BERBAGI
( Foto: Ilustrasi)

PEKALONGAN, Warta Nasional – Terhitung sejak Januari hingga awal November 2020, hanya 25 orang yang berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Jumlah tersebut turun hingga 75% dari tahun 2020.

Hal ini diungkapkan Kepala Seksi Penempatan Kerja pada Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Kota Pekalongan, Heryu Purwanto, saat dikonfirmasi melalui via telepon, Selasa (17/11/2020) lalu.

“Jumlah PMI dari Januari-November ini ada 25 orang warga Kota Pekalongan yang ke luar negeri. Negara tujuannya yakni Malaysia, Hongkong, Arab Saudi, Singapura, dan Taiwan,” terang Heryu.

Disebutkan Heryu, tahun 2019 lalu tercatat jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berangkat ke luar negeri mencapai 101 orang. Penurunan jumlah tersebut merupakan dampak dari pandemi Covid-19. Pasalnya, sejak era adaptasi kebiasaan baru diterapkan, hanya 23 negara yang membuka diri untuk menerima PMI.

“Dari 25 PMI yang berangkat mayoritas ke Malaysia yakni sembilan orang. Selain itu, tujuan Hongkong sebanyak empat orang, Arab Saudi sebanyak satu orang, Singapura lima orang, dan Taiwan tiga orang. Sehingga  totalnya 22 orang dan tiga orang lainnya mandiri,” papar Heryu.

Dijelaskan Heryu, para PMI yang berangkat ke luar negeri tersebut bekerja di sektor formal, yakni sektor pertambangan, jasa konsultan, dan kapal. Namun, ada pula yang bekerja di sektor nonformal, yakni sebagai asisten rumah tangga.

“Dengan diperbolehkannya PMI berangkat ke luar negeri, layanan permohonan rekomendasi paspor di Dinperinaker dibuka kembali. Kendati demikian bagi masyarakat Kota Pekalongan yang ingin bekerja di luar negeri harap sesuai prosedur/legal agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” imbau Heryu.

Sebaliknya, lanjut Heryu, Tenaga Kerja Asing (TKA) yang berada di Kota Pekalongan berjumlah lima orang, dan semuanya berasal dari Korea Selatan.

Menurut Heryu, selain PMI yang berangkat, sebanyak 20 orang PMI tercatat pulang kembali ke Pekalongan dari beberapa negara. Mereka berjumlah 20 orang. Kepulangan mereka disebabkan oleh masa kontrak kerja telah selesai.

“Rata-rata mereka yang kemaren kontraknya habis akhir Desember 2019 telah dipulangkan pada Februari-Maret lalu,” pungkas Heryu. (WN)