BERBAGI
Batam Aero Technic, Pusat Perawatan Pesawat Milik Lion Air Group
Batam Aero Technic, Pusat Perawatan Pesawat Milik Lion Air Group/Dok. Lion Air Group

BATAM, Warta Nasional – Batam Aero Technik (BAT) resmi beroperasi penuh setelah diresmikan pada Sabtu 12 Juni 2021. Batam Aero Technic akan menjadi pusat perawatan pesawat milik Lion Air Group.

BAT juga menjadi Kawasan Ekonomi Khusus di Batam, yang ditetapkan dalam eraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2021 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Batam Aero Technic.

Batam Aero Technic beroperasi pada 2014 merupakan perusahaan penyedia jasa perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintenance Repair and Overhaul (MRO), dikutip dari rilis resmi yang diterima.

Di dirikan dengan tujuan untuk merawat dan memperbaiki pesawat-pesawat yang dioperasikan oleh Lion Air Group seperti Lion Air, Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air, Thai Lion Air serta Angkasa Aviation Academy (sekolah pilot).

Capability yang dimiliki oleh Batam Aero Technic saat ini adalah perawatan Airbus 320, Boeing 737 series, Airbus A330, Hawker 800/ 900 XP, ATR 72 500/ 600.

Mampu memperkerjakan kurang lebih 2.000 personil (sumber daya manusia) dengan jumlah investasi yang sudah tertanam sekitar 1 triliun rupiah (Rp 1 triliun).

Fasilitas Hanggar Lengkap

Batam Aero Technic telah memiliki 4 (empat) unit hanggar perawatan pesawat dengan daya tampung 12 pesawat Boeing 737, Airbus 320.

1 (satu) unit hanggar untuk pembersihan permukaan cat pada badan pesawat (paint stripping) sebelum masuk proses pengecatan ulang (painting) dan perawatan pesawat. 1 (satu) unit hanggar untuk pengecatan dan perawatan pesawa.

1 (satu) gedung suku cadang seluas 4.000 m2, dan 1 (satu) unit gedung sarana perawatan komponen pesawat (workshop). Sarana perawatan dan perbaikan telah dibangun diatas lahan seluas 30 hektar (Ha) yang disediakan oleh Badan Pengusahaan Batam.

Logistik BAT mencakup gudang peralatan, komponen (tools and sparepart) untuk pekerjaan yang berkaitan pabrikasi (maintenance workshop), seperti cabin item: dapur pesawat (galley), toilet pesawat (lavatory), kompartemen bagasi kabin (headrack), furnishing (seat, coverseat, carpet, handrest) dan lainnya.

Kawasan industri BAT telah terbangun sejalan pada lahan tahap 1 dan 2 seluas 6 hektar (Ha). Saat ini dalam pembangunan tahap 3.

Pada pembangunan hanggar tahap 3, BAT berencana membangun 8 (delapan) unit hanggar yang dapat menampung 24 pesawat udara tipe Boeing 737 dan Airbus 320.

Delapan unit hanggar ini diharapkan dapat meningkatkan serapan perawatan pesawat secara nasional dan internasional, serta meminimalisir jumlah pekerjaan yang dikirim ke luar negeri.

Jadi Kawasan Ekonomi Eksklusif

Resmi menjadi Kawasan Ekonomi Eksklusif (KEK), BAT diresmikan oleh oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto; Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Hadir pula Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad; Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam sekaligus Walikota Batam, Muhammad Rudi; Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait; Direktur Utama Batam Aero Technic, I Nyoman Rai Pering Santaya.

BAT telah memenuhi kriteria dan kualifikasi KEK rencana bisnis yang mampu memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi nasional khususnya industri aviasi.

Nilai investasi Rp 7,29 triliun serta dapat menyerap tenaga kerja berkisar 9.976 orang pada 2030.

Kehadiran KEK ini diharapkan dapat menghemat devisa 65-70% dari kebutuhan MRO maskapai penerbangan nasional senilai Rp 26 triliun per tahun yang selama ini mengalir ke luar negeri.

Dalam jangka menengah diharapkan menangkap peluang dari pasar Asia Pasifik yang diprediksi memiliki rata-rata (kisaran) 12.000 unit pesawat udara dan nilai bisnis sebesar US$ 100 miliar pada 2025.

KEK BAT di Batam optimis mampu mendorong perseroan (Batam Aero Technic) terus meningkatkan utilisasi dan optimalisasi dari kapabilitas sejalan rancangan kerja berkelanjutan (master plan).

Harapan utama, dapat terwujud perawatan pesawat yang terintegrasi sehingga dapat menekan angka pekerjaan perawatan pesawat ke luar negeri. ***

Editor: Ambar Adi Winarso.