BERBAGI
Gubernur DIY saat memimpin Rapat Koordinasi Perkembangan Penanganan Covid-19 bersama bupati/walikota dan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota di Gedung Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Minggu (17/1/2021). (Foto: Humas Pemprov DIY)

Warta Nasional – Gubernur DIY mendorong adanya penambahan bed di Rumah Sakit untuk melayani pasien covid.

Hal tersebut disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memimpin Rapat Koordinasi Perkembangan Penanganan Covid-19 bersama bupati/walikota dan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota di Gedung Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Minggu (17/1/2021).

“Penambahan bed rumah sakit ini diprioritaskan untuk pasien dengan kriteria sedang-berat dan berat,” tegas Gubernur.

Selain mendorong penambahan bed di rumah sakit, Gubernur DIY juga mendorong pemerintah di kabupaten/kota untuk menggerakkan adanya shelter yang dapat memfasilitasi pasien ringan maupun OTG.

Harapannya, dapat mengurangi penuhnya bed di rumah sakit. Gubernur DIY menambahkan agar kabupaten/kota mampu memaksimalkan tempat untuk isolasi mandiri dengan mengupayakan melalui anggaran darurat yang dimiliki.

Direktur RSUP dr. Sardjito Rukmono Siswishanto menjelaskan dari 6-8 pasien terindikasi covid-19 di IGD, tidak semua perlu dirawat di RS karena kondisinya ringan atau tidak bergejala.

“Jadi bukan tidak bisa terima pasien, tapi bed diprioritaskan untuk pasien kondisi berat dan critical,” jelas Sardjito.

Pihaknya juga telah menggunakan SISRUTE yakni Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi yang terkoordinasikan dengan seluruh rumah sakit dalam konteks pelayanan covid maupun non covid, sehingga lebih mudah dan cepat dalam menangani pasien. Terutama untuk pasien ibu bersalin maupun emergency yang memerlukan operasi.

Ia menambahkan RSUP dr. Sardjito memiliki 75 ruang dengan 27 bed covid pasien kritis/ICU yang akan dieskalasi menjadi 200-300 dengan konversi ruangan.

Upaya ini akan dimulai bertahap dari Senin dengan
menambah menjadi 150 bed dan akan ditingkatkan dua minggu kemudian menjadi 300 bed. Selain penambahan bed, tambahnya, problem yang dihadapi RS adalah ketersediaan SDM.

Senada dengan hal tersebut, RSUP Hardjolukito juga sudah memaksimalkan ruangan untuk pelayanan covid dengan membangun ruangan khusus isolasi sebanyak 40 bed, namun jumlah perawat untuk layanan tersebut belum memadai.

Dekan FKKMK UGM Prof. Ova Emilia menambahkan keberadaan shelter berfungsi penyangga yang perlu berkomunikasi intens dengan rumah sakit agar dapat membantu jika ada pasien dengan kondisi menurun untuk dapat dirujuk ke rumah sakit.

“Kami harap ke depan, ada rumah sakit khusus untuk covid dengan penyediaan logistik dan SDM yang memadai,” tambah Ova Emilia.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji juga menambahkan seusai rapat, pemerintah daerah meminta kabupaten dan kota untuk segera koordinasi dengan rumah sakit setempat untuk penambahan bed dan pembangunan shelter.