BERBAGI
Firman Hardianto, Mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Islam Negeri Walisongo dan Mahasantri Pondok Pesantren Bina Insani (Dok. Pribadi/WN)

Oleh : Firman Hardianto*

Hingga hari ini, secara umum pandemi covid-19 masih belum dapat diselesaikan. Meski berbagai kegiatan telah dialih-pindahkan untuk dilaksanakan secara online, angka persebaran covid-19 masih tetap cenderung meningkat. Provinsi Jawa Tengah menempati urutan pertama dengan jumlah penambahan kasus positif terbanyak sebesar 6.267 kasus dan diikuti oleh provinsi DKI Jakarta sebagai terbanyak kedua dengan 1.431 kasus (news.detik.com, 2020).

Berkaitan dengan keadaan tersebut, dunia pendidikan dihadapkan pada situasi yang cukup menyulitkan dengan keharusan melaksanakan pembelajaran melalui media daring. Pembelajaran daring dilakukan dengan mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Namun hingga hari ini, belum ada kejelasan terkait kapan pembelajaran normal akan kembali dilaksanakan. Hal tersebut

Data yang diperoleh dari penelitian Dian Ratu (2020) pada 100 mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Semarang menunjukkan bahwa 82% mendukung pembelajaran berbasis tuweb. Tuweb sendiri diartikan sebagai kegiatan pembelajaran bersifat sinkronik dengan memanfaatkan teknologi web. Namun, masih banyak masalah yang dirasakan oleh mahasiswa terkait pembelajaran daring.

Masalah Pembelajaran Daring

Secara umum pembelajaran daring masih membingungkan mahasiswa. Mahasiswa dibebani tugas yang banyak tanpa adanya materi yang cukup sehingga membuat kewalahan saat mengikuti proses pembelajaran daring. Kebingungan mahasiswa juga disebabkan karena penggunaan aplikasi pembelajaran yang tidak tetap atau selalu berganti-ganti mulai dari whatsapp, elearning, zoom, classroom, dan lain-lain. Hal itu mengindikasikan bahwa adaptasi pembelajaran daring masih belum dapat dikatakan stabil karena menimbulkan kebingungan bagi mahasiswa.

Pembelajaran daring menyebabkan mahasiswa mengalami stress. Hal itu muncul karena adanya perasaan takut akan tertular covid-19. Dalam keadaan takut itu mahasiswa juga mengalami kebosanan karena harus selalu melakukan physical distancing. Imbasnya mahasiswa kesulitan dalam memahami materi perkuliahan yang disampaikan secara daring.

Tentunya permasalahan tersebut juga dialami oleh tingkat pendidikan dasar dan menengah. Bahkan bisa saja lebih berat karena siswa pendidikan dasar dan menengah sangat membutuhkan bimbingan intensif dari pendidik.

Agus Sartono, Kementerian Koordinator Pembangun Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyebutkan bahwa pembelajaran daring dapat menimbulkan potensi angka putus sekolah yang tinggi, kesenjangan capaian belajar terutama pada anak-anak dari sosioekonomi yang berbeda, serta stress karena beban pembelajaran daring (news.detik.com, 2020).

Sistem Pendidikan Pesantren

Dengan berbagai permasalahan yang hadir dari pembelajaran daring, maka sistem kependidikan tak hanya dapat bergantung pada pembelajaran daring. Dunia pendidikan perlu menyiapkan solusi alternatif untuk menjembatani kesulitan yang ada di tengah dunia pendidikan, terutama berkaitan dengan usaha untuk pelaksanaan pembelajaran normal.

Sebenarnya dalam sejarah kependidikan Islam telah ada sistem yang baik untuk penanganan penyebaran pandemi sekaligus tetap dapat melaksanakan pembelajaran secara normal. Sistem pendidikan itu adalah pendidikan berbasis pesantren. Pendidikan pesantren masih tetap eksis hingga hari ini, bahkan perkembangannya cukup pesat dengan adanya berbagai pesantren modern yang tak hanya mempelajari ilmu keagamaan tetapi juga memiliki perhatian pada pembelajaran berbasis teknologi.

Dalam tata kelola pesantren, santri diharuskan menginap di lingkungan pesantren selama masa pembelajaran. Selain itu kebutuhan penginapan di pesantren telah terjamin karena lingkungan pesantren cukup terpisah dari lingkungan masyarakat secara umum. Artinya santri mendapatkan pembelajaran normal dan terjaga dari penularan covid-19. Tentunya jika solusi alternatif pendidikan pesantren ini dapat diterapkan juga di sekolah umum, maka peserta didik bisa mendapatkan pembelajaran normal dan terhindar dari penularan covid-19.

 

– Firman Hardianto, Mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Islam Negeri Walisongo dan Mahasantri Pondok Pesantren Bina Insani