BERBAGI
Masjid musala boleh gelar tarawih
Ketua MUI Semarang Moh. Erfan Soebahar dan perwakilan Kemenag Semarang Muhdi Z menyatakan masjid dan musala boleh gelar salat tarawih Ramadan tahun ini/Ambar Adi Winarso-Warta Nasional

SEMARANG, Warta Nasional – Masjid musala boleh gelar ibadah salat tarawih Ramadan tahun ini meski masih dalam masa pendemi Covid-19.

MUI Kota Semarang menyatakan jika Ramadan tahun ini berbeda kebijakan dengan tahun lalu, fatwa tahun ini boleh gelar ibadah salat tarawih di masjid dan musala.

Meski demikian, ketentuan ketat tetap berlaku yakni dalam menggelar salat tarawih di tempat wajib menerapkan protokol kesehatan.

Kebijakan ini telah melalui fatwa MUI yang membolehkan setiap masjid dan musala untuk gelar salat tarawih pada Ramadan tahun ini.

“Ada fatwa menyiapkan tarawih bisa diadakan di masjid tentunya juga di musala,” kata Ketua MUI Kota Semarang Moh. Erfan Soebahar, Kamis 8 April 2021.

Erfan menekankan, meski ada kelonggaran salat tarwih tiap jamaah harus mengindahkan protokol kesehatan. Seperti berjarak yang wajar saat barisan salat, wajib mencuci tangan, dan memakai masker.

Hal tersebut sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 sehingga ibadah puasa Ramadan berjalan denan aman dan selamat dunua akhirat.

“Tahun lalu kita sudah taat, dan sekarang silakan bahkan DMI boleh tarawih asal dengan protokol kesehatan,” katanya.

Pembatasan Kapasitas 

Sementara itu, perwakilan Kementerian Agama (Kemenag) Semarang Muhdi Z, menekankan tetap akan ada pembatasan jamaah secara wajar dalam rangkaian ibadah salat tarawih.

Seperti pembatasan jamaah salat tarawih wajib hanya menampung maksimal 50 persen dari kapasitas masjid dan musala.

Termasukk pembatasan tidak untuk menggelar ceramah saat salat tarawih.

“Mengacu pada surat edaran kemenag, intinya boleh ibadah salat tarawih dengan maksimal 50 persen dari kapasitas,” katanya.

Sementara untuk kultum yang biasanya ada pada saat jelang buka puasa atau setelah salat subuh akan ada pembatasan durasi, tidak boleh lebih dari 15 menit.

Terkait ibadah lainnya seperti inap di masjid pada 10 hari terakhir Ramadan tetap boleh namun juga harus menerapkan protokol kesehatan dan tidak berkumpul-kumpul.

“Untuk Nuzulul Quran boleh namun jangan berkerumun dan wajib prokes, tapi lebih baik bisa secara virtual,” pungkasnya. ***

Editor: Ambar Adi Winarso