BERBAGI
Gunung Merapi/Dok/Humas Pemkab Magelang/

MAGELANG, Warta Nasional – Berdasarkan pemantauan dan hasil evaluasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi dan berpotensi terjadi erupsi yang membahayakan penduduk.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu 3 Februari 2021 mengatakan, aktivitas Gunung Merapi telah naik menjadi siaga atau level III sejak 5 November 2020.

Peningkatan status ini dilakukan berdasarkan pemantauan dan hasil evaluasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), aktivitas vulkanik gunung telah berlanjut ke fase erupsi.

“Dua bulan setelahnya, yakni pada 4 Januari 2021 Merapi mengalami erupsi efusif yang ditandai dengan munculnya api diam di sekitar lava tahun 1997,” kata Eko

Dijelaskan Eko, Gunung Merapi memiliki jenis erupsi yang khas di antara gunung lainnya. Hingga kini data-data pemantauan juga masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi baik dari data kegempaan dan deformasi. Guguran yang terjadi sampai saat ini dilaporkan telah mencapai jarak maksimal 3,5 kilometer dari puncak.

“Oleh sebab itu erupsinya disebut sebagai tipe Merapi. Aktivitasnya dengan pertumbuhan kubah lava, kemudian terjadi guguran lava dan awan panas guguran,” jelas Eko.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan, pada 7 Januari 2021 awan panas pertama terjadi di Gunung Merapi. Hingga saat ini tercacat 95 kali terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur terjauh 3,5 km dari puncak Merapi. Jarak luncur ini masih dalam jarak rekomendasi bahaya yang ditetapkan BPPTKG PVMBG dan Badan Geologi yakni 5 km dari puncak.

Kemudian pada 27 Januari 2021 terjadi 42 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 3 km ke arah barat daya terutama ke hulu Kali Boyong dan Krasak yang mengakibatkan hujan abu vulkanik di sejumlah wilayah.

Hujan abu itu dinilai Eko merupakan hal yang wajar mengingat material halus produk erupsi dapat terbawa oleh angin. Meski demikian sehubungan dengan kejadian tersebut menunjukan aktivitas Merapi masih tinggi berupa guguran awan panas dan guguran lava.

Aktivitas seismik saat ini masih didominasi oleh kegempaan karena aktivitas guguran. Sedangkan laju deformasi cenderung landai.

Sementara itu, Eko juga mengingatkan agar masyarakat mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di puncak Gunung Merapi, mengingat dalam beberapa bulan ini hujan masih terjadi di wilayah Indonesia.

Badan Geologi melalui BPPTKG terus berupaya meningkatkan kemampuan mitigasi bahaya gunung Merapi baik melalui pemantauan penilaian bahaya penyebaran informasi dan sosialisasi aktivitas Gunung Merapi terkini.

“Untuk itu kami mengimbau bagi masyarakat di kawasan rawan bencana untuk mengikuti rekomendasi dari BPPTKG serta arahan dari BPBD dan pemerintah daerah setempat,” tegas Eko.