BERBAGI
Nurul Aini, Mahasiswi UIN Walisongo Semarang

Oleh : Nurul Aini

Saat ini musuh terbesar dunia adalah sesuatu yang tidak kasat mata bernama virus. Virus ini adalah Corona dengan nama trendnya virus Covid-19. Virus yang muncul pertama kali di kota Wuhan, Cina ini menyebar begitu cepatnya di seluruh antero dunia. Tercatat dalam worldometers jumlah kasus Covid-19 saat ini tembus 32 juta lebih  kasus dan lebih dari 940.000 orang meninggal.

Begitu pula negara kita Indonesia saat ini telah menjadi negara yang menempati posisi ke 3 di Asia dalam kasus penambahan pasien positif corona. Begitu mirisnya situasi saat ini, berbagai sektor menjadi kacau karena virus covid-19 ini. upaya demi upaya telah dilakukan untuk memutus tali persebaran covid-19.

Pemerintah Indonesia sejauh ini melakukan berbagai upaya dalam menangani kasus covid-19. Diantaranya di bidang ekonomi, pemerintah memberikan subsidi dan bantuan berupa sembako, uang, listrik gratis bagi yang terdampak covid-19. Di bidang kesehatan, pemerintah melalui mentri kesehatan melakukan tiga langkah pencegahan masuknya virus covid-19 yaitu dengan menerbitkan surat eddaran kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kab/Kota, Rs Rujukan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi covid-19. Di bidang transportasi, pemerintah telah membentuk dan mengaktifkan Tim Gerak Cepat (TGC) di wilayah otoritas pintu masuk negara di bandara/pelabuhan/Pos Lintas Batas Darat Negara. Tim ini bertugas untuk pengawasan alat angkut, orang, barang, dan lingkungan di pintu masuk negara.

Permasalahanya apakah semua itu efektif bagi masyarakat Indonesia. Jika saat ini masih ada saja masyarakat yang tidak taat protokol kesehatan yang berlaku yaitu harus menggunakan masker, mencuci tangan dengan rutin/ memakai handsinitizer, jaga jarak. Faktanya saat ini lalu lintas di jalan raya, di pasar, di mall dan masih banyak lagi, sangat ramai masyarakat yang beraktivitas. Lalu memungkinkan kah rantai persebaran covid-19 terputus jika masih seperti ini. Saat ini telah gencar-gencarnya peraturan baru dari pemerintah terkait penggunaan masker, pemerintah menerapkan denda atau sangsi bagi masyarakat yang tidak menggunakan masker. Dengan menerjunkan petugas-petugas seperti Polisi dan Satpol PP untuk melakukan razia masker.

Alasan demi alasan muncul kenapa masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Salah satu alasanya yaitu karena mereka ingin menyambung hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri walau dengan pengetatan keamanan/ Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) salah satunya peraturan untuk jaga jarak akan selalu terlanggar dikarenakan aktivitas masyarakat yang tak ada habisnya. Akan tetapi untuk ketidaktaatan lainya seperti tidak menggunakan masker masih banyak sekali masyarakat yang acuh ta acuh dalam menerapkanya.

Seharusnya pemerintah lebih ekstra dalam pengetatan pencegahan penyebaran virus covid-19 ini. razia harus dilakukan berkala dan rutin. Sementara untuk masyarakat, seharusnya memiliki kesadaran diri yang tinggi karena dampaknya akan berimbas pada diri sendiri atau pada orang lain jika tidak memiliki kesadaran untuk taat protokol kesehatan.

 

Penulis : Nurul Aini, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang