BERBAGI
Khafidhotul Umami Anggota KKN MDR Madukara IPMAFA

Oleh : Khafidhotul Umami

Santri menjadi salah satu komponen masyarakat yang mempunyai peranan penting dalam mengawal moderasi  beragama di Indonesia. Hal ini didasarkan pada sikap wasathiyah (di tengah-tengah) yang menjadi prinsip hidup para santri. Dari sikap wasathiyah tersebut, seorang santri akan memiliki sikap moderat; tidak ekstrim kanan atau kiri. Sehingga para santri dapat menyikapi keberagaman di Indonesia dengan lebih bijaksana.

Pada dasarnya, konsep wasathiyyah yang dipelajari santri di pesantren terdiri dari beberapa matra, yaitu prinsip dalam aqidah (keyakinan), akhlak (etika), dakwah (syi’ar agama) dan ibadah (dalam pelaksanaan hukum dan ritual keagamaan). Al Wasathiyyah sendiri memiliki arti tengah; sebuah sikap netral yang tidak fanatic ke kanan maupun ke kiri.

Sikap al-wasathiyyah tersebut penting diaplikasikan karena selain adanya hubungan pribadi dengan Tuhan (hablum minallah), manusia juga mempunyai hubungan pribadi dengan sesama manusia (hablum minannas). Dari konsep ini dapat dilihat bahwa Islam menjadikan hubungan bermasyarakat merupakan sebuah keharusan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita berbicara mengenai santri, pasti akan lekat dengan adanya pesantren. Pesantren  merupakan salah satu bentuk pendidikan keagamaan yang mendapat perhatian khusus di Indonesia, yang mana dari rahim pesantren lahir alim ulama’ yang berpengetahuan luas dalam ilmu agama.

Hal ini di karenakan pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan hukum-hukum keislaman saja. Akan tetapi memiliki andil yang besar dalam mendidik akhlak para santrinya, baik akhlak terhadap sesama manusia maupun akhlak terhadap alam semesta.

Sudah terkenal sejak dulu bahwa pesantren merupakan institusi yang moderat, bahkan memiliki cara pandang tersendiri dalam mengartikan moderasi beragama. Tidak hanya itu, di Pesantren juga mendidik dan mengajarkan tentang konsep Tawassuth, (sikap tengah-tengah), Tawazzun (seimbang), Tasammuh (toleransi) dan I’tidal (lurus). Hal ini menjadikan pesantren dengan intens menyebarkan budaya damai kepada santri-santrinya maupun masyarakat luas.

Dalam konteks menciptakan perdamaian dan toleransi antar umat beragama tentunya menuntut andil dari semua pihak, terutama dari tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sama halnya dengan pesantren, sosok seorang kiai sangatlah penting  dan berpengaruh kepada santri-santri nya. Dimana beliau para kiai dijadikan sebagai suri tauladan dalam segala hal, mulai dari perilaku, pernyataan dan himbauan dalam kehidupan mereka.

Dengan begitu, figure kiai sangat berpengaruh signifikan dalam mendidik dan mensosialisasikan pentingnya moderasi beragama dan mensyiarkan konsep moderasi tersebut demi tujuan menggaungkan wajah islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dengungan moderasi beragama yang diserukan oleh banyak kalangan dan pemerintah idealnya bukan hanya sebatas konsep dan wacana saja, akan tetapi wajib diimplementasikan pada tatanan kehidupan.

Para santri sebagai generasi penerus bangsa telah memiliki konsep dan dasar teoritis yang kokoh dalam moderasi agama. Kini tiba saatnya para santri menggaungkan moderasi agama tersebut ke tengah publik dan menularkan sikap moderat sebagai jalan menyikapi keberagaman di Indonesia.

– Khafidhotul Umami Anggota KKN MDR Madukara IPMAFA