BERBAGI
Mahasiswa KKN Mandiri Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang mempelajari budi daya ikan lele/ Erika Lutfi Umarah

SEMARANG, Warta Nasional – Mahasiswa KKN Mandiri Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang mempelajari budi daya ikan lele, mulai dari proses perkawinan sampai penjualan benih lele yang terletak di Dusun Cemanggah Lor, Desa Branjang, Kecamatan Ungaran, Barat Kabupaten Semarang.

Mursyid pemilik Budi Daya ikan lele mengaku bahwa lele baru akhir akhir ini melejit pemasarannya, dari dulu penjualan lele sangat susah karna masyarakat beranggapan bahwa lele adalah ikan yang jorok tidak layak di konsumsi.

Namun saat perspsi masyarakayt yang seperti itu sudah musnah di dukung dengan kolam-kolam petani ikan lele sudah memenuhi standart budi daya ikan. Pengalaman Mursyid sebagai petani lele terhitung sudah lama, di mulai lulus sekolah pada Tahun 1997 sampai sekarang.

Awal mulanya kolam yang di tempati bukan saat ini ditempati, tetapi di dekat sawah sana. Di tempat tersebut ada 130 lubang dan tempat tersebut itu di kontrak , tetapi kontraknya sudah habis tidak bisa diperpanjang makanya kita pindah ketempat sekarang ini.  Disinipun juga kontrak 6 tahun, tempat ini bengkok lurah . 1 tahunnya 500 ribu. Tempat tersebut dulunya di milik kelompok yang terdiri dari 6 orang saat ini sudah fakum, sekarang berjalan sendiri-sendiri tapi tetap dibawah binaan dinas setempat.

Satu kali penjualan biasanya persatu minggu itu -/+ 30.000 bibit, kalau diuangkan itu mencapai 3-3,5 JT. Harga ini persatu paket A, B, dan C. Kalau paket A itu 10 ekor jantan 3 betina 7. Kalau yang paket B 15 ekor jantan 5 betina 10 harga sama 850.000, kalau sama sertivikasinya mungkin mencapai 1.000.000 an per paket.

Tergantu pembeli, mau ada sertifikasi atau tidak, karena ada ogkos sendiri-sendiri. Kalau saya pastinya minta dulu sertifikasinya terlebih dahulu, kalau sekarang sudah tidak butuh sertifikat karna yang penting buat saya yaitu kualitasnya.

“Saya biasanya ngambilnya yang paket A , paket A itu persilangan yang di dinas perikanan, persilangan itu kalau yang paket A itu aset penyilang, jadi kalau aset dari mahasiswa berarti itu aset mahasiswa mau dijual harga berapa terserah,” ujarnya.

Kalau yang paket B itu disebarluaskan diseluruh Indonesia itu yang buat pengecekan angka keberhasilan (uji coba). Sebelum ini kan disebarluaskan terlebih dahulu nanti baru mendapatkan sertifikasi dari kementrian di sahkan sama presiden.

Jadi yang paket B itu disebarluaskan kadang-kadang bantuan dikirim kemana hibah gitu. dan tidak bayar, Cuma kalau menununggu yang hibah itu nggak bayar itukan ada musimnya tidak sewaktu-waktu bisa masih menunggu konfirmasi dari dinas setempat, kalau menurut saya yang seperti itu kelamaan untuk nunggu-nunggu. Saya sekali ngambil minimal 4 paket.

Perkawinan satu pasang yaitu satu jantan satu betina dan ada juga yang satu jantan dua betina, Cuma kalau saya biasanya makainya yang satu jantan dan satu betina biar hasilnya lebih maksimal.

“Satu pasang biasanya menghasilkan kisaran 70.000 – 80.000  kalau betinanya bobot 1 kg kalau yang 2 kg bisa mencapai kisaran harga 150.000 – 200.000 , tapi biasa kalau sudah mencapai 2 kg saya kalau besar 17;30,” katanya.

Karena kalau terlalu besar biasanya matang telurnya lama jadi kadang-kadang banyak yang urung soalnya prosesnya lebih banyak itu terlurnya didalam butuh waktu .

jadi ngambilnya biasanya yang 1 kg dengan bobot 7on-9on itu malah bagus. Kalau udah 2 kg biasanya udah dilempar, proses perkawinan biasanya Sore biasanya naikkan terus lepas kekolam induk nanti malam itu baru kawin sekitar jam 01:00 – jam 03:00 dia akan pembuahan, pagi kalau ikannya terlalu capek biasanya jam 06:00 / 07:00 kadang-kadang ngambilnya dari jauh biasanya juga molor waktu perkawinannya kadang-kadang masih diambil sama pemijah lain nunggu pesanan juga nanti kalau sudah akhir induk baru diambil oleh pemijahnya.

Untuk persilangan sendiri sudah ada tesnya baik dari negeri maupun swasta ada tesnya minimal disebarkan keseluruh indonesia bisa mencapai 85% tingkat kehidupan dan bobot sudah mencapai batas yang sudah di tentukan. Pengambilan dari pusat masih calon induk bukan induk yang siap untuk di kawinkan masih nunggu 3-4 bulan baru bisa kawin, setelah berhasil disini, di uji kriteria lulus uji coba disini dalam 2 bulan setengah sudah bisa panen 50% standartnya jika dalam waktu 2 bulan setengah belum bisa panen dengan perawatan yang cukup berarti gagal dan bibit yang di hasilkan tidak subur.

Dijual pada kelompok tani ikan tetapi tani ikan yang masih ada pembinaan dari dinas perikanan. Misalkan mau mengajuan bantuan itu dari dinas, dari kelompok minimal 9 orang dan pegang sertivikasi kelompok, kalau tidak ada sertivikasinya itu tidak sah dan tidak bisa mengajukan pengajuan bantuan. Kalau saya tidak memakai sertifikat, karena dari dulu saya sudah berdiri sendiri (membuat usaha sendiri) cuma saya menyuplai setiap kelompok ikan-ikan yang dibawah naungan dinas , Cuma saya itu dekat dengan dinas-dinas dan sudah punya jaringannya sampai pusat pun juga sudah ada.

“Terhitung dari telur sampai 5 minggu baru bisa masuk ideal siap jual kepetani lele sebenarnya meskipun tidak mencapai 5 minggu pun sudah bisa di jual namun rentan sakit karna bibit belum tua, untuk perawatan bibit yang masih kecil hanya dikasik makan cacing sutra. Benih sendiri peminat beli bibit lele banyak sekarang biasanya penjualan bibit langsung kepetani atau kelompok kelompok besar sekali jual bisa mencapi 30 rb ekor perminggu. Induk lele ngambil dari subang,bogor dan mojokerto, karna bibit ini resmi yang sudah masuk standar indonesia atau lulus uji coba dari dinas perikanan dan kelautan,” pungkasnya. (WN)