masjid-masjid dimana kaum ibu terbuka untuk datang dan beraktivitas, maka semua pemandangan itu lebih ampuh dari 100 buku yang mengatakan Islam menghargai kaum perempuan.

Saat Taliban diundang ke Indonesia tahun 2019, mereka ditunjukkan sekolah-sekolah Islam dan pesantren yang berkembang di negara yang menerima kebhinekaan ini. Contoh nyata demikian seringkali lebih efektif dari penjelasan rumit kepada Taliban.

Hal demikian juga pernah dilakukan oleh Pemerintah Amerika kepada Boris Yeltsin, Presiden Rusia ysng terpilih tahun 1989. Daripada mengajari Rusia tentang kehebatan negara Kapitalis (yang tentu saja akan ditolak oleh Rusia), Yeltsin diajak berkeliling Amerika saat berkunjung.

Saat mengunjungi toko grosir dan supermarket di Texas, Yeltsin terpesona dengan berlimpahnya barang dan makanan di sana serta pabrik-pabrik pengolahan makanan. Setelah itu, ia terobsesi dengan kemajuan sosial-ekonomi seperti yang dicapai Amerika.

Untuk kasus Taliban, kita bisa melihat bahwa pendekatan mereka dalam berkuasa banyak berubah.Boleh jadi, contoh dari Indonesia turut berperan, meski kita tidak bisa berharap ratusan ribu orang berubah serentak dan segera dalam waktu singkat. Sebagaimana kita tidak bisa berharap instan setelah belajar ekonomi, sosial, pertanian, teknologi di negara-negara maju, ribuan pelajar kita langsung mampu mengubah Indonesia menjadi negara maju dalam 10 tahun.

Setidaknya muslim Indonesia bisa memberi perspektif bagi negeri muslim lain yang sedang bangkit dari keterpurukan. Semua capaian perubahan harus dihargai jika kita ingin terus optimis dengan kemajuan dan perubahan, baik untuk diri sendiri maupun bangsa lain.

Pepatah Tiongkok mengatakan perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah. Orang yang melompat akan kembali jatuh ke tanah.

*) Dosen UIN Walisongo Semarang