BERBAGI
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen minta potensi keuangan sysariah digali salah satunya pada haji dan masjid/Ambar Adi Winarso-Dok

SEMARANG, Warta Nasional – Minat masyarakat pada keuangan syariah masih rendah. hal ini terlihat dari data survei OJK akan literasi dan inklusi keuangan syariah.

Hal itu diungkap dalam Webinar Edukasi Keuangan Syariah Gebyar Ramadhan Nusantara, serentak di Kantor Pusat, Kantor Regional dan Kantor OJK di seluruh Indonesia, Kamis 29 April 2021.

Karenanya, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen meminta bidik potensi pasar keuangan syariah lainnya, seperti pada haji dan masjid.

Di ketahui angka literasi keuangan secara nasional saat ini menurut data survei OJK ada 38,03 persen, namun tingkat literasi keungan syariah hanya menyumbang 8,93 persen.

Data literasi keuangan syariah tersebut naik sedikit dengan perbandingan dari tahun 2016 yang hanya ada di angka 8,10 persen saja.

Untuk data inklusi keuangan nasional ada 76,19 persen, dan ada 9,10 persen oleh inklusi keuangan syariah.

Angka inklusi keuangan syariah tersebut menurun jika membandingkan dengan data sejak tahun 2016 yang mencatat 11,10 persen.

Meski demikian, angka literasi dan inklusi keuangan syariah di Jateng lebih baik dibanding angka nasional.

Di Jateng sendiri tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah masing-masing sebesar 11,78 persen dan 12,57 persen.

“Jawa Tengah memiliki potensi ekonomi syariah yang sangat tinggi,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang menjadi salah satu narasumber.

Bidik Potensi Haji dan Masjid

Potensi literasi dan inklusi Jateng menurut Taj Yasin ada pada jamaah haji dan masjid musala yang bisa lakukan pemberdayaan.

Taj Yasin menyebut jika ada jumlah jamaah yang mendaftar haji pada tahun 2020 mencapai 46.786 jamaah haji reguler dan 599 jamaah haji khusus.

Sementara untuk jumlah masjid dan musala cukup banyak masing-masing mencapai 45.482 masjid dan 78.028 mushola.

Potensi tersebut bisa gali agar lebih meningkat seiring dengan Jateng yang pernah menyandang penghargaan Indonesia Muslim Travel Index (MTI) sebagai Destinasi Wisata Halal Unggulan 2019.

Termasuk sebagai upaya terhadap pengembangan dan penguatan produk dan layanan syariah dalam rangka percepatan pemulihan pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.

Sementara itu, Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY, Aman Santosa menyampaikan tantangan pengembangan industri keuangan syariah yaitu rendahnya literasi dan inklusi keuangan syariah.

“Sektor keuangan syariah semua kalangan harus merasakan manfaatnya, tidak eksklusif untuk kalangan tertentu, namun lebih universal,” katanya.

Aman Santosa menyebut, sektor keungan syariah harus punya keunggulan produk dan pricing yang lebih kompetitif.

Selain itu harus seimbang dengan penggunaan teknologi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh nasabah.

“Hal ini akan mengakselerasi penetrasi pasar ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia khususnya di Jawa Tengah,” kata Aman Santosa.

Berikut potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia juga terlihat dari beberapa apresiasi dunia internasional yaitu :

a. Peringkat ke-2 secara global sebagai “The Most Developed Countries in Islamic Finance” oleh Refinitiv Islamic Finance Development Report 2020.

b. Peringkat ke-4 global untuk sektor ekonomi syariah dan peringkat ke-6 untuk keuangan syariah oleh Global Islamic Economy Indicator 2020/2021.

c. Destinasi Wisata Halal Terbaik di dunia oleh Global Moslem Travel Index 2019.***

Editor: Ambar Adi Winarso