• Minggu, 3 Juli 2022

Lumpia Cik Meme, Kuliner Legendaris Generasi Kelima Lumpia Asli Semarang

- Jumat, 14 Mei 2021 | 16:26 WIB
IMG-20190927-WA0137
IMG-20190927-WA0137

SEMARANG, Warta Nasional - Lumpia Cik Meme merupakan kuliner legendaris dari generasi keenam lumpia asli Semarang.

Kuliner legendaris lumpia itu masih ada, tak termakan oleh jaman. Justru makin eksis sesusi perkembangan dari generasi ke generasi.

Lumpia atau juga disebut lunpia, sebuah penganan tradisional yang terbuat dari bahan dasar campuran rebung, telur, sayuran segar, daging, dan makanan laut.

Kemudian digulung dalam adonan tepung gandum sebagai kulit pembungkusnya.

Kuliner itu masih menjadi magnet utama diburu sebagai oleh-oleh para masyrakat lokal Semarang atau wisatawan yang singgah di Kota Atlas.

Terutama para wisatwan luar kota yang wajib untuk buah tangan dibawa pulang ke daerah asalnya.

Mendapatkan satu potong lumpia pun tak akan sulit, pada tiap ruas jalan di Kota Semarang akan mudah untuk diburu atau cukup mendatangi pusat kuliner.
Sejarah Lumpia Asli Semarang

Namun, tahukan Anda, untuk menikmati lezatnya lumpia asli Semarang yang langsung dari pewarisnya?

Pastinya tak mau terlewatkan, apalagi sudah jauh-jauh datang ke Semarang tapi hanya sebatas menikmati lunpia kebanyakan yang ada. Bukan dari olahan langsung sang pewaris maestro lunpia asli Semarang.

Semua ada di Lumpia Cik Meme, pewaris genarasi kelima lumpia asli Semarang yang makin eksis.

Sebelumnya mari kita tilik sejarah panjang kudapan yang pas dinikmati pada sore hari dengan segelas teh hangat ini.

Bahwa dalam perkembangan sejarahnya, lunpia di Semarang tak bisa lepas dari peranan pasangan suami istri Tionghoa - Jawa, Tjoa Thay Yoe dan Mbok Wasi.

Pada awalnya sebagai penjual lumpia keliling di pelosok gang-gang Kota Semarang. Mereka berdua merupakan penjual lumpia dengan ciri khasnya masing-masing kala itu.
Generasi Kelima Lumpia Semarang

Saat ini, pewaris lumpia Semarang generasi kelima Meilani Sugiarto atau kerap disapa Cik Meme menceritakan, awalnya sang moyang Tjoa Thay Yoe yang asli Cina dari Provinsi Fu Kien datang ke Semarang sekitar tahun 1800.

Dia memulai membuka usaha dagang makanan khas China, sejenis martabak berisi rebung dan dicampur daging babi yang digulung dengan rasa asin.

Jualannya laris manis digemari masyrakat keturunan Tionghoa dan Semarang.

Di saat bersamaan, Mbok Wasi pedagang asli Semarang menjual mirip martabak milik Tjoa Thay Yoe, bedanya martabak Mbok Wasih diisi dengan campuran daging ayam cincang, udang dan telur dengan rasa manis.

“Keduanya berdagang keliling dari gang ke gang di Kota Semarang tahun 1850 an, walau bersaing dalam berdagang tapi secara sehat,” kata Cik Meme.

Hingga akhirnya, tahun 1870 kedua pedagang itu menikah, mereka lalu menciptakan jajanan khas Semarang menggabungkan akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa pada racikan lumpianya.

Mereka berdua lalu menghilangkan isian daging babi dengan daging ayam dan telur.

“Ada perpaduan yang awalnya hanya berisi potongan rebung kemudian ditambahkan juga telur ayam serta bumbu rempah lainnya agar rasanya semakin nikmat," katanya.
Resep Asli Lumpia Semarang

Hingga terciptalah lumpia dengan rasa istimewa khas Semarang yang memadukan rasa gurih, asin, dan manis.

Sepeninggal Tjoa Thay Joe, resep lumpia khas Semarang diwariskan kepada putranya yaitu Siem Gwan Sing sebagai generasi kedua yang menikah dengan Tjoa Po Nio pada tahun 1930.

Lumpia mulai menjadi primadona pada saat itu, baik oleh para kolonial Belanda maupun penduduk pribumi.

Lumpia kembali diturunkan ke generasi ketiga, yakni tiga anak dari generasi kedua (Siem Gwan Sing & Tjoa Po Nio).

Ketiganya yang saat ini masih eksis seperti Siem Swie Nie, yang lebih dikenal dengan nama Lunpia Mbak Lien, ada di di Jalan Pemuda Semarang. Anak kedua Siem Swie Kiem, dengan lumpia yang dijualnya di Gang Lombok (Pecinan) atau Lunpia gang Lombok. Dan anak ketiga Siem Hwa Nio dikenal dengan Lunpia Mataram.

Ketiganya masih eksis hingga sekarang di lokasi masing-masing.

Cik Meme sendiri sebagai generasi kelima dari ayahnya, Tan Yok Tjay, dari generasi keempat.

Tan Yok Tjay dikenal julukan sebagai master chef lumpia Mataram karena dedikasinya melanjutkan perjuangan keluarganya untuk melestarikan lumpia.
Lumpia Cik Meme Enam Rasa

Saat ini Lumpia olahan Cik Meme atau Meilani Sugiarto, ada di Jalan Gajahmada Nomor 107 Semarang dinamai awalnya Lumpia Delight lalu berganti jadi Lumpia Cik Meme.

Lokasi itu juga gerai tokonya sekaligus kafe yang selalu ramai pengunjung.

Lunpia Cik Meme memberikan varian enam rasa dari lunpia original sebagai modifikasi kuliner tradisional yang kekinian.

“Ada enam rasa varian, saya memodifikasi agar menambah nilai cita rasa lunpia,” katanya.

Kreasi enam varian rasa itu diantaranya Lumpia Raja Nusantara dengan rasa jamur dan kacang mete, Lumpia Kajamu berisi daging kambing jantan muda, Lumpia Fish Kakap dengan campuran daging ikan kakap, Lumpia Crab isian daging kepiting. Keempatnya dengan harga Rp 25.000 per biji.

Ada juga Lumpia Original dengan campuran rebung, udang, ayam dengan harga Rp 18.000 per biji, serta lumpia khusus bagi vegetarian disebut Lumpia Plain diharga Rp 13.000 per biji.

Sajian lumpia enam rasa itu tersedia dalam dua jenis ada lumpia basah dan lumpia goreng.

Bisa dimakan ditempat dengan tersedia kursi dan meja ala kafe yang cozy atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh. ***
Editor: Ambar Adi Winarso

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Resep Kastangel Keju; Renyah, dan Lumer di Mulut

Jumat, 15 April 2022 | 05:24 WIB

Menu Sahur Sehat, Tak Mudah Lapar Simak di Sini

Kamis, 7 April 2022 | 03:25 WIB

Menu Takjil Favorit: Olahan Pisang Enak dan Simple

Selasa, 5 April 2022 | 02:46 WIB

Resep Membuat Seblak Sederhana, Mudah dan Enak!

Sabtu, 12 Maret 2022 | 07:07 WIB
X