BERBAGI
Penyair Komunitas Lima Gunung Haris Kertorahardjo (Lie Thian Hauw) membacakan puisi "Matematika Air Liur" diiringi tarian Lengger dalam pembukaan Festival Lima Gunung XIX/2020 bertema "Donga Slamet, Waspada Virus Dunia" di kawasan Gunung Sumbing, Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Minggu (9/8/2020). Foto: Antara.

MAGELANG, Warta Nasional – Gelar festival tahunan secara mandiri, Seniman petani Komunitas Lima Gunung Magelang turut serta kampanyekan penerapan protokol kesehatan guna pencegahan penyebaran covid-19.

Festival Lima Gunung XIX/2020 berlangsung di kawasan Gunung Sumbing, Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, sebagai salah satu basis komunitas seniman petani.

Pihak panitia mengelola festival menyebutkan, untuk menghindari kerumuman massa di tengah pandemi, para penampil pementasan dibatasi hanya sejumlah kelompok kesenian dusun setempat.

Baca Juga: Jateng Valley Diharapkan Jadi Oase bagi Wisatawan

Pembukaan festival ditandai dengan doa bersama para tokoh komunitas di makam cikal bakal Dusun Krandegan, Eyang Dipodrono, di lokasi dekat Sanggar Wargo Budoyo Sumbing, dilanjutkan dengan ziarah ke petilasan sosok spiritual dusun setempat Eyang Gadung Mlati dan tokoh yang disebut warga sebagai “Tledhek Buntung”.

Prosesi doa dihadiri para sesepuh warga setempat, tokoh utama komunitas, budayawan dan perintis Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut dan beberapa orang lainya.

“Selain ketua KLG, Supadi Haryanto. dihadiri beberapa orang juga seperti Sitras Anjilin, Riyadi, Sujono Keron, Haris Kertorahardjo, Ismanto, Endah Pertiwi, Pangadi dan Handoko,” kata Ketua Panitia FLG XIX/2020 yang juga salah satu petinggi Komunitas Lima Gunung, Juwahir Sarwo Edi Wibowo. Minggu (9/8).

Pementasan menampilkan gerak seni berjudul “Kebersamaan Indonesia Raya” di salah satu atap rumah warga, dengan adegan pengibarkan bendera Merah Putih oleh salah seorang seniman.

“Pementasan dilakukan diatas dak (cor semen, red) sejumlah rumah di kawasan itu dengan menampilkan berbagai kesenian. Seperti lengger, topeng ireng, beksa wanara arga, sendratari argo sumbing, kuda lumping, warok,” kata Ketua Panitia FLG XIX/2020 yang juga salah satu petinggi Komunitas Lima Gunung, Juwahir Sarwo Edi Wibowo. Minggu (9/8).

Patuhi Aturan
Warga setempat menonton pementasan dengan tidak mendekat di panggung utama, tetapi di atap dak dan teras rumah-rumah warga dengan mengenakan masker dan jaga jarak. Para anggota Banser dan Linmas desa setempat juga membantu penyelenggara festival untuk memastikan warga tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Itulah makanya pentasnya di ‘dak’ dan tersebar dengan jarak masing-masing kelompok antara seratus hingga dua ratus meter, tetapi iringan tetap dari panggung utama,” ujarnya.

Wibowo menambahkan, Para seniman petani komunitas memandang pentingnya festival tahunan tetap dilaksanakan di tengah pandemi, untuk turut mengampanyekan kewaspadaan terhadap penularan virus covid-19.

Festival dengan tema “Donga Slamet, Waspada Virus Dunia” tersebut tidak menghadirkan pementasan kelompok seniman dari luar daerah dan luar negeri akibat pandemi.

Sitras yang juga pemimpin Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor di kawasan Gunung Merapi mengatakan tentang pentingnya kesadaran warga terhadap penerapan protokol kesehatan di tengah pandemi.

“Sadar protokol kesehatan, semua tertib jaga jarak. Festival Lima Gunung menjadi contoh di berbagai tempat. Komunitas Lima Gunung tetap bisa mengadakan festival dengan tertib protokol kesehatan,” jelasnya.

Sitras menambahkan, dalam suasana pandemi orang-orang tidak sepantasnya mengeluh, tetapi harus mematuhi ketentuan pemerintah untuk mencegah penularan virus dan supaya aktivitas sehari-hari tetap lancar, sehat, dan selamat.

“Ada orang merasa aturan pemerintah (protokol kesehatan, red) merepotkan, tetapi justru itu sebenarnya menyelamatkan kita semua,” pungkasnya. (WN/Ant).

Editor: Dian Nafiatul