BERBAGI
Warga Dusun Babadan I Desa Paten kembali mengungsi di TEA Banyurojo Mertoyudan, Selasa (5/1/2021). (Foto : Humas Pemkab Magelang)

MAGELANG, Warta Nasional – Sudah menjadi resiko warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III lereng gunung Merapi. Seiring dengan meningkatnya aktivitas kegempaan, hamper setiap hari mendengar suara gemuruh akibat guguran lava.

Akibatnya, warga menjadi lebih terbiasa tanpa adanya lagi rasa takut, khawatir, dan campur aduk. Namun apapun alasannya, mau tidak mau warga tetap harus mengungsi sesuai arahan pemerintah.

Hal tersebut juga diungkapkan salah seorang warga, Parini (59) warga Dusun Babadan I Desa Paten yang ditemui di TEA Banyurojo Mertoyudan pada hari Selasa 5 Januari 2021.

”Ya sebenarnya sudah terbiasa mendengar suara gemuruh dari Gunung Merapi. Tapi kita harus menurut sama anjuran pemerintah. Kalau disuruh mengungsi ya mengungsi karena ini untuk keselamatan jiwa bersama,”ungkap Parini.

Parini kembali mengungsi bersama seluruh anggota keluarganya, ada anak, cucu, nenek dan suaminya. Ia sendiri merasa diperlakukan sangat baik di TEA Banyurojo, walaupun merasa bahwa tinggal di rumah sendiri lebih baik daripada mengungsi.

Pada 6 November 2020, Parini dan keluarga sudah mengungsi karena aktivitas Merapi yang meningkat hingga status naik ke level III atau Siaga. Satu bulan berada di pengungsian, ia merasa jenuh apalagi aktivitas Merapi masih stagnan.

Hingga pada 14 Desember 2020, ia memutuskan untuk pulang ke rumah bersama dengan ratusan pengungsi lainnya. Di tempat tinggalnya, ia kembali beraktivitas seperti biasa, selain bersih-bersih rumah yang lama ditinggalkan, juga pergi ke ladang untuk menanam tanaman holtikultura.

Namun, kini Parini harus kembali mengungsi ke sister village atau desa saudara yang ada di Banyurojo, karena peningkatan aktivitas kegempaan Merapi semakin signifikan.

Para tokoh masyarakat Dusun Babadan bersama dengan Pemkab Magelang dan BPPTKG, terus memberikan sosialisasi tentang kondisi Merapi.

Menurut Parini, di TEA Banyurojo, ia tidak mau tinggal diam. Selain merawat ibunya yang sudah berusia 80 tahun, juga ikut membantu di dapur umum bersama dengan ibu-ibu PKK setempat, serta melakukan bersih-bersih bilik.

“Untuk menghilangkan kebosanan, ya kita beraktivitas apa saja yang bisa,” ungkap Parini.