BERBAGI
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.(Foto: Humas Pemprov Jateng)

SEMARANG, Warta Nasional – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akhirnya mengukuhkan lima sekolah di Solo yang menerapkan model Adipangastuti, pada Kamis (17/12/2020).

Gubernur berharap model sekolah Adipangastuti ini tidak hanya diterapkan di Soloraya saja, melainkan dapat diterapkan di daerah lain sebagai bentuk pembelajaran toleransi dan pembentukan karakter anak sejak dini.

“Saya kukuhkan lima sekolah ini untuk menjadi contoh sekolah model Adipangastuti. Kalau bisa di daerah lain juga ada. Tidak harus sama konsepnya,” kata Ganjar saat pengukuhan sekolah Adipangastuti secara daring di Kantor Gubernur.

Sekolah Adipangastuti merupakan sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Hasthalaku dalam kegiatan program sekolah yang bisa diterapkan di dalam lingkungan masyarakat.

Hasthalaku adalah delapan nilai budaya Jawa yang meliputi gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak (ramah), lembah manah (rendah hati), ewuh pakewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), andhap ashor (berbudi luhur), dan tepa selira (tenggang rasa).

“Ini adalah kesempatan untuk membangun karakter anak-anak yang sejak dini harus terbiasa berbeda. Kalau hasthalaku ini diterapkan maka tidak akan ada lagi yang ‘gelut-gelutan‘,” kata Ganjar.

Menurut Ganjar, model sekolah Adipangastuti itu sangat efektif untuk mengajarkan toleransi dan kemanusiaan. Namun untuk mengukur efektivitas itu tidak serta merta bisa dilakukan. Harus ada keberlanjutan dalam menginternalisasi, memahami, melakukan, dan membudayakan konsep itu.

“Kalau semua orang sudah melakukan itu, baru dikatakan berhasil. Efektivitas harus dilakukan terus-menerus. Setiap orang pasti akan dipengaruhi oleh faktor dari luar, jadi kalau sudah belajar Hasthalaku akan tahu penerapan delapan nilai luhur itu sehingga perlu dilakukan secara kontinyu agar semua bisa menerapkan Hasthalaku dengan baik,” katanya.

Sementara untuk pengembangan di daerah lain tidak harus menggunakan konsep yang sama. Model Adipangastuti sangat bagus dan daerah lain harus bisa membuat konsep serupa yang sesuai dengan daerahnya.

“Konsep sebisa mungkin muncul dari bawah atau bottom up. Saya mendukung pengembangan ini, tetapi bukan dari saya karena kalau konsep muncul dari bawah maka nanti akan saling berbagi dan bertemu,” ungkapnya.